Pesta demokrasi pemilu 2019 sudah di depan mata. Pastinya hampir semua pemilih sudah punya kandidat yang akan dipilih. Agaknya berubah pikiran untuk memilih kandidat lain di detik-detik terakhir sangat jarang terjadi. Pun jikalau ada, hanya terjadi pada pemilih galau yang memang dari awal belum memutuskan untuk memilih siapa. Mungkin belum ada calon yang dianggap tepat.

Jika anda belum memiliki pilihan, terutama calon legislatif, mungkin tulisan ini dapat menjadi pertimbangan dalam memilih tanggal 17 April nanti. Tulisan ini tidak akan menuntun anda untuk memilih salah satu kandidat, hanya ingin menunjukkan kekuatan pemuda dalam kontestasi politik Indonesia.

Mari kita ke negeri paman sam, melihat fenomena baru dalam dunia politik di Amerika Serikat.

Adalah Alexandria Ocasio-Cortez, salah satu anggota kongres Amerika Serikat dari Partai Demokrat yang terpilih pada  November 2018  lalu. Usianya yang baru menginjak 29 tahun membuatnya menciptakan sejarah baru dalam politik Amerika. Cortez merupakan perempuan termuda yang pernah menjadi anggota kongres Amerika Serikat.

Keberhasilan Ocasio-Cortez mengguncangkan publik Amerika. Bagaimana tidak, Ocasio-Cortez yang merupakan politisi pemula berhasil mengalahkan politisi senior kaya raya, Joseph Crowley yang merupakan salah satu petinggi partai dan telah menduduki jabatan sebagai anggota kongres sejak tahun 1999.

Ocasio-Cortez paham betul bahwa ia berasal dari kelas pekerja dan memiliki masalah finansial dalam keberlangsungan kampanyenya. Meskipun demikian, ia berani menolak donasi dari perusahaan. Ocasio-Cortez lebih memilih menerima sumbangan individu dan organisasi-organisasi progresif yang mendukung pencalonan nya. Media AS menyebutkan bahwa Ocasio-Cortez mampu menggalang dana sebanyak USD200.000, sementara lawannya menghabiskan uang USD 3,4 dalam kampanye.

"You can't really beat big money with more money. You have to beat them with a totally different game." 

Agaknya penyataan Ocasio-Cortez ketika itu ada benarnya. Dalam kampanyenya, ia menggunakan strategi tradisional dari pintu ke pintu dengan membawa pesan keadilan sosial. Pasca pengumuman kemenangannya, yang ia lakukan dalam kampanye adalah berbicara dengan orang-orang yang merasa kecewa, terpinggirkan, pesimis dengan politik, lalu memberitahu mereka bahwa ia berjuang untuk mereka.

Selain itu, Ocasio-Cortez juga memanfaatkan peran media sosial dalam kampanyenya. Salah satu ciri generasi milenial. Bahkan video kampanyenya sempat viral. Video  yang dibuka dengan penyataan “Perempuan seperti saya biasanya tidak berpolitik” itu mampu menarik perhatian pengguna media sosial.

Setelah menduduki kursi kongres, alumni Universitas Boston ini mendeskripsikan dirinya sebagai politisi berhaluan sosialis demokratik. Ia menyuarakan pendidikan tinggi bebas biaya, jaminan kesehatan untuk semua, isu lingkungan, jaminan kesempatan kerja, hak perempuan, dan juga keberpihakan pada imigran dan kelas pekerja di AS.

Ocasio-Cortez kerap menghebohkan publik AS dengan pidatonya yang powerful. Baru-baru ini, ia berpidato dengan berapi-api pasca proposalnya tentang New Green Deal untuk mengatasi perubahan iklim ditolak oleh anggota kongres. Di momen lain, pidatonya di Woman's March mampu mandapat tepuk riuh penonton.

Idealnya, begitulah bagaimana seharusnya wakil rakyat bersikap. Bukankah jabatan mereka adalah suara rakyat iu sendiri? Jika wakil rakyat tidak mampu bersuara lantang, maka untuk apa rakyat menitipkan suara mereka? Wakil rakyat memang dari Partai, tapi bukan partai yang menjadi arah perjuangan, melainkan kepentingan rakyat.

Saat ini, banyak politisi yang mempertontonkan pembelaan mereka pada elite politik partai, bukan pada rakyat yang mereka wakili.

Lalu bagaimana dengan wakil rakyat di Indonesia?

Mungkin banyak yang menyadari kalau kontestasi politik tahun ini mulai diminati oleh kaum milenial. Mereka tersebar menjadi caleg DPRD hingga DPR-RI. Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia meyebutkan bahwa sebanyak 21% caleg berusia 21-35 tahun. Artinya, ada banyak caleg berusia milenial yang mencoba mengadu peruntungan menjadi anggota parlemen.

Jumlah ini menunjukkan bahwa pemuda Indonesia sudah mulai tertarik dengan dunia politik dan pemerintahan. Kursi parlemen bukan lagi sebuah jabatan yang hanya bisa diisi oleh politisi senior yang punya banyak pengalaman, namun juga dapat disi oleh kaum muda yang kreatif dan berani.

“Beri aku pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Kata-kata Bung Karno itu mewakili harapan dan kepercayaannya pada pemuda. Bahwa pemuda dapat mengubah dunia. Bahkan reformasi akan jauh dari kata terwujud tanpa bantuan pemuda.

Seorang ulama pernah menyampaikan bahwa berilah pisau kepada pemuda agar mereka bisa berburu. Artinya, pemuda harus diberikan kesempatan agar mereka dapat membuat perubahan, membawa keadilan dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Mereka tak dapat menyuarakan aspirasinya tanpa diberikan kesempatan.

Bagi pemuda yang terpilih, maka tentukanlah arah perjuanganmu. Rakyat atau kepentingan elite?

Coba melihat pada akar rumput. Perhatikan nasib mereka. Tak banyak yang mereka harapkan. Hanya kemudahan dalam menjalani kehidupan. Mungkin hal-hal kecil seperti kemudahan membuat KTP, atau membuat akta kelahiran anak mereka, atau hanya sekadar air bersih untuk minum dan mandi.

Walau terlihat sepele, tapi itu masih menjadi pekerjaan besar bagi bangsa kita.