Aliran Suporter Sepak Bola

Sepak bola adalah hiburan masyarakat yang terdiri dari beberapa club yang memang tak bisa dipisahkan dari peran suporter. Tanpa dukungan dan kehadiran suporter di stadion, pertandingan sepak bola tentu terasa hambar dan tidak seru.

Kehadiran mereka dengan segala bentuk dukungan menyuntikkan tambahan tenaga bagi para pemain yang berlaga.Suporter akan menambah semarak pertandingan sepak bola. Hal itu dibuktikan melalui adu chants hingga lagu-lagu kreatif pembangkit semangat.

Dalam kelompok suporter biasanya memiliki sosok-sosok yang dijadikan panutan. Mereka yang jadi panutan disegani karena loyalitasnya dalam mendukung klub atau karena mampu memimpin suporter dalam jumlah besar.

Di dunia terdapat beberapa kelompok suporter sepak bola. Mereka dikenal memiliki loyalitas karena tak hanya mendukung dalam laga kandang saja, melainkan juga laga tandang di antaranya:

1. Holigan

Hooligan adalah sebutan untuk fans sepak bola di Inggris yang mulai sering terdengar antara tahun 1960an.

Mereka merupakan aliran sepak bola di Inggris yang umumnya dikenal kelompok suporter sering keluar masuk penjara, karena kerap terlibat bentrok fisik dengan suporter musuh maupun dengan pihak keamanan.

Mereka memiliki tradisi "away day" alias mengawal tim kesayangan ke luar kota. Bagi sebagian orang, perilaku mereka terkesan urakan. Mulai dari minum-minum, bernyanyi, hingga melakukan kerusuhan.

Dan gaya berpakaian mereka sudah dipersiapkan dengan sangat matang untuk sebuah perkelahian. Mereka sangat jarang menggunakan pakaian yang sama dengan tim idolanya, dan memilih berpakaian asal-asalan agar tidak oleh lawannya dan keamanan.

Selain itu jumlah pelakunya bukan satu dua orang melainkan sejumlah besar fans club tertentu. 

2.Casual

Antara tahun 1985-1990, pemerintah Inggris secara resmi melarang kegiatan Hooliganisme dalam bentuk apapun. Kebijakan ini dikeluarkan sebagai respons atas tragedi Hillsborough yang menewaskan 96 orang pada tahun 1985.

Hal itu membuat para Hooligan tak bisa mengenakan kostum tim kesayangan saat menonton sepak bola. Untuk mengatasi hal itu, Hooligan memilih untuk tetap datang ke stadion dengan mengenakan pakaian kasual yang kemudian melahirkan kelompok pendukung Casuals. 

Para suporter mengenakan pakaian dari desainer terkenal dan mahal untuk menghindari perhatian polisi.

Mereka tidak memakai atribut kebesaran team agar bisa dengan mudah menyusup ke kelompok supporter lawan.

Untuk mengatasi hal itu, Hooligan memilih untuk tetap datang ke stadion dengan mengenakan pakaian kasual yang kemudian melahirkan kelompok pendukung Casuals.

3.Tifosi

Tifosi sendiri pada dasarnya adalah bahasa Italia untuk kata "penggemar" atau fans.Sama seperti di Inggris, sepak bola juga telah menjadi bagian dalam budaya masyarakat Italia. 

Kelompok Tifosi adalah kelompok yang didominasi oleh keluarga kecil bersama anak mereka atau kadang juga sekelompok wanita. Mereka datang ke stadion dengan segala pernak-pernik klub, termasuk jersey, syal, dan topi.  

mereka bukanlah golongan supporter yang gemar bikin onar. Mereka khusus datang ke stadion untuk menonton bola dan bersenang-senang.

4.Ultras

Ultras diklaim sebagai kelompok supporter yang lebih ekstrem. Pada awalnya mereka muncul pada akhir 1960an. Kala itu, pendukung dari klub-klub Italia membentuk semacam geng yang menempati tribun berdiri di belakang gawang.

Sejak kemunculannya, ultras sudah berkembang dan menyebar hampir ke seluruh dunia. Beberapa kelompok ultras menjadi sangat terkenal, ada yang dikenal karena kebrutalannya, fanatismenya, hingga kreativitasnya.

Dan Koreo di ultras menawarkan koreo-koreo yang sangat menakjubkan. Koreo kertas hingga koreo 3 dimensi yang membuat kagum semua yang melihatnya.

Ciri khasnya mengenakan pakaian warna hitam menggunakan scarf dan jaket hoodie.Ultras menggunakan beragam koreografi, bendera-bendera berukuran besar, chants, juga menggunakan suar dan bom asap warna-warni.

Spanduk-spanduk terpampang di tribun, bendera-bendera raksasa dikibarkan di baris terdepan, teriakan yel-yel, koreografi gerakan, dan juga kembang api. Kegiatan itu dilakukan secara terus-menerus selama pertandingan berjalan.

Para ultras berpakaian hitam Karena warna hitam melambangkan kesolidan, keras, kejam, dan kokoh. Hal ini berbanding lurus di Italia. Ultras cenderung berani, solid, dan berotot siap untuk clash dengan aparat atau suporter lain.

Terkadang para seporter mereka akan memprotes pihak klub jika kebijakan klub dirasa kurang menguntungkan.

Di Indonesia, era ultras dipelopori oleh Brigata Curva Sud (BCS) yang memiliki arti brigade tribun selatan. Selain itu juga ada yang lain diantaranya,Green Nord ’27 suporter Persebaya Surabaya, Curva Nord Pekanbaru suporter PSPS Pekanbaru, Ultras Persija suporter Persija Jakarta dll.

5. Mania

Menurut KBBI, kata "mania" adalah gangguan jiwa dengan ciri gejala kemarahan, kegelisahan, kekalutan, atau kebingungan yg berlebih-lebihan. 

Kata "mania" seringkali digunakan oleh kelompok suppporter di Indonesia. Misalnya, Jakmania, Bonekmania, atau Aremania.

Ciri khasnya mania menggunakan jersey atau pernak-pernik khas tim kesebelasan kesayangan dan mengadaptasi lagu populer dengan mengubah lirik sesuai karakteristik tim dukungannya.

Kultur mania di Indonesia dipopulerkan oleh pendukung Arema Malang yang menamai diri Aremania.