Blogger
2 tahun lalu · 352 view · 5 menit baca · Media 93721.jpg
dokumen pribadi

Alternatif Gaya Menulis untuk Afi

Dello Strologo, pemilik gedung cinema pertama di Alexandria harus terengah-engah berlari kearah pintu keluar. Ini ia lakukan demi mencegah penonton yang lari ketakutan saat melihat tayangan kereta api yang melaju kencang di layar film. Dengan sabar ia mengajak penonton tadi untuk kembali ke kursinya sembari menerangkan bahwa layar yang ada didepan mereka hanyalah sehelai kain biasa. Gambar yang ditayangkan adalah hasil refleksi dari proyektor film sehingga tidak akan terjadi apa-apa pada si penonton. Maklum, ini terjadi saat penayangan film pertama di Mesir tahun 1896. Penonton yang hadir kala itu masih belum bisa membedakan antara imajinasi dan realita.

Kejadian unik ini diceritakan oleh Alaa Al Aswany, seorang penulis asal Mesir pada kata pengantar buku kumpulan cerpennya – Friendly Fire. Kebingungan yang timbul saat tak bisa membedakan antara imajinasi – khayalan dan realita ini rupanya juga berimbas pada pembaca karya-karya Al Aswany. Ia dikecam oleh pembaca novel karyanya – The Yacoubian Building karena dua tokoh yang ditampilkan; Abaskharon dan Malak. Dua bersaudara dengan latar belakang orang Koptik yang miskin ini dikisahkan pernah melakukan penipuan dan pencurian sebagai dalih untuk bertahan hidup. Atas jalan cerita ini Al Aswany diprotes oleh kebanyakan orang Koptik karena menganggap hal itu tidak sesuai dengan karakter mereka.

Tak hanya itu, Al Aswany juga dianggap telah melecehkan Islam atas karakter Shaymaa dalam novelnya - Chicago. Shaymaa digambarkan sebagai gadis muda berhijab yang menanggalkan segala prinsip hidupnya saat ia melanjutkan studinya di Amerika.

Al Aswany dikecam karena tokoh fiktif yang ditampilkannya. Tokoh fiktif sering ditampilkan oleh beberapa penulis untuk menyampaikan pesan dan pemikiran-pemikirannya. Tulisannya bisa berupa cerita pendek, prosa yang bersifat fiksi tapi percakapan yang terungkap bisa merupakan refleksi dari kejadian sesungguhnya yang non-fiksi. Penulis akan menyampaikan keprihatianannya akan sesuatu, tanggapannya atas suatu peristiwa, alternatif solusi yang ingin diajukan dan banyak hal lainnya dengan corong suara si tokoh tersebut.

Penulis akan berimajinasi seliar mungkin dalam mendeskripsikan tokoh yang diangkat. Bisa jadi ciri-ciri fisik dan sifatnya hampir menyerupai dengan karakter asli si penulis. Atau bisa juga sama sekali bertolakbelakang sifatnya. Apapun bisa digambarkan, bebas.

Reaksi orang terhadap penokohan ini bisa bermacam-macam. Reaksi keras mengecam seperti yang terjadi pada novelis Al Aswany timbul karena orang-orang tersinggung dan merasa karakter itu adalah representasi dari karakter mereka.

Atau bisa jadi reaksinya biasa saja. Markesot yang ditampilkan Emha Ainun Najib dalam beberapa essai tulisannya adalah Markesot yang eksentrik, kadang-kadang pendiam, suka menggelandang tidur dimana-mana tapi kalimat-kalimatnya penuh hikmah. Tak jarang Markesot terlihat seperti paranormal – orang pintar – karena tingkah laku dan perkataannya yang kadang susah dimengerti oleh koleganya. Adapun background Markesot dideskripsikan oleh Cak Nun bahwa ia (markesot.red) adalah seorang ahli teknik mesin.

Lalu apakah saya sebagai seseorang yang juga lulusan teknik mesin merasa tersinggung dengan karakter Markesot tersebut? Tidak. Padahal Cak Nun sendiri mengakui bahwa Markesot sebagai tokoh terkadang tidak fiktif dalam tulisan-tulisannya. Nah lho…

Gaya penulisan yang mencampur adukkan fiksi dan non-fiksi dengan melibatkan tokoh fiktif ini rasanya perlu dijadikan alternatif oleh Afi, penulis usia muda yang sedang jadi pusat perhatian. Alih-alih menggunakan subyek diri sendiri, mungkin lebih baik ia menyuarakan aspirasinya dengan melalui obyek lain yakni tokoh itu tadi. Saya petik sedikit bagian dari tulisannya.

“Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.

Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir”.

Dengan pemilihan kata ‘kita’ disini maka Afi akan merujuk kepada dirinya sendiri dan orang lain. Kita bisa berarti aku, kamu, dia, kami, mereka, semuanya. Maka tak heran tulisannya banyak mendapat respon. Untuk yang merasa bahwa tulisannya diwakili oleh Afi maka akan mengelu-elukannya dan menyanjungnya. Pun begitu dengan yang merasa tidak setuju dengan tulisannya, bisa kritik atau bahkan cemoohan yang dilontarkan. Semua terjadi karena mereka merasa bahwa diri mereka-lah yang dimaksud dalam subyek ‘kita’. Tidak salah dan itu sah-sah saja. Namanya juga penafsiran dari tulisan. Alfathri Adlin, redaktur dan editor Pustaka Matahari dalam suatu forum pernah mengungkapkan bahwa teks itu bersifat otonom. Dia bisa ditafsirkan sesuai dengan kepentingan si penafsir. Sehingga wajar apabila yang ingin disampaikan oleh Afi itu ‘A’ tapi prakteknya tafsir yang berkembang akan menjadi ‘Z’.

Maka tidak ada salahnya jika Afi bereksperimen menulis dengan menggunakan tokoh fiktif. Sehingga bisa jadi reaksi orang-orang tidak akan sekeras seperti sekarang. Coba tengok, siapa yang akan tersinggung dengan Kiai Sudrun, tokoh lain yang juga diangkat Cak Nun dalam tulisannya. Ke-sinting-an-nya tercermin dari perilakunya yang sedikit nyeleneh. Kurang tahu adat, sukanya kencing di segala tempat, tidak pernah memakai sandal, masuk masjid tidak cuci kaki dulu dan masih banyak lagi. Belum termasuk hobbinya yakni meludah persis di muka orang yang mengajak bicara. Kurang sinting apa coba.

Tapi mari dengar ocehannya.

“Islam tetap Islam, tak pernah bergeser sedikit pun dari kebenarannya. Silakan orang di seluruh muka bumi membenci, mencurigai, atau bahkan meninggalkan Islam. Pengaruhilah dunia sehingga tidak seorang pun memeluk Islam. Hasilnya, Islam, ya tetap Islam. Islam tidak akan berubah seinci pun karena disalahpahami. Islam tidak menjadi lebih tinggi karena dicintai, dan tak menjadi lebih rendah karena dibenci. La raiba fih, tak ada keraguan padanya. Kalau orang ragu, itu urusan dialah. Islam tak rugi. Islam bebas dari untung-rugi. Islam baqa kebenarannya. Manusia sajalah yang terikat untung-rugi. Manusia sudah tiba pada abad ke-20 yang mahacerdas. Mereka menentukan untung-ruginya sendiri tanpa bisa menentukan nasib Islam. Islam tak pernah tertawa karena dinikahi dan tak pernah menangis karena dicerai. Islam tak punya kepentingan terhadap manusia, manusialah yang berkepentingan kepadanya ….”

Kata-kata diatas dikutip dari jawaban Kiai Sudrun saat ditanya pendapatnya mengenai polemik ayat-ayat setan-nya Salman Rushdie. Anda boleh setuju atau tidak dengan pendapat saya tapi menurut saya, kalimat-kalimat Kiai Sudrun tersebut diatas mengandung hikmah yang sungguh luar biasa. Kalimat yang muncul dari hasil kontemplasi dan bercampur dengan pengalaman hidup seorang Cak Nun.

Kalaupun memang anda tidak setuju, paling-paling anda akan berkata, “ah gak usah didengerin. Namanya juga Kiai Sudrun, kiai gendeng, suka ngawur omongannya”. Bisa jadi seperti itu responnya. Apalagi kalau orang sudah tidak sreg dengan karakter yang ditampilkan, merasa dirinya tidak mirip dengan tokoh tersebut maka sudah pasti akan menganggap bahwa kata-kata yang terlontar itu bukan mewakili dirinya.

Jadi semua kembali kepada Afi. Setiap pilihan dalam menuangkan aspirasi dan pemikiran pasti ada resikonya. Baik menyampaikannya dengan sudut pandang orang pertama (aku atau kita) maupun dengan menggunakan penokohan seperti yang sudah dicontohkan. Alternatif gaya menulis dengan menampilkan tokoh fiktif ini pun belum tentu sesuai dengan gaya dan karakter Afi sendiri. Ia pasti memiliki kiblat dan preferensi sendiri dalam menulis. 

Alternatif ini disampaikan atas dasar keprihatinan saya pada apa yang terjadi pada diri Afi akhir-akhir ini. Terlepas dari fakta bahwa ia mengakui telah melakukan plagiat, menurut saya yang perlu kita lakukan adalah membangun kritik positif kepada Afi. Bukan malah menuduhnya sebagai antek liberal atau sekuler, naudzubillah. Yang perlu dilakukan adalah membimbingnya karena Afi hanyalah salah satu contoh dari anak muda yang mulai giat dalam dunia literasi. Ia memiliki potensi yang cukup besar dan sayang apabila layu sebelum berkembang.

Artikel Terkait