Pemikiran tafsir kontemporer, yang memberikan warna baru terhadap dunia penafsiran, yang ‘berevolusi’ dari tafsir klasik-pertengahan menuju tafsir modern-kontemporer, berusaha memberikan tawaran-tawaran ide dengan adanya shifting paradigm (pergeseran paradigma) yang menunjukkan adanya ciri khas yang menonjol dari pemikiran tafsir kontemporer.

Pemikiran-pemikiran tafsir para tokoh pada masa kontemporer ini mempunyai kegelisahan masing-masing terhadap pemikiran tafsir klasik yang cenderung ‘atomistik’ dan ‘subjektif’ dalam melihat naşh. Tafsir klasik lebih terlihat sebagai tafsir kepemilikan masing-masing golongan. Kegiatan penafsiran hanya dilakukan untuk kepentingan golongan yang digunakan untuk menjustifikasi pendapat mereka sehingga dapat dijadikan hujjah atas apa yang mereka lakukan. 

Oleh karena itu, para pemikir tafsir kontemporer muncul untuk berusaha mengangkat ide untuk bertitik tolak pada pemikiran yang jumud dan statis. Salah satunya adalah Nasr Hamid Abu Zayd.

Nasr Hamid Abu Zayd merupakan salah satu tokoh yang menjadi sorotan pada abad 21 M. Banyak pemikirannya yang memacu reaksi keras dari kalangan ulama-ulama muslim. Pendapatnya dianggap melenceng dari prinsip-prinsip yang telah dirumuskan Islam.

Nasr Hamid Abu Zayd dilahirkan pada tanggal 10 Juli 1943 di Desa Qahafah dekat Kota Thantha ibukota Provinsi al-Ghorbiyah, Mesir. Orangtuanya memberi nama dengan nama Nasr dengan harapan agar Nasr selalu membawa kemenangan atas lawan-lawannya, karena kelahirannya bertepatan dengan adanya Perang Dunia II.

Nasr adalah seorang anak yang telah belajar Alquran dari sejak kecil. Ia adalah seorang hafidz dan mampu mengungkapkan isi Alquran sejak usia delapan tahun.

Nasr Hamid memulai perjalanan keilmuannya di Sekolah Teknik Tantha, lulus pada tahun 1960. Kemudian melanjutkan tholabul ‘ilminya pada tahun 1968 di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Kairo. Sejak saat itu dia menunjukkan tingkat intelektualitasnya dan menjadi mahasiswa yang kritis.

Pada tahun 1972, ia memperoleh gelar kesarjanaannya kemudian menjadi asisten dosen pada jurusan yang sama. Nasr lalu melanjutkan pendidikan magister pada program yang sama dan selesai pada tahun 1997, memperoleh gelar Ph.D pada tahun1981.

Seiring rihlah akademis Nasr Hamid, ia telah menghasilkan banyak karya pena dengan berbagai karya di bidang studi keislaman, salah satunya adalah mafhūm an-naṣ yang memacu banyak respons negatif dari kalangan muslim dan mendapatkan respons positif dari para akademisi.

Kitab tersebut adalah ‘metodologi’ baru yang ditawarkan Nasr Hamid dalam memahami teks Alquran. Buku ini merupakan respons terhadap proses dialektika yang terjadi antara teks dengan realitas serta proses perdebatan wacana keislaman. Melalui sikap kritisnya terhadap wacana tersebut, Nasr merasa perlu adanya sebuah ‘rekonstruksi metodologi’ dalam pembacaan Alquran.

Pemikiran Nasr Hamid tidaklah murni dari pemikirannya sendiri. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh gurunya Amin al-Khuli yang dikenal sebagai peletak dasar Alquran sebagai kitab sastra bahasa Arab terbesar.

Anggapan ini mempunyai dampak bahwa untuk memahami Alquran harus mendahulukan kajian sastra atau dalam terminologi Amin al-Khulli disebut dengan ‘al-manāhij al-adabī’ yang dilakukan dengan obyektif. Ini merupakan langkah awal dalam melakukan interpretasi sebelum melangkah ke tahap berikutnya.

Alquran pertama kali berinteraksi dengan masyarakat Arab pada masa Nabi Muhammad SAW. Keahlian mereka adalah dalam bidang bahasa dan sastra Arab. Di mana-mana terjadi perlombaan dalam menyusun syair atau khotbah, petuah-petuah, dan nasihat. Dari pernyataan tersebut, terlihat bahwa Alquran sebagai mukjizat yang turun sangat berinteraksi dan menginternalisasi dengan budaya masyarakat Arab setempat.

Pemikiran yang ditawarkan Nasr Hamid tentang Alquran adalah berangkat dari pemahaman tentang hakikat teks Alquran. Hal ini berkaitan dengan perdebatan antara Mu’tazilah dan Asy’ariyah tentang hakikat Alquran.

Menurut Mu’tazilah, Alquran bukanlah merupakan sifat, tetapi perbuatan Tuhan. Dengan demikian, Alquran tidak bersifat kekal tetapi bersifat baru (ḥadiṡ) dan diciptakan Tuhan (makhluk). Sedangkan menurut Asy’ariyah, Alquran adalah sifat Tuhan yang pasti mempunyai sifat kekal sebagaimana kekekalan tuhan itu sendiri.

Dari kedua pandangan tersebut, Nasr lebih memilih pandangan Mu’tazilah bahwa Alquran adalah makhlūq (diciptakan Tuhan). Hal ini mempunyai dampak pada tiga hal, yaitu, pertama, Alquran adalah sebuah teks bahasa. Oleh karena bahasa tidak bisa dipisahkan dari budaya dan sejarah, maka Alquran bisa disebut dnegan teks kultural dan historis.

Kedua, teks harus dikaji dengan menggunakan pendekatan linguistik dan sastra yang memperhatikan aspek kultural dan historisitas suatu teks. Ketiga, titik berangkatnya adalah bukan dari keimanan, tetapi dari obyektivitas keilmuan, sehingga baik Muslim maupun Non-Muslim, dapat memberikan kontribusi dalam studi Alquran.

Dalam pandangan inilah beliau mencetuskan konsep desakralisasi Alquran yang menimbulkan adanya implikasi-implikasi negatif dari konsep tersebut berupa ‘dekonstruksi Alquran’. Alquran dianggap bukan lagi sebagai teks Tuhan yang sakral, tetapi telah bergeser menjadi ‘teks manusiawi’.

Di awal pembahasan dalam buku mafhūm an-naş, Nasr Hamid menyatakan bahwa sebagai teks bahasa, Alquran disebut sebagai teks sentral dalam sejarah Arab. Maksudnya adalah dasar-dasar ilmu dan budaya Arab berinteraksi dengan Islam dan berangkat atas landasan teks.

Teks tidak akan membentuk suatu peradaban jika teks berdiri sendiri tanpa adanya suatu realitas budaya yang mengiringi teks tersebut. Akan tetapi, peradaban dan kebudayaan akan terbentuk ketika adanya proses interaksi antara manusia, realitas dan teks. Oleh karena itu, Nasr mempunyai pandangan bahwa Alquran adalah produk budaya (Muntaj as-Saqafi).

Yang dimaksud oleh Nasr tentang Alquran sebagai produk budaya (Muntaj as-Saqafi) adalah teks terbentuk dalam suatu realitas budaya dalam rentang waktu lebih dari dua puluh tahun. Pada dasarnya, Alquran adalah berbahasa Arab dan bahasa sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial pada saat Alquran diturunkan, dan bahasa tersebut merepresentasikan sistem tanda dalam struktur budaya secara umum.

Konsep desakralisasi Alquran sebagai impact pendangannya bahwa Alquran sebagai produk budaya, fenomena sejarah, teks manusiawi, dan karangan Muhammad, serta Alquran boleh ditafsirkan oleh siapa saja sebagaimana yang telah diungkapkan Nasr dalam mafhūm an-naṣ terinspirasi dari pandangan mu’tazilah yang menyatakan bahwa Alquran adalah makhluk dan kemudian menggunakan metode hermeneutika dalam menafsirkan Alquran. Beliau mendekonstruksi Alquran, menggugat ‘otentisitas’ Alquran dan kesakralannya, serta relativisme tafsir.

Penulis berasumsi bahwa Nasr Hamid Abu Zayd melakukan defamiliarisasi terhadap tawaran pemikirannya yang menyatakan bahwa Alquran adalah produk budaya sebagai responz atas kedekatannya dengan gurunya Amin al-Khuli dan sebagai pengembangan pengetahuannya terhadap konteks realitas budaya dan sangat menginternalisasi dalam kehidupan masyarakat Arab pada saat Alquran turun.

Penafsiran Alquran sebagai teks bahasa tidak bisa dipahami hanya dengan menganalisis bahasa secara inheren. Hal ini dikarenakan Alquran turun bukan terhadap masyarakat yang sama sekali tidak memiliki budaya.