Peneliti
4 bulan lalu · 581 view · 5 min baca · Budaya 26821_95830.jpg
pxhere

Algoritme; Mitos Perang dan Senja Kala Uang

Manusia bakal kehilangan kendali, sebagai akumulasi dari proses evolusi yang menggiringnya masuk ke periode 4.0, revolusi digital. Setidaknya, begitulah kekhawatiran para humanis untuk menggambarkan bagaimana masa depan manusia diancam ‘robot-robot’ algoritme.

Benarkah algoritme mengancam manusia? Mari kita mulai dengan sesuatu yang dekat, yakni pengalaman. 

Bagi humanisme, pengalaman adalah wilayah pribadi. Di sinilah titik penting munculnya kontrak hak asasi.

Pengalaman-pengalaman, hingga kini, masih diyakini sebagai sesuatu yang autentik milik manusia. Pengalaman personal adalah kekayaan tak ternilai, yang sekaligus menjadi fondasi utama dicetuskannya hak kebebasan. Bahwa setiap manusia adalah entitas yang unik, karenanya penting dan harus memberinya kebebasan, yang tidak boleh diganggu atau dikekang. Begitulah prinsip liberalisme dibangun.

Hingga kini, keyakinan itu—hak asasi manusia—masih menjadi pengikat kontrak hubungan antarmanusia dalam sebuah tatanan negara. Kebebasan adalah sesuatu yang menjadi khas manusia, alasan klasik mengapa peradaban ini perlu dijaga dan diteruskan. 

Tetapi, Yuval menyangkalnya. Bahkan, tak ada sesuatu dalam diri manusia. Yuval mendekonstruksi liberalisme, sistem demokrasi, juga agama.

Pengalaman Tak Muncul dari Dalam

Pengalaman tak lebih sekadar akumulasi dari lingkungan eksternal manusia. Tak ada panggilan dari dalam. Dengan sendirinya, Yuval tak lagi sependapat dengan keyakinan bahwa manusia adalah entitas yang unik. Manusia tak lain hanyalah kumpulan algoritme yang, sebagaimana entitas lainnya, dibentuk oleh proses evolusi. 

Lalu, ke mana dunia ini mengarah? Bagaimana masa depan peradaban manusia?

Membaca masa depan manusia lewat Homo Deus karya Yuval menghadirkan kebingungan, sekaligus ketakutan. Pertanyaan-pertanyaan susul-menyusul hadir menginterupsi: bagaimana mungkin hidup tanpa makna? Bagaimana mungkin agama ini hanya delusi?

Tetapi, Yuval tidak sedang meramal. Ia menyusun rangkaian argumentasi logis dari sumber-sumber hasil riset yang terpublikasi dan telah teruji. Yuval mengoreksi keyakinan yang telah mengakar selama ribuan tahun. Keyakinan terhadap uang, negara-militer, juga keunikan manusia sebagai individu dipertanyakannya kembali.  

Yuval menyangkal eksistensi manusia-individu. Sebagaimana organisme adalah algoritme, manusia adalah susunan dari banyak algoritme.

Senja Kala uang


Lalu bagaimana masa depan manusia? Apakah beberapa dekade ke depan, kita akan menemukan mutasi antara gen manusia dengan sesuatu yang terbuat dari silikon? 

Ada hal lain yang menurut Yuval lebih penting untuk disadari dan segera diantisipasi, yakni manusia akan kehilangan kegunaan ekonomi dan militer.

Sejarah uang dan sistem ekonomi konvensional segera akan menemui titik akhirnya, prediksinya. Lebih spesifik, profesi manusia yang dahulu begitu membanggakan, setidaknya akan hilang atau tergantikan oleh algoritme. Telemarketer, kasir, chef, wasit olahraga, pengacara, dokter, arsiparis, bahkan pemandu wisata, juga sopir truk, beberapa dekade ke depan, akan digantikan oleh algoritme.

Manusia akan kehilangan banyak lapangan pekerjaan. Meskipun kabar baiknya, lapangan kerja baru juga akan tersedia. Syaratnya, adalah terus berkembang, memperbarui diri, dan beradaptasi, berulang-ulang. 

Manusia individu bukanlah sesuatu entitas yang istimewa, kecuali mereka yang terus belajar. Sayangnya, kata Yuval lagi, "banyak dan mungkin sebagian besar manusia tidak mampu melakukan itu."

Apakah ini menjadi ancaman bagi sistem ekonomi? Tanda-tanda itu sudah makin nyata sekarang. Setidaknya, suatu waktu nanti, yang mungkin tidak terlalu lama, hidup akan terus berlanjut tanpa perlu patuh terhadap kesepakatan tentang memberi nilai kepada kertas.

Mitos Perang

Perang dan senjata juga dikritiknya sebagai sebuah delusi semata. Kenyataannya, manusia modern berperang untuk alasan-alasan yang tidak masuk akal. 

Perang apa yang sedang dilakukan oleh Tarrant, pembunuh sadis di Selandia Baru, 15 Maret lalu? Tak masuk akal alasan supremasi ras putih; sama delusifnya perang ISIS yang mengampanyekan Pemerintahan Islam.

Pembunuh itu secara terbuka menyampaikan alasannya membunuh. Tetapi tetap saja akan selalu muncul pertanyaan, mengapa ia memilih membunuh? Mengapa ia tidak memiliki (atau memilih) pilihan lain?

Dari peristiwa pembantaian itu, kini kita sepatutnya menyadari satu hal, senjata seperti juga perang, keduanya sama sekali tidak masuk akal. Teror itu seperti mengiterupsi masa depan kita. Bahwa sains dan teknologi masih harus berhadapan dengan (bagaimana menemukan kembali) makna.

Negara-negara yang menginvestasikan uang mereka untuk perang seharusnya hari ini telah menyadari kesalahannya. Keberadaan ISIS yang seenaknya membunuh, membantai atas nama Tuhan, adalah sebuah bukti nyata kegagalan sejarah manusia dalam membentuk militer dan alasan mereka memproduksi senjata.

Perang hanya mitos. Bahkan jika semua alasan yang ingin membenarkan pembunuhan manusia atas manusia lainnya, tetap saja perang menunjukkan kemunduran. Bahkan, lebih terhormat, para peramu-pengumpul homo sapiens yang berkelahi demi otoritas lahan dan kelangsungan hidup kelompoknya.   


Individu yang Tidak Unik atau Individu yang Hilang?

Jika perang hanya mitos, maka manusia berperang sejatinya sedang melakukan sebuah kebodohan. Para pahlawan juga pecundang, dengan demikian, tak lain hanya menjadi produk sejarah. 

Tak ada sesuatu yang perlu dibanggakan atau ditangisi. Mereka yang mati di medan perang hanya kurang beruntung dibanding mereka yang selamat dan diberi gelar pahlawan yang dielukkan.

Perang yang menunjukkan kebodohan manusia dituding Yuval sebagai contoh nyata bahwa manusia bukanlah individu yang istimewa.     

Yuval menyangkal bahwa manusia sebagai entitas yang unik. Baginya, sistem akan terus menemukan nilai pada manusia, secara kolektif, bukan pada individu yang unik. Bahkan, di masa depan, jika menemukan individu unik, ia akan menjadi elite baru dan terbarukan, bukan massa populasi.

Premis Yuval sebenarnya sudah terjadi di sekolah. Orang-orang bersekolah, tetapi di sekolah, individu akan hilang oleh angka-angka, atau ada yang menyebutnya dengan istilah kualitas, lalu menetapkan ranking. Ranking kelas adalah stratifikasi yang lebih bermakna kekuasaan, alih-alih mencoba mengalkulasi hasil belajar.

Yuval menyebut, “studi-studi akademis lebih merupakan perjanjian ketimbang perjalanan spiritual karena sudah ada tujuan yang ditetapkan yang disetujui oleh para sesepuh, pemerintah dan bank.”

Setiap tahun, ribuan anak-anak masuk ke sekolah. Anak-anak yang di rumahnya adalah permata keluarga, mereka adalah individu terbaik. 

Kenyataannya, di sekolah, pengambil kebijakan hanya memilih satu atau beberapa orang saja. Namun lebih banyak lagi yang dibuang, disingkirkan oleh sistem yang telah ‘dianggap’ mapan di lembaga pendidikan.

Hasilnya? Anak-anak yang tersingkir itu benar-benar hilang dan lenyap di tengah kerumunan masyarakat yang mengimani budaya. Ya, anak-anak kita yang unik, penggembira, penari, sedikit nakal, dan tak terlalu paham aturan akan dicap sebagai orang-orang yang gagal. Terlalu cepat mereka gagal. Padahal, perjalanan masih panjang.

Lalu, ke mana anak-anak yang gagal itu? Mereka tidak ke mana-mana, mereka menjadi martir untuk determinasi budaya. Mereka berubah menjadi ‘kayu bakar’ sejarah, lalu menjadi abu untuk sesuatu, sebuah dunia yang katanya ‘berbudaya’.

Memupus Kesenjangan

Revolusi memang selalu seperti sebelumnya, akan memakan korban. Tetapi, sepertinya, jauh lebih penting untuk melihat apa yang terjadi kini. Masa depan manusia seharusnya tergambar jelas dengan apa yang manusia ributkan hari ini.


Sayangnya, keributan-keributan manusia masih berputar pada perebutan otoritas dan makna-makna delusif. Kita terlalu sering terlambat untuk menyadari, capaian prestasi dan kemajuan yang spektakuler telah meninggalkan ceruk yang lebar juga dalam terhadap entitas-manusia lainnya.

Memang, algoritme tidak akan memberontak melawan manusia. Ia bahkan akan dan selalu menghadirkan kemudahan-kemudahan untuk melayani manusia, lebih cepat. 

Tetapi kemudahan-kemudahan itu, jika tidak diantisipasi, akan menjadi jurang menganga yang segera akan menjatuhkan manusia. Jika peradaban ini adalah untuk kemanusiaan, maka musuh utama adalah kesenjangan dan perang yang tak pernah usai.

Artikel Terkait