Suka sebel setiap ada orang yang menanyakan pertanyaan retoris seperti "Kamu serius nggak sih sama aku?", termasuk pacar saya sendiri. Sebenarnya pertanyaan itu memang tidak perlu dijawab, tapi mimik muka mbak pacar yang penuh emosi mengisyaratkan kondisi di mana kita sebagai pacar sejati mau nggak mau menjawab pertanyaan itu dengan sangat serius.

Saya kalau ditanya pertanyaan yang sama pasti bingung yang berakhir bengong, karena pertanyaan tersebut tidak termasuk pertanyaan yang punya jawaban pasti. Entah sudah berapa kali pertanyaan setipe melayang di kepala, saya nggak bisa menjawab dengan jawaban yang sama, pasti selalu berbeda.

Namun tampaknya seiring dengan bertambahnya pengalaman di bidang percintaan duniawi ini, akhirnya saya menemukan jawaban yang komprehensif. Tentu sesuai dengan garis besar ideologi yang saat ini saya dalami.

Awal mula pertanyaan ini umumnya dikemukakan ketika sang pacar mendapati kita sedang berada dalam fase kehidupan dewasa yang runyam. Umur sudah mulai tua, kebutuhan makin bertambah, stok mi instan mulai menipis serta dorongan zaman yang mengharuskan setiap individu untuk hidup mandiri secepat mungkin sehingga orang tua tidak lagi merasa terbebani. 

Dari situ, hanya butuh satu saja persoalan remeh pemantik yang bisa datang kapan saja, seperti: ketahuan sedang main ke kosan teman lawan jenis.

Teman, saya nggak salah ketik, benar-benar teman bahkan sahabat dekat atau apa pun istilahnya, yang mana status pertemanan sudah berlangsung bertahun-tahun bahkan dia juga menjadi teman sang pacar. Masih kurang yakin? Teman saya ini pun juga sudah punya pacar! Tapi tetap saja sang pacar nggak bisa menerima hal sesimpel itu, semua harus dijelaskan.

Saya nggak tahu pacar saya bisa masuk kategori posesif atau tidak, tapi belakangan ini akhirnya saya meyakininya (gimana nggak coba saya ke warnet sendirian mau ngopy film superhero Marvel bajakan saja dibilang meet up sama mutual Twitter).

Lagi pula kalau mau selingkuh mah ngapain sama teman, terlalu berisiko. Teman itu fungsinya untuk kerja sama, diskusi, bergunjing, berbagi hal yang nggak mau dibagi ke pacar (realistis dong, pasti ada hal yang nggak kita ceritain ke pacar tapi teman tahu hal itu), bukan untuk selingkuh. Tapi pernyataan barusan bukan berarti mengindikasikan saya mau selingkuh loh ya (kalau mbak pacar baca tulisan ini: *damai yha beb, xixi~).

"Kamu serius nggak sih sama aku?". Pertanyaan yang konotasinya sudah pasti mengarah ke pernikahan, karena orang Indonesia rata-rata masih berpikiran kalau sudah menikah berarti hidup bahagia, maka dari itu kata 'serius' bisa diartikan 'menikah'.

Untuk menjawab itu, saya mencoba bertanya ulang hanya untuk memastikan seberapa siapkah si penanya dengan konsekuensi logis mengenai pertanyaan tersebut.

Di Indonesia ini, memangnya setiap individu diwajibkan untuk menikah? Jawabannya ternyata adalah tidak. Mengapa? Karena secara status hukumnya pernikahan adalah hak, bukan kewajiban. Sama halnya dengan agama yang tampaknya orang masih banyak yang belum terbiasa mengakui (saya berasumsi banyak yang sudah tahu sebenarnya), bahwa agama adalah hak, bukan kewajiban. Lalu maksudnya bagaimana? Ya, artinya boleh dipakai boleh tidak.

Kalau saya dihadapkan dengan pertanyaan di atas, maka jawaban saya adalah "Serius". Tapi, serius untuk pacaran, bukan menikah. Karena bagi saya pacaran dan menikah itu berbeda. Menurut saya, pacaran yang ideal adalah pacaran yang kalau pun sejak awal memiliki ekspektasi untuk menikah, maka harus juga memiliki ekspektasi untuk tidak menikah alias harus satu paket seperti itu tidak boleh dipisah.

Orang pacaran belum tentu menikah. Makanya ketika kita punya ekspektasi untuk menikah dan tidak menikah sekaligus saat pacaran, jika pada waktunya nanti takdir berkata lain, ya minimal kita nggak sakit-sakit banget damage-nya, gitu. Bahkan banyak orang yang pacaran memang niatnya tidak untuk menikah, tapi terlihat sangat serasi dan langgeng tanpa terdapat pertanyaan retoris di dalamnya, yang berakhir ke pernikahan juga karena mereka tiba-tiba pada suatu masa merasa pernikahan itu hal yang baik jadi digaskeun aja gitu, bukannya diniatkan dari awal pacaran itu untuk menikah.

Kalau disuruh nyebutin alasan pacaran saya bisa nyebut mungkin sampai belasan bahkan puluhan poin. Saya bisa mengenal karakteristik cewek, saya bisa belajar mengontrol emosi, saya jadi bisa tahu lingkungan cewek dan pergaulannya, saya bisa berbagi banyak hal hanya dengan satu orang yang paling saya percaya, dan masih banyak lagi. Alasan menikah? Saya masih belum menemukannya.

Bukan berarti saya sepenuhnya tidak ingin menikah, hanya belum menemukan alasan saja. Apakah berarti saya otomatis nggak serius sama pacar hanya karena nggak mau menikah? Tentu tidak dong, ukuran simpel seseorang dinyatakan serius atau tidak bagi saya hanya satu, selingkuh. Selama ini tidak ada bukti saya pernah selingkuh, maka dari itu saya sangat yakin untuk menjawab pertanyaan di atas dengan kata 'serius'.

Pernikahan bagi saya tingkatnya sudah berbeda, konsekuensinya sangat dalam dan secara pribadi saya masih menganggapnya sebagai suatu hal yang sakral. Karena kesakralan itulah maka butuh lebih dari serius untuk mencapainya. Untuk saat ini, selagi apa yang saya butuhkan bisa dan sangat bisa dicapai dalam status hubungan pacaran, ya buat apa menikah?

Yang jelas, saya sepakat, baik menikah atau pacaran sama-sama bikin pusing nggak karuan jika sudah mengenal titik jenuh.

Di kehidupan nyata, jika tidak kelebihan energi, rasanya mustahil saya menjawab pertanyaan tersebut sepanjang ini. Yang saya lalukan paling-paling cuma mengalihkan pembicaraan ke sesi gosip, yang mana merupakan cara termudah sepanjang sejarah peradaban umat manusia dalam rangka menghindari konflik perkara asmara, selain transfer duit.