Manusia adalah makhluk sosial dan dengan nature seperti itu, tidak salah kalau manusia adalah makhluk yang bercerita dan berbagi cerita, termasuk lewat curhat (curahan hati). Seorang teman baik pernah mengatakan kepada saya, perempuan biasanya survive karena curhat. Curhat jadi mekanisme healing yang dianggap tokcer untuk setidaknya melegakan diri dari beban pikiran dan perasaan ini dan itu.

Curhat juga gak melulu soal cinta, biar cinta dan perasaan (apapun yang terkait dengan ‘baper’) biasanya jadi agenda dominan dalam curhat. Ada juga curhat serius, misalnya soal pekerjaan, cita-cita, dan lain-lain.

Tapi pada dasarnya, curhat adalah bagian dari kebutuhan manusia, meskipun gak semua orang nyaman dan terbuka soal kehidupan dan pandangan pribadinya atau melihat curhat sebagai mekanisme yang cukup membantu untuk meringankan pikiran.

Lagipula, siapa sih yang mau terlihat lemah, susah, menyedihkan, atau kesan negatif lainnya ketika curhat tentang masalah pribadinya? Sebenarnya kembali ke siapa yang kita ajak bicara juga sih. Misalnya, sedekat apa kita nyaman untuk terbuka soal curhatan kita sama orang lain, se-‘rahasia’ atau sepenting apa curhatan kita, apa orang yang kita curhatin punya reputasi ‘bocor’ alias tidak bisa dipercaya. Tapi toh, kadang dan mungkin tiba-tiba curhatan kita mengalir begitu saja, bahkan ke orang yang gak necessarily dekat atau mungkin baru kita kenal.

Bahkan curhatan kita bisa mengalir lancar tanpa jeda dan ekspresi kita begitu lepas, tidak peduli dengan siapa kita curhat. Yang penting semua unek-unek keluar dan semua ekspresi yang terpendam tersalurkan. Curhat sebagai mekanisme healing memang tidak berarti memberikan solusi, tapi untuk sikon tertentu, bukan gak mungkin curhat jadi kebutuhan mendesak untuk dipenuhi saat itu.

Lewat curhat sebenarnya secara langsung maupun tidak langsung, kita membangun koneksi dan semacam kepercayaan dengan orang-orang yang kita curhatin. Apalagi kalau curhatan kita mengundang refleksi dan curhatan dari orang lain, sehingga akhirnya curhatnya jadi saling, saling cerita dan saling berbagi.

Ini juga yang bikin curhat menarik, karena terkesan intim, bebas, dan ada aja cerita-cerita yang mirip atau kalaupun tidak bisa memberikan semacam ‘pencerahan’ dalam melihat dan memahami sesuatu yang pernah atau tengah dialami.

Yang jelas, utamanya curhat jadi salah satu cara untuk didengar dan mendapatkan perhatian, masukan, dan dukungan. Tentu saja reaksi orang yang dicurhatin juga beragam dan tidak selalu seperti yang diharapkan. Namun, curhat sendiri paling tidak sudah membantu di saat kita tahu menyimpan masalah sendirian itu bisa jadi ‘too much’ sometime.

Makanya, wajar banget kalau curhat bisa mengalir begitu saja tanpa melihat dengan siapa kita curhat atau bahkan di mana kita curhat, sampai-sampai kita gak sadar dan peduli kalau air mata sudah mulai menetes dan kemudian bercucuran hebat.

Curhat kemudian tidak selalu menjadi hal yang pribadi atau personal, karena sudah ‘dibagikan’ dengan orang lain. Malahan lewat beragam media sosial, orang lebih berani berbagi curhatan mereka, dari yang personal, gak penting, sampai yang benar-benar serius, seperti membicarakan kebijakan publik, kondisi ekonomi, politik, dll.

Saya sendiri juga pernah melakukan hal itu. Malah pernah salah satu curhatan saya di Twitter ditanggapi sebagai twit yang terkait dengan isu kebijakan publik dan demokrasi pada umumnya. He,he,he…let’s say, people see stories differently. In short, it’s a kind of a blessing in disguise. Atau mungkin somehow, pesan saya di balik curhatan itu dianggap ‘nyambung’ dengan topik serius yang dimaksud. Well, who knows, right?

Tapi untuk orang-orang yang benar-benar dekat dan kenal baik dengan saya, mereka tahu bahwa yang saya lontarkan di situ adalah curhatan. Biasanya mereka juga tidak banyak bertanya soal curhatan terakhir saya tapi tiap kali saya mulai curhat, kayaknya mereka sudah terbiasa jadi sahabat setia yang ‘tahu pasti’ agenda curhat dan mungkin cerita saya selanjutnya.

Nah, teman baik saya itu juga pernah bilang, “Gak ada resep dalam hidup, yang namanya perasaan itu gak bisa ditakar. Mau ada 1001 nasehat tiap curhat, toh kamu tahu ‘peta’ kamu sendiri dan sejauh mana kamu bisa nanggung ‘beban’ itu. Yang pasti, aku tetap di sini jadi pendengarmu.”

Teman baik yang sudah saya anggap kakak sendiri itu memang selalu punya kalimat-kalimat yang bijak dan menenangkan. Di sisi lain, jangan salah, dia bisa begitu tegas dengan memberikan komentar yang ‘jleb’ banget buat saya. Ada juga sahabat karib lain yang sering memotong curhatan saya karena terlalu sering dan ‘kebaca’, dengan komentar-komentar atau ‘guyonan’ yang bikin gemes, ketawa, malu sekaligus ngeselin, karena saking benarnya. He,he,he…

Apapun itu, saya tahu bahwa ada orang-orang baik di luar sana dan di sekitar sana, yang masih menyempatkan diri untuk mendengarkan ‘sampah’ curhat dari saya, mau yang hepi maupun yang galau. Dan selalu menyenangkan dan melegakan untuk tahu kalau mereka masih ada di sana dan mau membuang waktunya untuk mendengarkan curhatan saya yang bisa jadi membosankan, ketebak, dan basi.

Tapi somehow curhat juga jadi kesempatan untuk catch up di tengah rutinitas sehari-hari. Bahkan saat kita pikir kita tidak sedang atau niat untuk curhat, tapi tetiba kita mendapati diri kita tengah bercerita soal ini dan itu dan mendengarkan orang lain melakukan hal yang sama.

Curhat itu buat saya seperti sedang bermain ‘puzzles’ yang penuh dengan beragam kepingan baik bentuk, jumlah, maupun gambar. Kita bisa memulainya dengan memasang kepingan itu dari awal satu-persatu sampai utuh dan muncul gambar yang utuh. Atau kita membongkarnya dari awal , dari gambar yang utuh dan melucutinya satu persatu, dan mulai menyatukan kepingan-kepingan yang tersebar, sambil melihat pola yang ada.

Apakah curhat pada akhirnya juga membawa kita untuk mengikuti alur hidup, norma, dan reaksi yang ‘semestinya’? Mungkin ya, mungkin tidak, karena sebagai individu, masing-masing kita memiliki ego yang memahami beragam hal dengan cara dan sudut pandang yang berbeda.

Di sisi lain, kesamaan pandangan soal curhat yang kita ceritakan, biasanya membuat kita merasa lebih nyaman untuk curhat dengan orang-orang tertentu yang kita anggap lebih memahami kita.

Curhat memang bisa jadi mekanisme healing yang menyehatkan secara psikologis. Curhat tidak otomatis menyelesaikan masalah, namun bisa ‘membebaskan’ dan ‘mencerahkan’ perhaps kalau kita berbicara dengan orang yang tepat.

Dan yup orang yang tepat juga kriterianya akan sangat personal dan subyektif. Toh, in the end, semua kembali ke pilihan kita masing-masing dan our willingness to take the consequences, karena itulah hidup. Dan curhat adalah tentang menjadi manusia dan penanda betapa manusianya kita.