Apakah penggunaan media sosial yang diatur privat, betul-betul privat? Tanpa disadari, privat pada penggunaan media sosial tidak lagi terbatas hanya untuk diri pribadi. Arti privat menjadi lebih luas yaitu terbatas sesuai jaring pertemanan yang diinginkan. Lahir sebagai salah satu produk teknologi, media sosial menawarkan ruang-ruang virtual untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan mudah dan interaktif. 

Hal inilah yang menjadi alasan mengapa media sosial menjadi alat penghubung antar sesama penggunanya. Hubungan para pengguna media sosial dibangun tidak hanya berdasarkan keintiman koneksi yang dimiliki tapi juga kesamaan kebutuhan. Sehingga dalam perkembangannya media sosial menjadi pilihan banyak kalangan termasuk orang tua untuk berbagi informasi penting yang dimilikinya.

Keunggulan fitur-fitur yang dimiliki media sosial juga terbukti mampu membuat tampilan informasi dalam format foto dan video menjadi lebih artistik dan menarik. Sehingga bagi banyak orang tua, media sosial seperti Facebook dan Instagram tidak hanya sebagai sumber informasi tapi juga sebagai alat fotografi dan galeri digital. 

Aktivitas mendokumentasikan momen-momen berharga dan penting dengan anak-anak tercinta kini tidak lagi sulit. Melalui fitur-fitur instan yang dimiliki Facebook dan Instagram, memproduksi serta mengedit foto atau video dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun. Keunggulan inilah yang mendorong banyak orang tua membuat akun media sosial anaknya sejak dini. 

Rasa bahagia dan bangga menjadi orang tua juga menjadi alasan mengapa berbagi konten anak atau parenting menjadi kebutuhan aktualisasi untuk tetap terhubung dengan jaring pertemanannya. Fenomena ini tidak hanya dijumpai di kalangan tertentu seperti public figure atau pesohor saja tetapi juga pengguna media sosial pada umumnya. 

Membagikan informasi tentang anak secara daring dikenal dengan istilah Sharenting yang berasal dari kata sharing dan parenting. Istilah Sharenting pertama kali muncul dalam artikel milik Wall Street Journal pada tahun 2012. Sharenting digunakan untuk mendeskripsikan perilaku para orang tua yang gemar membagikan informasi tentang anaknya secara daring. 

Penelitian mengungkapkan bahwa Sharenting sebenarnya bertujuan agar para orang tua mendapatkan afirmasi, saran, serta umpan balik tentang cara mengasuh anak. Melalui sharenting para orang tua juga saling terhubung untuk berbagai informasi tentang pola asuh anak. Dan hal ini penting khususnya bagi orang tua dengan anak-anak berkebutuhan khusus. 

Namun aktivitas media sosial masih saja menyisakan sisi gelap ketidakamanan berbagi informasi. Dampak dan risiko terkait data digital anak yang dibagikan orang tua melalui media sosial masih membuka celah dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab oleh oknum-oknum jahat. Dan ini bertentangan dengan tujuan awal dari aktivitas sharenting.

Mengutip Forbes, ahli etika teknologi Jessica Barron menyebutkan bahwa foto atau video yang dibagikan di media sosial berpotensi menimbulkan komentar-komentar negatif, diskriminasi hingga pelanggaran privasi pada anak. Sedangkan pakar media University of Tartu, Estonia, Prof. Andra Siibak mengingatkan orang tua akan risiko tindak kejahatan yang mungkin muncul dari “pengambilan” gambar atau data anak tanpa izin (pencurian) untuk hal-hal yang lebih kejam seperti penipuan, pemerasan dan penculikan.

Agar terhindar dari dampak negatif atau risiko sharenting yang mungkin muncul, tentunya sebagai orang tua kita harus selalu bijaksana dan waspada. Agar data digital anak aman, berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan ketika kita hendak membagikan informasi, foto atau video anak secara daring.

  1. Jenis foto atau video anak yang tidak boleh dipublikasikan adalah semua aktivitas yang bersifat personal atau privat. Seperti kegiatan anak sedang mandi, telanjang tanpa busana, saat anak terluka atau dokumentasi yang dapat mempermalukan anak atau konten rawan di-bully (perundungan).
  2. Selalu jaga kerahasiaan data pribadi dengan mematikan fitur geotag pada smartphone. Jangan pernah mencantumkan biodata lengkap seperti nama, alamat rumah, nama sekolah atau identitas penting anak lainnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko pencurian data anak hingga penculikan.
  3. Atur fitur privasi yang disediakan pada masing-masing media sosial untuk membatasi siapa saja yang boleh melihat unggahan kita. Lakukan agar foto atau video anak yang dibagikan hanya dapat diakses oleh siapa saja yang kita izinkan, sehingga kita bisa mencari jejak jika ada yang menyalahgunakan data tersebut.
  4. Ada baiknya selalu mencantumkan watermark pada foto atau video yang akan diunggah di media sosial. Hal ini penting dilakukan guna menghindari penyalahgunaan foto dan video tersebut. Saat ini, sudah banyak aplikasi watermark yang bisa diakses secara gratis.
  5. Jangan lupa selalu meminta izin kepada orang tua lainnya apabila kita hendak mengunggah foto anak ketika bersama kawan-kawannya. Karena mungkin saja ada orang tua yang tidak berkenan atau senang dokumentasi anaknya dibagikan secara daring.
  6. Tidak mudah terpancing untuk merespon apabila ada yang menanyakan informasi foto atau video yang diunggah. Khususnya data identitas anak dan alamat.
  7. Penting diperhatikan, jangan terlibat atau selalu hindari komentar-komentar yang bernada perundungan. Ingatlah jejak digital selalu terekam dan tidak mudah hilang.