Sejarah telah mencatat, bahwa negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia adalah Mesir. Maka wajar saja apabila hari ini banyak sekali pelajar Indonesia yang menimba ilmu di negeri yang dijuluki The gift of Nile itu.

Namun hal ini bukan sesuatu yang bisa terjadi tanpa sebab. Karena ternyata pada 1946 ada seorang penyair yang mengabadikan kisah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dalam sebuah naskah drama sehingga membuat simpati rakyat Mesir pada waktu itu. Penyair tersebut bernama Ali Ahmad Bakatsir.

Ali Ahmad Bakatsir adalah seorang sastrawan berkebangsaan Mesir yang lahir di Surabaya pada 1910 M. Bakatsir menghabiskan masa kecilnya di Surabaya hingga pada umur 8 tahun orang tua beliau mengirimnya ke Hadramaut, Yaman untuk melanjutkan pendidikan.

Bakat dan minat Bakatsir pada dunia sastra sudah tumbuh sejak beliau masih berumur 13 tahun. Ketekunan beliau dalam mengkaji dunia sastra mampu ia kembangkan dengan sangat baik sehingga di usia yang masih sangat muda beliau mampu menciptakan berbagai macam karya sastra seperti puisi dan prosa.

Bakatsir menjalani masa-masa mudanya dan menikah di Hadramaut hingga pada 1932 ia melakukan sebuah perjalanan spiritual ke berbagai tempat seperti Somalia, Ethiopia, Hejaz, Makkah, Madinah, dan Thaif, hingga pada akhirnya ia tiba di Mesir dan mulai menetap di sana pada 1934.

Kariernya dalam dunia kesusastraan pun makin melonjak hingga pada akhirnya beliau dikenal sebagai salah satu pelopor prosa di bidang naskah drama dalam dunia kesusastraan Arab hingga beliau wafat pada 1969.

Walaupun sudah menetap di Mesir dan menjadi warga negara tersebut, namun Bakatsir tidak pernah lupa dengan negara tempat ia lahir, yaitu Indonesia. Menghabiskan masa kecil di Indonesia membuat rasa cintanya kepada negeri yang pada waktu itu belum sepenuhnya merdeka ini begitu mendarah daging. 

Bukti kecintaannya yang begitu tinggi kepada tanah kelahirannya tersebut Bakatsir tuangkan pada sebuah naskah drama yang ia terbitkan pada 1946. Naskah drama tersebut berjudul Audatul Firdaus atau kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Kembalinya Surga Firdaus.

Audatul Firdaus merupakan sebuah naskah drama yang mengisahkan tentang perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaannya dari tangan penjajah. Dalam naskah drama ini, Bakatsir berusaha menyuarakan bahwa kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia merupakan hasil perjuangan bangsa itu sendiri dan bukan merupakan pemberian dari kaum penjajah.

Naskah drama ini juga menceritakan tentang jiwa nasionalisme serta usaha-usaha bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan, baik secara fisik maupun diplomasi politik.

Naskah drama ini juga menggunakan beberapa nama-nama tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia seperti Syahrir dan juga Soekarno. Para tokoh yang terdapat dalam naskah ini juga menunjukkan bagaimana para pejuang kemerdekaan Indonesia menggunakan semangat nasionalisme dan cinta tanah air sebagai visi dan misi untuk meraih cita-cita besar bangsa Indonesia. 

Penolakan atas penindasan yang terjadi serta semangat satu nusa satu bangsa dan satu bahasa yang dimunculkan dalam dialog-dialog antar-tokoh juga sangat menggambarkan bagaimana solidnya persatuan bangsa Indonesia di masa itu.

Salah satu bagian dialog yang detail menggambarkan pandangan dan tentang strategi meraih kemerdekaan Indonesia terdapat dalam sebuah dialog yang menceritakan tokoh bernama Majid dan Sulaiman saling bertukar pikiran. Majid yang diceritakan sebagai pengikut setia Soekarno menjelaskan bahwa langkah-langkah yang diambil Soekarno dalam meraih kemerdekaan yang lebih diplomatis agar mengurangi jumlah korban yang berjatuhan sudah tepat. 

Sementara Sulaiman yang lebih condong ke pemikiran Sutan Syahrir menjelaskan bahwa strategi berperang secara fisik dan tidak berkompromi pada penjajah sebagaimana yang disuarakan oleh Syahrir dan para golongan muda lain adalah bentuk sejati dari sebuah nasionalisme.

Isi dari naskah ini juga menjelaskan bagaimana sebuah kerangka berpikir yang disebut dengan nasionalisme bisa membangkitkan semangat bangsa-bangsa dunia ketiga untuk meraih kemerdekaan yang pada saat itu terjajah. Kondisi dunia yang pada itu sedang carut-marut pasca-Perang Dunia II mengharuskan mereka untuk bangkit dan menolak segala macam bentuk imperialism di muka bumi.

Secara tidak langsung, Bakatsir menjelaskan bahwa bangsa-bangsa yang terjajah harus meniru semangat perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan.

Naskah drama ini begitu populer di tanah Mesir pada akhir 40-an. Dialog serta isinya yang menarik membuat masyarakat Mesir pada waktu itu sangat menaruh simpati pada perjuangan bangsa Indonesia.

Bahkan berkat kepopuleran naskah ini, ada yang mengatakan kalau salah satu alasan mengapa Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1949 adalah besarnya peran naskah Audatul Firdaus dalam menyuarakan kemerdekaan Indonesia khususnya di negara Mesir.

Argumen ini dikuatkan oleh sebuah disertasi yang berjudul “Dialog dan Argumentasi dalam Drama Kembalinya Surga yang Hilang” karya Dr. Rizaldi Satria. Dalam penelitian tersebut, beliau menyimpulkan bahwa tanpa adanya naskah drama tersebut, para pelajar Indonesia tidak akan pernah membentuk Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia dan orang-orang Mesir tidak akan pernah tahu kondisi Indonesia.

Ia menjelaskan juga bahwa sosok seorang Bung Karno yang religius serta semangat nasionalisme yang dimiliki oleh bangsa Indonesia membuat rakyat Mesir menaruh simpati yang besar pada perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Begitulah kontribusi seorang Ali Ahmad Bakatsir untuk kemerdekan Indonesia. Tidak salah apabila Presiden Soekarno menganugerahi Bakatsir penghargaan Bintang Kehormatan Republik Indonesia di bidang seni sastra.

Karena berkatnyalah kisah kemerdekaan bangsa Indonesia akan abadi dalam sebuah karya sastra yang sangat digemari pada zamannya. Kita semua patut berbangga akan hal ini.