Pemerhati sastra Hindia Belanda, terutama dengan pisau bedah postkolonial, cukuplah terbatas jumlahnya. Salah satunya adalah Amalia Putri Astari dari Universitas Indonesia. 

Beliau cukup jeli menggunakan pisau bedah postkolonial dengan dukungan kedisiplinannya menimbah ilmu di negeri Belanda untuk membedah nilai-nilai intrinsik kanon Hindia Belanda.

Amalia Putri Astari, saat menjadi mahasiswi di Fakultas Ilmu Budaya Program Studi Belanda, Universitas Indonesia, pernah bergelut di UKM Jurnalistik Kampus sebagai seorang reporter. 

Mbak dosen ini juga pernah mencoba untuk menyukai isu-isu politik. Namun gagal, dan berakhir dengan menenggelamkan diri di rak-rak buku filsafat, sastra, dan bahasa.

Ketajaman sastranya kembali di asa di negeri Belanda dengan melanjutkan studinya di Universitas Leiden, Belanda, juga di University of Cologne, Jerman. 

Beliau juga fokus pada penelitian buku-buku ajar yang paling banyak digunakan di Sekolah Dasar Hindia Belanda waktu masa kolonial. Atau, dengan kata lain, secara tidak langsung, Amalia telah membedah pengaruh kanonisasi sastra Hindia Belanda.

Dengan memperhatikan nilai-nilai subalterismenya pada kajian poskolonial yang dilakukannya, maka terlihat jelas bahwa penjajah dan terjajah di sini tidaklah dimaknai secara sempit. Keterkaitan masa silam dengan masa setelahnya merupakan area studi yang sangat luas sekali dalam pisau bedah poskolonial. 

Keterkaitan ini berhubungan erat dengan seringnya sebuah karya sastra dipakai sebagi tunggangan politis untuk menyiksa jiwa-jiwa sastra yang bebas. Wacana kolonial itu dapat hadir melalui narasi representasi pertentangan antara dunia Barat terhadap Timur.

Poskolonial juga mengacu pada praktik-praktik yang berkaitan akan gugatan atas struktur kekuasaan, hierarki sosial, dan wacana kolonialisme lainnya dalam teks sastra sendiri.

Dan, komponen di atas menjadi bahan analisis Amalia Putri Astari untuk melihat visi kolonial yang muncul dalam buku anak klasik Ot en Sien in Nederlandsch Oost-Indie. 

Penelitan itu beliau hadirkan dalam sebuah studi mendalam dengan judul International Dutch Studies: a postcolonial analysis of the children's book Ot and Sien in India (1911). Studi ini cukup menggambarkan tentang jelita-jelata dan coreng-moreng kanonisasi sastra Hindia Belanda masa kolonial pada buku dan bahan ajar sekolah, khususnya buku anak. 

Figur anak Ot dan Sien yang muncul di versi Belanda mengalami perubahan karakter setelah proses adaptasi ke dalam sirkumferensial Hindia Belanda.

Dua strategi poskolonial yang dipakai Amalia dalam membedah buku di atas, yaitu drama kolonial dan diskriminasi. 

Pada pisau bedah drama kolonial, beliau menemukan hal menggelitik, seperti: pemeran utama yang selalu muncul sebagai pahlawan adalah orang Barat, dan pribumi hanya muncul sebagai latar belakang dalam cerita atau bahkan sama sekali tidak dimunculkan dalam cerita. 

Penggambaran dan visualisasi anatomi tubuh dan gestur pribumi juga sering diwakilkan oleh anatomi dan gestur resesif. Seperti, tentang gambaran lelaki atau wanita tua renta dan miskin yang berprofesi sebagai pelayan, ataupun tukang kebun.

Buku ini kemudian juga dijadikan buku ajar membaca di sekolah-sekolah dasar Hindia Belanda, terutama sekolah dasar berbahasa Belanda seperti Hollands Inlandse School (HIS) dan Europese Lagere School (ELS). 

Keragaman buku bacaan anak di Indonesia muncul pertama kali di masa penjajahan Belanda. Menjamurnya buku anak didasari oleh kebijakan politik etis pemerintah kolonial. 

Belanda yang harus bertanggung jawab secara morel dan materiel kepada tanah jajahannya setelah eksploitasi besar-besaran terhadap Indonesia justru makin gila memainkan kanonisasi sastra pada buku ajar sekolah.

Hal ini terlihat saat Belanda getol-getolnya memasukkan unsur-unsur arogansinya dalam sebuah proses indisasi (verindisching). Elemen ini dimasukkan secara paksa pula tanpa adanya kurasi domestik.

Dalam kasus indisiasi tersebut, Bangsa Indonesia sebagai Bangsa Timur selalu diposisikan sebagai pihak yang lebih rendah, tidak beradab, primitif. Tidak hanya itu, indisasi untuk komunikasi transaksionalnya juga dibatasi, seperti: tidak adanya dialog dua arah antara tokoh-tokoh Belanda dengan pribumi.

Sedang Barat, sebagi pihak yang memiliki kekuasaan lebih tinggi, beradab dan bersikap sopan santun diposisikan sebagai Hero dan sebagai orator tunggal yang wajib didengar.

Dengan begitu, buku-buku ajar, termasuk buku cerita anak, tentunya akan banyak mengandung narasi kebencian dan penghinaan terhadap pribumi. Termasuk ilustrasi bacaan yang penuh agitasi dan kekerasan visual yang tersembunyi.

Kontrasnya penggambaran tokoh pribumi dengan tokoh Belanda dalam buku tersebut, menurut Amalia, adalah sebagai bukti hadirnya oposisi biner dalam cerita kanak-kanak Hindia Belanda.

Buku adaptasi ini, aslinya menceritakan tentang dunia anak-anak yang ideal dan harmonis di negeri Belanda sana. Buku ini diadaptasi ke Indonesia pada tahun 1911, dengan memasukkan elemen-elemen indisasi seperti yang tergambar di atas. 

Selain itu, tokoh-tokoh cerita seolah diadu dengan lingkungan masyarakat Indonesia, serta berkonfrontasi dengan kehidupan di tanah jajahan.

Itulah sosok kita kali ini, Amalia Putri Astari, yang dengan gigihnya berupaya untuk terus mengangkat dan menggali persoalan sastra Hindia Belanda. Termasuk juga upaya penyampaian pesan-pesan feminisme Kartini yang langsung disampaikan pada sebuah acara di jantung pertahanan mantan kolonial, di negeri Belanda sana. 

Tidak hanya itu, rekonstruksi peristiwa dan kisah juga dilakukan oleh Amalia Putri Astari untuk melihat lebih dalam budaya hidrida tersebut dalam wujud kegiatan-kegiatan pendukungnya.

Seperti, kegiatan Ikatan Mahasiswa Sastra Belanda Universitas Indonesia (IKSEDA UI) Sastra Belanda Universitas Indonesa yang pernah menggelar acara Nederlands Festival 2001 dengan tema dalam slogan “Indis: Produk Budaya Belanda Tropis”.

Kemudian juga acara diskusi Cak Tarno Institute yang bertajuk “Anak-anak kompeni: Analisis pos-kolonial buku ajar Sekolah Dasar di Hindia Belanda” yang digelar di FIB UI, Depok.

Juga, dalam kesempatan ini, saya sampaikan ucapan terima kasih kepada Mbak Amalia atas saran-sarannya dalam riset saya, untuk cerpen saya yang berjudul "Loji", baca di sini

Hingga pada akhirnya, cerpen tersebut menyabet gelar juara satu pada Festival Sastra UGM 2019.