Wiraswasta
1 bulan lalu · 57 view · 3 min baca menit baca · Ekonomi 56265_36439.jpg
GoodNews From Indonesia

Alunan Merdu Dawai Gitar Mancasan

Denting dawai gitar dimainkan berurutan untuk menemukan susunan nada yang sesuai. Kilau kayu yang telah dipernis menggoda untuk dimainkan. Beberapanya ada yang di-sticker motif batik. Bahkan ada beberapanya berbentuk gitar pegangan musisi kelas dunia.

Sekilas tak ada yang pernah menyangka desa yang jauh dari keriuhan kota justru mengalunkan musik dari dawai gitar yang mengalun merdu. Kualitasnya tak kalah dengan produksi pabrikan. 

Desa Mancasan di Baki, Sukoharjo harus ditempuh 30 menit dari Jalan Raya Solo Baru. Penanda masuk kawasannya adalah gapura dengan ukiran besi bergambar gitar.

Hampir setiap rumah penduduknya terdapat material mentah gitar. Ada yang masih berupa kayu telah serut, neck (leher) gitar, body gitar, maupun bilah-bilah grip gitar. 

Meski kebanyakan mata pencaharian utamanya adalah bertani, tetapi kerajinan gitar mampu mendukung perekonomian keluarga. Hal tersebut dapat terlihat dari hampir seluruh rumah mengandalkan perekonomian dari kerajinan gitar tersebut.

Layaknya sifat gotong-royong yang terdapat dalam masyarakat desa, di Desa Mancasan, meski tumbuh-kembang kerajinan yang menjanjikan tersebut, semuanya saling bahu-membahu. Dan meskipun pula punya bekal mampu membuat gitar sendiri-sendiri, nyatanya yang hidup di antara mereka adalah berbagi keahlian. 


Ada perajin yang spesialis membuat bodi, ada spesialis pembuat neck gitar, dan ada spesialis sinkroninasi nada dengan pemasangan grip-grip gitarnya.

Semangat berbagi tersebut pula yang membuat produksi gitar Desa Mancasan mampu memenuhi permintaan pasar seberapa besarnya. Satu desa tersebut seperti kawasan pabrik yang produksi masing-masing spare part gitar berpindah-pindah hingga finishing. Selain dipasarkan ke luar, beberapa rumah justru dijadikan showroom untuk memperagakan berbagai hasil kerajinan setempat.

Kerajinan gitar Desa Mancasan sudah berlangsung lama dan turun-temurun. Dan beberapa perajin menukas ada sebagian produksi gitar pabrikan dialihkan ke tempat mereka tersebut. Namun untuk rotasi usahanya, mereka juga melakukan marketing hingga ke luar daerahnya sendiri, bahkan lintas kota dan provinsi, bahkan negara lain. 

Kini, hampir semua penjual alat musik mengenal baik desa ini dan tinggal hanya melakukan pemesan via telepon saja. 

Kendala utama dari gitar Desa Mancasan adalah merek. Mereka hanya memproduksi, tetapi tidak dengan merek ternama khas setempat. Berdasarkan penjelasan perajin setempat, pihak penjual sering melabeli sendiri merek gitarnya. 

Secara kualitas, produksi gitar Mancasan berkualitas baik dan bahkan setara dengan kualitas gitar dengan merek ternama. Karena menjadi sentra produksi untuk memenuhi kebutuhan alat musik gitar, perajin setempat tidak memilah atau berspesialisasi dengan menghasilkan kualitas gitar tertentu.

Ini diutarakan oleh salah satu perajin bernama Marjiyono yang menghasilkan gitar dari kelas “sayur” hingga kelas solid. Istilah kelas sayur dipakai untuk menamai produksi gitar berharga murah dengan kualitas biasa-biasa saja. Sedangkan gitar solid yang dimaksud adalah gitar dengan kualitas kayu tanpa potongan. Umumnya diambil dari kayu mahoni atau jati, sesuai permintaan konsumen.

Oleh pembuat gitar Mancasan lainnya yang tak ingin disebut namanya, menceritakan gitar buatan desa tersebut sempat menjadi ancaman gitar bermerek. "Karena kualitasnya sama, ada beberapa pembuat dan pembeli nakal melabeli dengan merek ternama. Ujung-ujungnya si pemilik merek datang sweeping ke sini kasih peringatan sanksi hak merek," ungkapnya.

Ketika melihat hasil produksinya, ada gitar kelas teri yang berbahan baku bodi triplek. Mereknya Yammaha. Huruf M dobel terkesan akal-akalan saja agar tidak mirip dengan merek aslinya. Istilah, memelesetkan mata orang yang membacanya jika tak hati-hati. 

Juga ditinjau dari kualitasnya, harganya terbilang sangat murah. Untuk harga termurah merek M dobel itu, bisa ditebus Rp70 ribu saja. Harga termahalnya Rp300 ribu.

"Sejak itu kami tak ingin menggunakan merek ternama. Kami kosongkan saja. Jika ada yang menempelkan mereknya sendiri, terserah saja," sergahnya.


Jumlah perajin gitar di Mancasan bertambah karena prospeknya bagus. Akibatnya tiap produsen harus memiliki strategi jitu agar tetap bertahan. Salah-satu opsi yang ditawarkannya adalah menerima pembuatan gitar custom, atau sesuai selera pembelinya.

Bahkan ada beberapa pembeli memesan custom dengan gaya nyeleneh. Misalnya saja minta dibuatkan air brush wajahnya di bodi gitar. Selain produksi, juga perajin setempat menerima jasa reparasi gitar dan konsultasi.

Membeli gitar Mancasan paling seru datang ke produsennya. Sikap mereka sangat welcome bahkan tidak mengganjar harus beli ketika singgah di rumahnya. Sambil mereguk minuman yang disajikan tuan rumahnya, sambil konsultasi tentang dunia gitar.

Untuk proses pembuatan gitar custom, bisa berdurasi 10 - 15 hari, tergantung penggunaan bahan kayu atau ketersediannya. Ada yang baru selesai sebulan lebih. Ragam gitar yang ditawarkan mulai dari gitar akustik hingga elektrik. Tawar menawar pun berlaku untuk pemesanan gitar custom.

Jika Anda penggemar gitar, rugi jika tidak datang ke Mancasan.

Artikel Terkait