Selain kuliner dan destinasi wisata, daya tarik baru dari sebuah kota adalah cerita romantisnya. Orang menyebutnya sebagai romantisasi kota. Kata romantis tidak lagi hanya sebatas urusan cinta-cintaan anak remaja. Kata romantis kini mulai menginvasi aspek ekonomi dan pariwisata.

Jogja memainkan peran penting dalam hal romantis-romantisan ini. Slogan-slogan asmara seperti “Jogja dibuat ketika Tuhan sedang jatuh cinta”, “Jogja tercipta dari rindu, pulang, dan angkringan”, hingga lagu-lagu romansa Jogja mampu meningkatkan daya tarik sebuah kota.

Usaha untuk menambah nilai estetis sebuah kota dengan cara meromantisasi rupanya cukup berhasil menarik orang untuk datang. Hal itu tentu berdampak pada sektor pariwisata, dan pada akhirnya ekonomi masyarakat kecil menengah menjadi sedikit terangkat.

Ketika kita mencari di google dengan kata kunci “romantisasi kota”, maka akan muncul romantisasi kota Jogja. Ratusan blog dan website menulis tentang keindahan, keanggunan, keramahan, dan kesantunan kota Jogja. Belum lagi akun-akun media sosial di Instagram, yang selain memuat konten kuliner Jogja, juga mengungkit dan menambah daya tarik Jogja dengan bahasa mereka yang ndakik-ndakik.

Media sosial memang berperan penting dalam menambah nilai romantisme sebuah kota. Tapi, romantisasi kota tidak hanya terjadi pada zaman sekarang. Romantisasi kota rupanya telah terjadi ribuan tahun silam di sebuah kota kuno bernama Yerusalem.

Yerusalem adalah kota yang dikenal sebagai kota suci tiga agama, yaitu Islam, Nasrani, dan Yahudi. Penganut tiga agama samawi tersebut pernah menghidupi kota dan menjadi penghuni yang mencintai tanah Yerusalem.

Raja Daud adalah raja pertama yang membangun kota Yerusalem, yang kemudian diperluas dan diperbesar oleh anaknya yaitu Sulaiman. Seperti yang disebutkan dalam sejarah, Sulaiman merupakan seorang nabi sekaligus raja yang mampu menguasai dunia gaib dan dunia nyata.

Jauh setelah itu, Yerusalem dikuasai oleh raja yang dikenal dalam sejarah sebagai raja yang agung, yaitu Cyrus. Ia merupakan raja Persia. Ia menguasai Yerusalem dan memperlakukan penduduknya dengan bijak, menjunjung toleransi, dan mengizinkan penduduk Yerusalem untuk beribadah sesuai dengan agama mereka. Bahkan Cyrus memutuskan untuk membangun kembali kuil Sulaiman yang sebelumnya telah dihancurkan oleh Raja Nebukadnezar.

Yerusalem memiliki sejarah yang panjang. Banyak nabi yang lahir di sana, sehingga raja-raja besar berebut untuk menginvasi tanahnya. Seakan belum lengkap rasanya jika belum berhasil menguasai Yerusalem. Tidak heran jika dalam perjalanan sejarahnya Yerusalem dikuasai oleh banyak imperium yang silih berganti.

Tiga agama, yaitu Islam, Nasrani, dan Yahudi, memiliki sejarah panjang di Yerusalem. Bahkan sampai sekarang Yerusalem masih saja diperebutkan. Hal itu mencerminkan keistimewaan Yerusalem di mata mereka.

Yerusalem memang memiliki bangunan fisik yang indah pada zamannya. Namun, raja-raja besar pada masa silam memperebutkan kota tersebut tentu bukan hanya karena Yerusalem memiliki bangunan yang indah saja. Akan tetapi Yerusalem menyimpan nilai yang tidak dimiliki kota lain di dunia saat itu.

Satu kota Yerusalem dibagi menjadi empat kawasan, yaitu kawasan Islam, Kristen, Yahudi, dan Armenia. Selain itu, Yerusalem memiliki bangunan-bangunan historis yang megah. Di kawasan Kristen terdapat Gereja Makam Kudus, di kawasan Islam terdapat Kubah Batu (Kubah As-Shakrah atau Dome of the Rock) yang diyakini pernah digunakan Nabi Muhammad untuk perjalanan Mi’raj. 

Selain itu juga terbangun megah sebuah Dinding Ratapan di kawasan Yahudi. Bangunan-bangunan tersebut tentu tidak hanya sebatas batuan yang tersusun rapi, tapi juga menyimpan nilai historis, kesakralan, dan kesucian.

Dalam buku Jerusalem the Biography karya Simon Sebag Montefiore, ia mengutip dari Midrash Tanhuma, Kedosyim 10 berbunyi, “Sepuluh ukuran keindahan turun ke dunia, sembilan diberikan kepada Yerusalem dan satu untuk seluruh dunia.”

Masih dari buku yang sama, kutipan lain datang dari Mazmur 137, “Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku! Biarlah lidahku melakat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!”

Pujian-pujian terhadap sebuah kota dengan bahasa yang begitu meliuk-liuk tentu tidak hanya datang dari pengelihatan terhadap bangunan fisik kota. Pujian tersebut datang dari hati yang tergugah ketika merenungi sebuah kota yang memiliki kemegahan dalam hati penikmatnya, kesucian kotanya, dan nilai historis yang begitu menancap.

Romantisasi kota saat ini sejatinya makin menambah nilai dari kota itu sendiri. Mengingat teknologi makin maju dan tidak sulit bagi kota di masa sekarang untuk mempercantik gedung-gedung mereka. Maka menceritakan keteduhan, nilai, dan kemolekan kota dari sudut pandang lain adalah usaha yang cukup tokcer dalam memperindah kota dari dalam hati.

Dalam konteks masa kini, Jogja adalah kota yang berhasil merebut hati orang-orang untuk berkunjung. Kota Jogja mampu memberikan pengalaman lain yang tidak nampak namun bisa dinikmati. Ke angkringan sembari mendengarkan syair ilahi, meminum secangkir kopi sambil berpuisi, hingga mengenang kembali Jogja dengan lagu-lagu yang memikat hati. Semua itu terjadi karena romantisasi.