Ada jenis musik tertentu di mana peran lirik begitu besar, sementara melodi, nada, komposisi hanyalah menjadi latarnya belaka. Di lain pihak, ada musik dari jenis lain: peran lirik nyaris hilang sama sekali di sana, seperti dalam musik-musik klasik.

Kita bisa memandang ini sebagai sebuah spektrum musik: dari yang paling kiri di mana peran sentral ada pada komposisi, seperti dalam musik klasik, hingga ke ujung ekstrim lain di sebelah kanan di mana lirik menjadi kekuatan utama.

Contoh musik pada ujung kanan spektrum ini adalah lagu Imagine yang digubah dan dinyanyikan John Lennon. Saya percaya, liriklah yang membuat lagu ini abadi, dikenang sepanjang masa. Saya ingin menyebut lagu ini sebagai “the anthem of humankind”, lagu kebangsaan manusia.

Tentu saja, nada dan melodi dalam lagu ini amat penting. Jika lagu John Lennon ini dinyanyikan dengan cara lain, belum tentu ia akan seabadi saat ini. Tetapi, saya tetap berpendapat bahwa liriklah yang menjadi kekuatan lagu ini. Jika dibuat semcam skala perbandingan, rasionya kira-kira: 60:40. Yakni: 60% lirik, dan 40% komposisi dan nada.

Saya ingin menempatkan hit Adele, All I Ask, yang diputar di seluruh stasiun radio di dunia saat ini dalam jenis lagu seperti ini: lagu yang kekuatannya ada pada lirik, bukan pada musiknya. Sekali lagi, komposisi lagu jelas penting. Jika lagu ini dinyanyikan dengan cara lain, komposisi yang berbeda, mungkin pengaruhnya tak akan sedahsyat sekarang ini.

Tetapi, sebagaimana dalam lagu Imagine, kekuatan lagu Adele ini terletak pada lirik. Liriklah yang menjadikannya begitu menyentuh, membuat banyak orang menitikkkan air mata.

Lagu ini jelas lagu yang teramat sedih. Adele memang bisa disebut sebagai “a master(ess) of sad song”. Ia berbicara tentang dua orang kekasih yang, karena satu dan lain hal, harus berpisah untuk selama-lamanya. Dan tibalah malam terakhir itu, sebelum esok paginya mereka menempuh hari lain, mungkin tanpa cinta sama sekali. Ini adalah lagu tentang malam perpisahan antara dua orang kekasih.

Tetapi, mereka tak mau begitu saja terjatuh secara “deterministik” dalam perpisahan yang membawa kenangan yang pahit. Mereka ingin menjadikannya sebagai perpisahan yang “meaningful”, bermakna; perpisahan yang membawa memori indah yang bisa dikenang; memori yang mirip dengan sebuah album foto cantik dari masa lalu yang romantik.

Dalam lagu ini, ada dua unsur yang saling bertolak belakang; ada tegangan antara dua titik pendulum. Di satu pihak, ada fatalisme: perpisahan yang tak terhindarkan, yang sudah disuratkan oleh nasib. Tetapi di titik pendulum yang lain, ada usaha untuk tidak sepenuhnya menyerah pada nasib; ada “free will”, kehendak manusia untuk membuat nasib itu tidak sepahit jika dibiarkan begitu saja, tanpa intervensi manusia. Di sana ada usaha untuk membuat perpisahan itu “less fatalistic”, tak terlalu diserahkan begitu saja pada nasib yang ganas.

Tegangan antara dua titik inilah, saya kira, yang membuat lagu Adele ini menjadi begitu memikat, mengharukan, membawa pendengarnya seolah-olah mengalami langsung perpisahan yang pahit semacam itu.

Mari kita ikuti lirik Adele yang indah dalam lagu All I Ask itu. Lagu ini dimulai dengan sebuah pembukaan yang menyedihkan. Kesedihan di sana menjadi lebih akut lagi karena ia disadari. Dengarlah lirik ini:

I will leave my heart at the door, I won’t say a word.

Dalam hati, saya berteriak: Adele ini jangkrik betul. Kok bisa dia menulis lirik dengan pembukaan yang indah seperti ini.

Mari kita bayangkan sepasang laki-perempuan yang terikat oleh hubungan percintaan. Mereka sadar akan segera berpisah, dan harus bertemu untuk terakhir kalinya dalam sebuah malam perpisahan. Agar perpisahan itu tak terasa terlalu sakit, mereka mencoba untuk “menahan diri”.

Kira-kira situasinya akan seperti ini: Baiklah, besok pagi kita tak akan jadi sepasang kekasih lagi. Ini malam terakhir. Mari kita bertemu. Dan mari kita menjaga perasaan masing-masing. Mari kita tinggalkan rasa cinta di luar sana, dan kita masuk ke ruangan ini dengan perasaan biasa, seolah-olah tak ada apa-apa di antara kita berdua.

Mungkinkah sikap pura-pura semacam itu dilakukan oleh sepasang kekasih? Rasanya mustahil. Sepasang kekasih tak mungkin berpura-pura berada pada situasi “just –a-friend relationship” seperti itu, hubungan yang seolah-olah hanya teman biasa saja. Itu nyaris tak mungkin.

Adele membuka lagunya dengan dua suasana psikologis yang menarik: self-restrain (menahan diri), dan sebuah permainan untuk menyangkal adanya ikatan cinta.

So, why don’t we just play pretend, like we’re not scared of what is coming next, or scared of having nothing left!

Kita tahu, ini permainan yang mustahil, tetapi toh mereka tetap mencobanya.

Karena si perempuan (mungkin juga si laki-laki; kita bisa memandang pencakap atau locutor lagu ini adalah pihak perempuan atau laki-laki) khawatir disalahpahami bahwa dia tak rela berpisah, dan tetap ingin berada dalam hubungan percintaan, ia segera memberi semacam disclaimer:

Look, don’t get me wrong, I know there is no tomorrow.

Kira-kira, dalam bahasa gaul anak-anal Jakarta sekarang, lagu ini akan berbunyi: Jangan salah paham, aku ngga ingin balikan lagi kok. Aku Cuma ingin kita pisahan dengan baik-baik. Okeeee…

Lalu kita sampai pada refrain yang sangat menggetarkan ini:

All I ask is
If this is my last night with you
Hold me like I’m more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
‘Cause what if I never love again?

Saya menduga, saat menuliskan lirik ini, boleh jadi Adele menitikkan air mata. Pada bagian inilah, seluruh kekuatan lagu Adela bertumpu. Inilah klimaks dari bagian sebelumnya yang boleh kita pandang sebagai semacam mukaddimah belaka.

Membaca bagian ini, kita seperti berhadapan dengan sebuah situasi yang penuh dengan kalibut dan gebalau perasaan yang campur aduk bukan main. Bagian ini dibuka dengan sebuah pengandaian yang menusuk-nusuk: Andai ini adalah malam terakhir, bisakah kita tak terburu-buru berpura-pura bahwa hubungan kita telah berakhir, lalu berpura-pura menjadi teman biasa? Bisakah kita tetap berpegangan tangan, dan tetap berpura-pura menjadi sepasang kekasih, untuk terakhir kalinya.

Sepasang kekasih ini mencoba mengatasi nasib perpisahan yang tak terhindarkan dengan sebuah intervensi aktif: pura-pura tetap menjalin hubungan percintaan. Sebab ini adalah malam terakhir mereka. Manusia tak harus menyerah pada nasib. Ia bisa meng-customize nasib itu dengan cara yang khas, sesuai dengan cara dia. Yang manusiawi mencoba menegosiasi, menawar yang ilahi.

Dengan cara apa? Give me a memory I can use. Mereka mencoba untuk menawar keniscayaan nasib perpisahan itu dengan sebuah kenangan, memori yang indah. Sebab, dan inilah yang tragis pada lagu ini, siapa tahu tak ada cinta lagi setelah malam terakhir itu? Kalaulah mereka tak bisa jatuh cinta lagi setelah malam itu, mereka toh masih memiliki kenangan tentang sebuah cinta. Masih ada beberapa lembar album yang bisa mereka lihat kembali, di masa mendatang.

Tentu nada refrain ini agak sedikit lebay. Siapapun yang putus cinta akan jatuh cinta lagi setelah “move on” dari cinta sebelumnya. Rasanya jarang kita jumpai seorang yang jatuh cinta begitu mendalam, lalu putus, dan tak mampu jatuh cinta lagi.

Tetapi, kita harus mendekati lagu ini bukan sebagai seorang sosiolog yang berdiri dingin sebagai seorang pengamat dari kejauhan. Kita hanya bisa memahami peliknya perasaan cinta jika kita mencoba menjadi seorang fenomenolog: orang yang berusaha masuk dan menyelami sebuah fenomen, gejala, lalu mencoba melakukan sesuatu yang sulit: yaitu, putting ourselves in other’s shoes; merasakan perasaan orang lain.

Seseorang yang jatuh cinta dengan begitu mendalam, akan merasakan bahwa seolah-olah cinta yang mendera mereka itu adalah “the last and the greatest love ever”. Mereka merasa bahwa cinta yang dialaminya adalah cinta yang paling murni dan paling menggairahan dari seluruh cinta yang pernah ada dalam sejarah manusia sejak Nabi Adam.

Ketika putus, mereka pun lalu membayangkan bahwa tak akan ada cinta lagi setelah itu. Karena itu, perpisahan tak boleh menjadi perpisahan yang biasa saja, perpisahan yang menyerah sepenuhnya pada nasib secara fatalistik. Kata Adele, It matters how it ends. Bagaimana hubungan cinta kasih itu berakhir, sangat penting. Bahwa cinta itu akan berakhir pada malam tersebut, ya, tak terhindarkan lagi.

Pertanyaannya: Berakhir dengan cara bagaimana?

Konon Adele hanya bisa menulis lagu saat bersedih. Saat bergembira dan tak ada pengalaman yang menyentuh pori-pori perasaannya, Adele, konon, sulit menggubah lagu. Kekuatan lagu Adele, antara lain, mungkin disebabkan oleh sifat lirik-liriknya yang cenderung biografis: bercerita tentang pengalamannya sendiri. Sebelumnya, kita kenal Adele dengan lagunya yang mengharu-biru juga: Someone Like You.

Memang agak menyedihkan bahwa salah satu lagu paling populer di jagat manusia sekarang ini justru lagu yang berkisah tentang kesedihan. Tetapi, anehnya, kita menikmati perasaan sedih yang tertuang dalam lagu Adele ini. Seolah-olah kita semua sedang mengalami malam terakhir dalam kisah percintaan.