Fi(k)sikawan
3 tahun lalu · 721 view · 4 min baca · Budaya shadow-elephant.jpg
Foto: zenosphere.wordpress.com

Alegori Gua Plato dan Dualitas Kita

“Sudah lama jebakan dualitas mengungkung kita. Baik dan buruk. Amal dan dosa,” seru saya dalam kelas filsafat ilmu. Berusaha memantik dan menyulut rasa penasaran mereka. Sekilas terlihat beberapa mahasiswa yang geram terhadap saya. Sebagian kecil justru menaruh tangannya di bawah dagu yang saya duga karena berpikir. Sebagian besarnya kini melihat dengan tatapan remeh.

Pengganti profesor ini tak lebih dari seorang anak usia sembilan belas tahun yang baru kecantol filsafat, dugaku menerka apa yang ada di kepala para mahasiswa pascasarjana matematika ini.  

“Apakah itu salah?” lanjut saya bertanya retoris. Kelas masih dalam kondisi sepi argumen.

“Tidak juga.” Pandangan mereka kini berubah. Memandang  dengan rasa ingin tahu, sepertinya.

“Karena benar dan salah pun adalah jebakan dualitas.” Seru saya mengakhiri pertanyaan. Tatapan mereka berubah. Beberapa yang sempat ragu—mungkin juga tak percaya—kini membuka diri mengikuti kuliah yang saya ampu sehari karena si Profesor sedang ke Kyoto.

“Pak, bisa saya kopi presentasi yang bapak paparkan setelah kelas usai?” tanya salah seorang wanita yang mengikuti kuliah.

“Panggil saudara atau Anda saja.” Saya lalu tersenyum dan mengangguk.

/1/

Mari memulai

Mengapa ini benar? Mengapa ini salah?

Jawabannya karena kita memiliki landasan untuk menilai. Mengapa kita melihat pohon menjulang tinggi? Karena kita memiliki indra yang mencandranya. Jadi misalnya, tatkala anda sedang di kampus, jauh dari pohon, apa yang meneguhkan anda bahwa pohon tersebut masih menjulang? Tidak ada.

Di kampus, semua kemungkinan pada pohon itu adalah mungkin secara bersamaan. Entahkah pohon itu tiba-tiba raib ditebang. Ataukah tiba-tiba tenggelam ke dasar tanah, sempat lompat-lompat, sempat makan siang—karena diguyur hujan.

Namun di semesta kita, semua kemungkinan itu tereduksi hanya pada pengalaman sehari-hari. Dan karena kita mendasarkan pada pengalaman, maka landasan penilaian pun berkaitan di seputar itu. Sehingga akan aneh jika kita mendaftar semua kemungkinan dan mengatakannya pada penggembala di padang rumput tentang itu.

Si penggembala atau si Filsuf kondang atau si Professor pasti hanya akan mengatakan bahwa pohon itu tetap menjulang, atau pohon itu tidak menjulang. Pohon itu mungkin tidak menjulang karena tersambar petir dan roboh ataukah ditebang  untuk dijadikan papan oleh pemiliknya.

Itu yang kita sebut sebagai kemungkinan yang logis. Sehingga secara tak langsung pengalaman keseharian kita menyepakati mana yang boleh dan tidak boleh eksis sebagai kenyataan.

Kenyataan yang kita cerap berkaitan dengan hukum sebab akibat yang berlaku di alam. Pohon akan tetap menjulang karena tak ada yang mencongkel akarnya atau menebang batangnya. Sebab itu yang menentukan rangkaian keadaan yang mewujud sebagai kenyataan. Prinsip dasar ini yang kita sebut kausalitas.

Kenapa pohon tidak dimungkinkan melompat-lompat sendiri terlebih dahulu? Karena tak ada sebab—setidaknya sampai saat ini—yang bisa menyebabkan akibat demikian.

Tak jauh berbeda tatkala kita mengatakan ada pohon tumbang di hutan B. Apa yang membuat kita yakin bahwa betul-betul ada pohon tumbang di hutan B? Apa yang membuat kita punya landasan menilai perkataan itu keliru atau benar?

Tidak ada. Kenapa? Karena itu bukanlah proposisi yang biasa. Sampai ada peneguh yang mengatakan benar tidaknya argumentasi itu, maka proposisi itu saya sebut sebagai superposisi. Kumpulan kata yang di dalamnya berisi dua kemungkinan yang eksis secara simultan. Perkara benar tidaknya salah satu dari dua kemungkinan yang dikandung ditentukan dari ada tidaknya informasi pendukung.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apa yang membuat kita yakin pohon tumbang—jika memang betul tumbang—sebagai kebenaran mutlak. Bukankah tatkala belum ada informasi, semuanya masih soal sederet kemungkinan-kemungkinan lazim dan utopis.

Para filsuf mengalami pergulatan dengan Ada sudah sejak lama. Namun dari semua filsuf dari zaman Yunani, Skolastik sampai kontemporer—mungkin—hanya Heidegger yang paling dikenal. Namun, karena pikiran Heidegger bagusnya ditelaah secara sinambung setelah meninjau persoalan dalam metode kesangsian Descartes. Agar tahapannya tak meloncat sedemikian jauh.

Toh faktisitas lebih mengarah ke yang mistik, metafisik. Ibarat pohon kita langsung coba mencabut akarnya tanpa melihat batang, ranting, daun dan buahnya terlebih dahulu.

/2/

Menyangsikan

Metode dialog ala Plato atau teleologis ala Aristoteles sepertinya tak cukup memadai menjembatani kita menuju pemahaman yang kokoh. Yang bersandar pada ilmu secara umum dengan mtode-metode yang dikonfirmasi ketat. Maka Rene Descartes tampil lewat penyangsiannya. Menyangsikan segalanya, fakta sebelumnya bahkan diri sendiri untuk mendapat pijakan tak rapuh.

Bagaimana dengan indra kita? Apakah perlu juga disangsikan? Apakah ide juga perlu disangsikan?

Setiap filsuf—siapa pun dia—seolah tampil dalam kebenaran partilkular. Maka saya tiba-tiba teringat alegori gua dari Plato.

Konon ada sekelompok orang yang terpenjara dalam goa sejak kanak-kanak. Leher dan kaki mereka dibelenggu oleh rantai yang sangat kuat. Saking kuatnya belenggu itu, mereka hanya memandang dinding gua, tak mampu sekadar menengok mulut gua.

Terdapat tabir di belakang mereka, api dan orang yang mengangkat patung. Tatkala orang di balik tabir mengangkat sesuatu, maka mereka hanya melihat bayangan semu yang tertempel di dinding. Yang mereka lihat itulah yang bagi mereka sebuah kenyataan.

Gua itu analog dengan tempat kita hidup, dan orang yang dibelenggu laksana orang yang belum pernah berfilsafat. Bayangan yang mereka lihat adalah kenyataan yang kita anggap pasti. Sedangkan hakikat sejati dari bentuk yang sebenarnya objek adalah hakikat dari benda itu. Hakikat yang hanya tersingkap dari perenungan filosofis.

Karena itu, kata Plato, seorang harus mematahkan belenggu pada realitas dunia khayalan, ini dilakukan dengan merenungkan dalam ide-ide kita dan berupaya menjadikannya realitas terdalam.

Artikel Terkait