Researcher
2 tahun lalu · 946 view · 4 menit baca · Filsafat peter-callesen10.jpg

Altruisme: Lantai yang Licin

Definisi altruisme dan egoisme itu seperti lantai yang dilumuri mentega, diguyur oli, disiram gliserin, lantas ditebari ratusan kulit pisang dan ribuan kelereng (ok ... ok ... saya lebay, saya cuma ingin mengatakan bahwa altruisme dan egoisme itu slipery concept). Tulisan ini berupaya untuk mengepel lantai yang licin tersebut sampai aman untuk ditapaki. Mudah-mudahan saya tidak terpeleset ketika mengepel lantai tersebut.

Adakah Dikotomi?

Dalam banyak tulisan, altruisme biasanya diasosiasikan dengan tindakan yang menguntungkan orang lain dengan mengorbankan diri sendiri, sebaliknya egoisme, selfishness, dan self-interest dirumuskan sebagai tindakan yang ditujukan untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri tanpa memperdulikan orang lain atau bahkan mengorbankan orang lain.

Dua jenis motif yang terpisah secara jelas dan tegas dan tidak akan pernah bertemu. Batson and Shaw (1991) misalnya menekankan bahwa satu motif tidak bisa sekaligus altruis dan egois karena dalam kata-kata Batson and Shaw: "to seek to benefit both self and other implies two ultimate goals . . . and each new ultimate goal defines a new motive."

Namun pandangan dikotomis ini - memisahkan secara jelas dan tegas antara motif altrustik dan motif egoistik itu – mulai dikritik. Pengeritik mulai bertanya: Apakah berbuat baik ke orang lain itu tak ubahnya seperti menikmati es kelapa muda dingin di siang yang terik.

Ataukah anda menolong orang lain karena anda tidak bisa membayangkan rasa bersalah yang akan menyiksa anda seumur hidup jika anda tidak menolong? Atau anda membantu orang lain itu karena berdasarkan prinsip yang anda pegang, walaupun itu merugikan anda?

Tidak ada dikotomi, semua tindakan adalah egoistik

Di kalangan disiplin ekonomi misalnya, Andreoni (1990) berpendapat bahwa derma itu lebih tepat dipandang sebagai upaya membeli ”rasa mulia”. Margolis (1996) menggunakan istilah ”pendapatan psikis” untuk menggambarkan kepuasan pribadi yang timbul dari kegiatan derma.

Tak kurang dari Sen (1977) yang mengatakan: ”It can be argued that behaviour based on sympathy is an important case egoistic, for one is oneself pleased at others’ pleasure and pained at others’ pain, and the pursuit of of ones’s own utility may thus be helped by sympathetic action” 

Koleksi pendapat ekonom di atas mewakili definisi yang mengatakan bahwa setiap usaha memaksimumkan utilitas saya sendiri adalah tindakan egoistik, walaupun dalam utilitas itu terkandung juga kesejahteraan orang lain. Dengan definisi ini, tidak ada ruang bagi altruisme (kecuali tindakan berdasarkan komitmen yang akan dibahas di bagian akhir tulisan)

Tidak ada dikotomi, semua tidakan adalah hasil campuran dua motif

Definisi altruisme kedua tidak seketat definisi pertama. Menurut definisi ini, sejauh seseorang memberi nilai positif terhadap kesejahteraan orang lain maka tindakannya adalah tindakan altruis. Definisi ini misalnya diwakili oleh Becker ketika dia mengucapkan quote yang terkenal ini: “I decide whether to turn out my reading lamp in bed by comparing the utility of my plesure in reading with the amount of utility I receive from my wife's being able to sleep.” 

Pendapat yang hampir senada dari kalangan ahli psikologi misalnya diwakili oleh Krebs (1991): “I would define altruism quantitatively along a continuum defined by anticipated net gains (benefits minus costs) for another, relative to anticipated net gains for the self: The higher the expected proportion of benefits to the other relative to the self, the more altruistic the act.

Dalam model standard ekonomi. Definisi ini dimodelkan dengan menyisipkan parameter derajad altruisme/egoisme. Dimodelkan bahwa seseorang memaksimumkan Utility yang merupakan penjumlahan kesejahteraan (material) saya dan kesejahteraan (material) orang lain dengan pembobotan tertentu untuk kesejahteraan saya dan kesejahteraan orang lain. Semakin besar bobot yang saya berikan pada kesejahteraan orang lain, semakin saya altruis.

Altruisme dalam Mazhab Neoklasik

Teori selalu mengadung tiga komponen. (i) postulat, (ii) asumsi (iii) kejadian yang diprediksi oleh teori. (Silberberg, 1990). Postulat mashab neoklasik adalah: preferensi manusia itu konsisten dan tidak bandel (well behaved). Preferensi yang konsisten ini tidak dibatasi hanya preferensi yang menyangkut kesejahteraan diri sendiri, tetapi juga preferensi tentang kesejahteraan orang lain.

Asumsi: berdasarkan preferensinya baik preferensi tentang dirinya sendiri maupun preferensi tentang kesejahteraan orang lain, manusia memaksimumkan utilitasnya sendiri. Dari konstruksi teori ini dapat diramalkan berbagai perilaku manusia. 

Seperti telah dibahas sebelumnya, jika definisi pertama yang digunakan maka tidak ada ruang bagi altruisme dalam mazhab neoklasik. Hanya jika definisi kedua yang digunakan maka perilaku altruisme dapat dijelaskan oleh mazhab neoklasik.

Namun Sen (1977) mengkritik penggunaan definisi kedua yang mencakup segala perilaku ini ketika dia mengeritik teori rational choice - salah satu ekstensi mazhab neoklasik: ”But if you are consistent, then no matter whether you are a single-minded egoist or a raving altruist or a class conscious militant, you will appear to be maximizing your own utility in this enchanted world of definition”. 

Selanjutnya Sen mengatakan bahwa menyertakan simpati seperti dalam definisi dua dalam mazhab neoklasik tidak merusak struktur teori neoklasik. Senada dengan ini, Simon (1997) mengatakan bahwa memasukkan simpati dalam kerangka neoklasik “.. is quite legitimate – a wholly utility maximizing behaviour – for the postulates of neoclassical theory say absolutely nothing what values the utility function contains

Namun Sen berpendapat motivasi yang didasarkan atas komitmen, benar-benar di luar struktur teori neoklasik karena komitmen melanggar postulat dasar teori neoklasik yaitu konsistensi preferensi: “… commitment does involve, in a very real sense, counterpreferential choice, destroying the crucial assumption that a chosen alternative must be better than (or at least as good as) the others for the person choosing it.

Dengan kata lain, Sen mengembalikan dikotomi: 

  • perilaku yang didasarkan atas preferensi subyektif, termasuk simpati. Perilaku yang didasarkan atas preferensi subyektif ini pada dasarnya egoistik di mata Sen. Perilaku ini tercakup dalam maksimisasi utilitas neoklasik.
  • perilaku yang didasarkan atas preferensi etikal/komitmen. Hanya perilaku ini yang layak disebut perilaku altruis. Perilaku ini di luar kerangka teoritis neoklasik.

Tidak lagi berniat mengepel lantai yang licin. 

Mula-mula saya ingin mengepel lantai yang licin ini sampai aman untuk ditapaki. Tetapi ternyata saya justru terpeleset peleset sampai babak belur. Setiap kali saya memungut satu kelereng, puluhan kelereng jatuh dari kantong saya. Jadi saya tinggalkan saja lantai yang licin tersebut. Saya hanya mampu memasang papan peringatan ”AWAS LANTAI LICIN !!!.