Twitter, media sosial yang menjamah beragam informasi dari berbagai negeri. Aplikasi yang terkenal cepat tanggap dalam memperoleh tren ini tak lagi terbatas pada berita faktual belaka. Kepopulerannya menjadi ladang baru bagi penulis kreatif, apalagi dengan adanya fitur thread atau tweet bersambung.  

Awalnya, karya sastra terbatas pada bentuk cetak saja. Setelah kemunculan internet, ruang baru terbuka bagi para penulis yang terhalang proses seleksi ketat dari penerbit. Sastra pun berkembang menjadi sastra dalam bentuk digital atau dikenal dengan istilah "sastra cyber". 

Sastra cyber tidak berbuah baik pada pertama kali kemunculannya. Banyak respon negatif dari pengarang-pengarang sastra cetak seperti anggapan bahwa sastra cyber itu sampah. Muncul pula anggapan bahwa sastra cyber layaknya sastra yang tidak jelas pertanggungjawabannya oleh penulis akan nilai-nilai yang seharusnya dimiliki karya sastra. 

Namun, teknologi itu kemajuan yang tidak bisa ditolak. Sastra cyber pun merambah luas dengan jumlah yang melebihi sastra cetak. Salah satu faktornya adalah publikasi mandiri oleh penulis tanpa adanya proses seleksi. Semua karya dapat dimuat dalam satu kali klik. 

Setelah berkembang pada media publikasinya, bentuk-bentuknya juga mengalami perubahan. Apabila sastra cetak dituangkan dalam lembar kertas dan dibaca dengan membalikkan halamannya, sastra cyber memiliki variasi bentuk penyajian. Sastra cyber disajikan dengan lebih pendek dan dibaca dengan digulir, berpindah bab dengan mengeklik tautan yang tertera, dapat pula disajikan sama seperti versi cetak, yaitu membalikkan halaman. 

Pemublikasian sastra cyber lantas berkembang sampai memanfaatkan media sosial dengan aktivitas penggunaan yang tinggi. Sastra cyber selain bentuk dan medianya yang berbeda, penilaian kualitasnya pun ikut berubah. Sastra cetak terbukti kualitasnya dengan banyaknya jumlah cetakan buku. Sementara sastra cyber dibuktikan dengan banyaknya like dan respon positif pembaca lainnya. 

Namun, sastra cetak masih dianggap lebih unggul kualitasnya saat ini. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya sastra cyber yang diterbitkan dalam versi cetak setelah mendapatkan banyak pembaca atau respon positif. 

Salah satu bentuk sastra cyber yang diangkat menjadi sastra cetak adalah AU atau Alternate Universe yang berkembang di media sosial Twitter. AU merupakan salah satu jenis karya sastra yang menceritakan tokoh idola dengan situasi yang berbeda. Misalnya, tokoh A adalah penyanyi terkenal dari negara tertentu, dalam AU digambarkan sebagai pelukis dari Indonesia. 

Awalnya, kebanyakan sastra cyber yang diangkat menjadi sastra cetak berasal dari aplikasi khusus kepenulisan, seperti Wattpad. Namun, semakin luasnya media pemublikasian sastra dan aktivitas pembaca, penerbit pun mulai melirik dari media-media tersebut. Tidak terkecuali AU dari Twitter.

Alternate Universe biasanya dibuat dengan memanfaatkan thread dengan menyisipkan gambar dan beberapa keterangan. Gambar-gambar ini berisi tangkapan layar chat tokoh-tokoh idola yang ditempatkan sebagai karakter utama cerita bersama original character sebagai karakter pendukungnya. 

Kelihaian penulis dalam merangkai cerita dan menciptakan situasi menjadi poin penting untuk menarik pembaca. Melalui media sosial Twitter yang cepat menciptakan tren, sangat memungkinkan AU tersebut menjadi viral dan pada akhirnya dilirik penerbit untuk dibuat versi cetak. 

Bukti nyatanya adalah novel Angkasa dan 56 Hari, sebuah novel yang diangkat dari Alternate Universe terkenal oleh pemilik akun Twitter Ravinkyu, Destashya Wdp. 

Bukan hanya diterbitkan menjadi buku cetak, sastra cyber juga memungkinkan dijadikan film atau serial. Hal ini tentu menjadi ladang terbuka selain menerbitkan karya, yaitu menghasilkan pundi-pundi rupiah. 

Sudah tidak diragukan lagi bahwa menulis bukan hanya tentang hobi. Menulis juga menjadi pekerjaan yang pastinya diharapkan menghasilkan uang. Realitanya, uang adalah kebutuhan pokok untuk menjalankan hidup. 

Atas keberhasilan penulis-penulis Alternate Universe dalam meloloskan karya mereka dalam bentuk cetak, penulis lain dapat termotivasi untuk membuat karya fantastisnya dan memanfaatkan momentum yang tengah hangat ini. 

Dengan perkembangan sastra dan pasar pembaca yang terus bergerak, pastinya para penulis tidak serta-merta melepaskan kesempatan yang tidak datang dua kali untuk menarik minat penerbit. 

Perlu diperhatikan beberapa hal apabila sastra cyber berupa Alternate Universe akan dimuat dalam versi cetak. Tokoh idola terkenal yang diterapkan sebagai karakter dalam cerita haruslah tidak menggunakan nama asli tokoh. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari adanya tuntutan atas hak cipta. Setelah dipublikasikan, karya tersebut tidak lagi menjadi karya nonkomersial. 

Visualisasi tokoh terkenal pun tidak digunakan lagi dalam karya tersebut, seperti pada sampul buku. Alasannya sama seperti pada penggunaan nama, yaitu menghindari adanya pelanggaran hak cipta. Segala hal yang bersangkutan dengan tokoh asli karakter tersebut haruslah dilepaskan dari karya yang diterbitkan. 

Melalui pembahasan yang telah dijabarkan, dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan sastra cyber menunjukkan sisi positifnya. Sastra cyber berkontribusi dalam peningkatan kreativitas penulis dalam menuangkan karya di berbagai media yang berpotensi menarik pembaca. 

Salah satu bentuk sastra cyber berupa Alternate Universe pun menunjukkan masa keemasannya dengan menarik perhatian penerbit untuk membuat versi cetak dan film. Pada akhirnya, tren Alternate Universe menciptakan ladang komersial baru.