Alkisah, pada zaman nabi, hiduplah seorang pria yang taat. Tak pernah suatu kali pun ia melewatkan kewajiban ibadah-ibadah ritual. Kehidupannya dipenuhi dengan kebaikan dan menjauhi segala yang diharamkan. 

Akan tetapi, kondisi ekonominya sangat buruk. Ia hidup dalam kemiskinan dan kepapaan. Kefakiran menggilas sendi-sendi kehidupannya yang rapuh. Pria itu bernama Tsa’labah bin Hathib Al-Anshari.

Kemiskinan Tsa’labah begitu membuatnya menderita. Kesengsaraannya yang tak punya belas kasihan selalu membuat hari-harinya dipenuhi kecemasan. Ia bak anak panah yang begitu melesat pasti mengena. Dan jika sudah menancap, ia pasti akan membunuh!

Anak panah kemiskinan telah menancap di pikiran dan hati Tsa’labah. Di siang hari, semua aktivitasnya dipenuhi dengan kegelisahan tentang nasib buruk yang menimpanya. Di malam hari, tidurnya dipenuhi dengan mimpi buruk tentang kefakiran yang mengkhawatirkan. 

Jika ia terbangun, itu lantaran suara bising kefakiran yang mengganggu dan membangunkannya. Tsa’labah hidup berada di titik nadir.

Di suatu pagi yang hangat, di saat pagi lain tak seindah matahari terbit di pagi itu, Tsa’labah mendambakan kunci-kunci perbendaharaan dunia. Hari itu akan jadi yang bersejarah karena Tsa’labah akan menemui Rasulullah untuk mendoakannya terbebas dari belenggu kemiskinan selamanya. 

Setelah menemui Rasul, ia berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia memberiku harta!”

Rasulullah Saw beringsut menoleh dan menatapnya. Nabi meramalkan masa depan Tsa’labah kelak apabila ia sudah kaya. Beliau menjawab dengan lembut, “Wahai Tsa’labah, yang sedikit tapi kau syukuri itu lebih baik daripada yang banyak namun kau tak mampu mensyukurinya.”

Dengan penuh pertimbangan, nabi menolak permintaan Tsa’labah untuk didoakan. Karena beliau tahu apa yang terbaik untuk Tsa’labah. 

Dengan segala kekurangan yang ia terima, Tsa’labah tetap harus mensyukuri segala yang ada. Karena apabila Tsa’labah menjadi kaya dan kekayaannya melimpah, Tsa’labah akan menumpuk harta. 

Nabi berkata sekali lagi, “Apabila hartamu melimpah, kau akan dituntut untuk mengeluarkan zakat dan sedekah. Meski hanya sebagian kecil yang dikeluarkan, apakah engkau akan tahan dengan penurunan jumlah material sebagai ganti peningkatannya?”

Tsa’labah pulang dengan pikiran hampa. Lonceng-lonceng kemiskinan terus berdentang di benaknya. 

Karena memikirkan kepentingan dirinya sendiri, Tsa’labah terus mendatangi nabi untuk didoakan agar dianugerahi kekayaan. Baginya, siapa saja yang mengetuk pintu dengan keras pasti akan dibukakan jua pintunya.

Berkali-kali Tsa’labah mendatangi nabi, berkali-kali pula nabi menolak permintaannya. “Tak senangkah engkau menjadi utusan Allah? Demi Dzat yang menguasai diriku, apabila aku ingin agar gunung berubah menjadi emas untukku, niscaya itu akan terjadi!”

Beliau dapat membaca bahwa di masa depan Tsa’labah akan binasa karena ketamakannya.

Di kali ke sekian, ia masih teguh dengan pendiriannya. Ia tak puas dan rela dengan jawaban nabi. Seperti hari-hari sebelumnya, ia memohon pada nabi, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar memberiku harta. Demi Dzat yang telah mengutusmu, jika Allah memberiku harta, pasti kutunaikan semua hak orang yang berhak mendapatkannya!”

Nabi Saw mengangkat kedua tangannya, seraya bedoa: “Ya Allah, berikanlah harta pada Tsa’labah!” Maka, terbukalah ijabah bagi Rasulullah. Doanya merobek segala hijab. Allah mengabulkan doa itu dan (seolah) berkata pada Tsa’labah, “Ambillah! Ini pemberian Kami.”

Baca Juga: Negeri Baik Hati

To make a long story short, Tsa’labah menjadi saudagar kaya. Kekayaan dan ternaknya melimpah ruah. Madinah tak cukup luas bagi Tsa’labah untuk menampung hewan ternaknya. Karena kesibukannya, Tsa’labah kini menjauhi rutinitasnya dalam beribadah.

Suatu hari Rasulullah memandangi kaum muslimin, namun tak melihat sosok Tsa’labah. Beliau bertanya pada mereka, “Apa yang dilakukan Tsa’labah?”

Sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, dia memelihara domba sehingga Madinah menjadi sempit bagi domba-domba itu.”

Rasulullah berteriak, “Celakalah Tsa’labah!” Kalimat itu berulang hingga tiga kali dari lisan nabi sebagai peringatan akan bahaya yang menimpanya.

Tak lama Jibril turun membawa titah Tuhan, “Ambillah sebagian harta mereka (sebagai) sedekah (zakat)...” (QS. Attaubah : 103). Beliau pun memanggil dua amil (pengurus) sedekah untuk memintakan hak kaum muslimin kepada Tsa’labah.

Di tempat Tsal’labah di luar Madinah, harapan akan sambutan hangat dari Tsa’labah pudar. Dengan kerut di dahi dan muka yang masam, Tsa’labah menghardik pengurus zakat itu. “Ini tak lain adalah upeti! Seperti membayar upeti!” Berkali-kali didatangi, hardikan serupa dilontarkan Tsa’labah.

Ayat lain turun dari Allah kepada nabi sebagai kecaman kepada Tsa’labah: “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.” Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (QS. Attaubah : 75-76)

Tsa’labah seperti tertampar ketika ayat yang turun tentang dirinya. Ia limbung tak karuan. Ia terkenang pada memori tentang perbuatannya yang tercela. Sepanjang masa hingga akhir hayatnya, nabi menolak pemberian Tsa’labah dan ia menjadi orang yang merugi selamanya.

Kisah tersebut saya sadur dari kitab Ayatun wa Qaishah karangan Abbas Ali Musawi. Ini memberi pelajaran pada kita bahwa tak jarang makin tinggi derajat seseorang, maka empatinya kian menurun.

Seperti saat ini, kita sedang hidup di sebuah masa di mana dalam kepeduliannya (prosocial behavior) antara kita dan orang lain (bystanders) terdapat jarak yang begitu sulit untuk dilipat. 

Defisitnya ideologi altruisme di tengah-tengah masyarakat menjadi momok yang membuat pemerataan ekonomi sulit untuk diraih. Setiap masing-masing orang, masih saja fokus pada sejauh mana angka-angka bisa ia raih sebanyak-banyaknya, bukan untuk orang lain, namun untuk diri sendiri dinikmati hasilnya.

Penelitian yang dilakukan Paul K. Piff di University of California at Berkeley mengungkapkan bahwa seseorang yang sudah berada pada titik tertinggi level ekonominya, maka tak jarang ia cenderung tak berempati pada orang lain (zero-empathy). Mereka cenderung selalu ingin menguasai dan merampas hak orang lain.

Ia menemukan bahwa dari ribuan partisipan dalam sebuah hierarki ekonomi, di mana banyak orang yang makin status dan kekayaannya meningkat, maka empati dan welas asih (compassion empathy) cenderung menurun. Begitu pula dengan ideologi terhadap self-interest mereka kian meningkat.

Ia menggambarkan, misalnya, bagaimana dalam penelitiannya di jalan raya terhadap orang Amerika yang mengendarai mobil-mobil mewah seperti Prius atau BWM, mereka rata-rata selalu berkeinginan untuk melanggar aturan berlalu lintas (seperti tidak memberi kesempatan para pejalan kali untuk melintas) dibanding mereka yang mengendarai mobil-mobil biasa.

Tentunya tidak setiap orang berstatus ekonomi tinggi berbuat seperti itu. Masih banyak orang-orang dengan kekayaan melimpah tapi ia tak melupakan hal-hak orang lain. 

Namun setidaknya, hal tersebut membuka mata kita bahwa, seperti kata Ali bin Abi Thalib kw, jangan sampai dalam setiap pundi-pundi harta kita ada hak orang miskin yang dirampas. Semoga kita senantiasa tak kekurangan kepedulian pada sesama, bagaimanapun keadaan kita.