Freelancer
6 bulan lalu · 469 view · 5 min baca · Filsafat 69949_13114.jpg

Alegori Gua Plato

Sejak awal membaca judul ini, mungkin ada yang bertanya “apa itu alegori gua?”. Alegori merupakan majas atau analogi. Sedangkan konteks alegori gua di sini sebenarnya berbicara tentang pendidikan dan juga ajaran yang kompleks dari pemikiran Plato itu sendiri. 

Bisa dikatakan ajaran alegori gua ini ialah inti dari buku The Republic yang memuat doktrin umum mengenai ontologi/metafisika, epistemologi, dan filsafat politik. Alegori gua secara khusus juga menjelaskan tentang kewajiban filsuf untuk turun dan secara nyata terlibat langsung dengan urusan polis.

Penggambaran alegori gua ini diawali dengan penyanderaan manusia. Dalam Apaideusias, The Republic 514a3, disandera dalam gua merupakan pengalaman yang menggambarkan kondisi manusia yang tidak terdidik. 

Senada dalam buku Theaitetos (172c—177c), alegori gua juga merupakan tempat Plato berbicara secara luas tentang paideia (Pendidikan dan kebudayaan). Namun sangat disayangkan, Plato tidak menjelaskan secara detail kenapa mereka bisa disandera.

Selain itu, Plato juga berbicara mengenai para tawanan yang tinggal di dalam gua, di mana pandangan mereka hanya tertuju pada dinding gua karena terikat oleh rantai. Dikutip dari The Republic 515e, para tawanan bisa saja keluar dari dalam gua karena gua tersebut memiliki pintu keluar yang lebar, namun jalan untuk menuju pintu gua tersebut menanjak dan sangat curam. Bukan hanya itu saja, di dalam gua juga hanya diterangi oleh cahaya api unggun.


Gua tersebut memilki semacam tembok kecil dan tinggi pada lantai dasarnya. Tembok itu memisahkan antara para tawanan dan aktivitas keluar masuk budak yang membawa benda di balik tembok itu. 

Bila digambarkan, benda tersebut lebih tinggi dibanding api unggun yang menyala. Sebagaimana pertunjukkan wayang, ada sekat pemisah antara tawanan (penonton bayangan yang memantul pada dinding gua) dengan sumber bayangan/gambar itu berasal (enda yang dibawa oleh budak, yang bayangan/gambarnya terlihat pada dinding karena sebab penerangan api unggun).

Bagi para tawanan, bayangan pada dinding gua dianggap sebagai realitas yang sebenarnya. Wajar bila mereka menganggapnya begitu. Itu disebabkan karena sepanjang hidup mereka hanya melihat pantulan bayangan pada dinding gua. Suara aktivitas budak pun yang keluar masuk gua juga dianggap sebagai suara bayangan pada dinding gua yang mereka lihat.

Singkat cerita dalam The Republic 515e, para tawanan terlepas dari rantai yang mengikatnya secara kebetulan (tiba-tiba seperti proses pewahyuan tentang “ada”). Kemudian mereka berjalan dan naik menuju pintu gua dengan paksaan. Selanjutnya para tawanan yang bebas dipaksa dengan cara kekerasan (biai, The Republic 515e).

Setidaknya ada dua kejadian yang menarik untuk dipahami. Yang pertama, pada awal-awal proses pendidikan bisa dikatakan secara kebetulan, tetapi kebetulan di sini bukan sembarang kebetulan karena ada pengorbanan dari para tawanan. Dan saat para tawanan bebas dari gua, mereka merasakan sakit pada mata dan leher akibat melihat cahaya api unggun dan bayangan asal benda yang ada pada dinding gua sewaktu terbelenggu oleh rantai yang mengikatnya di dalam gua.

Yang kedua, setelah kejadian di atas terlewati keberlanjutan pendidikan pun akan terus berlangsung. Di mana mereka akan dipaksa lagi untuk terus naik melintasi jalan yang curam untuk menuju pintu gua. Para tawanan yang melakukan pengorbanan dengan penggambaran “paksaan/dipaksa dan kekerasan” oleh Plato menimbulkan interpretasi bahwa mendidik calon pemimpin haruslah dengan paksaan dan kekerasan.

Bayang-bayang/bayangan bisa saja diinterpretasikan sebagai kekaguman seseorang melihat sesuatu yang hebat padahal barang tentu sesuatu itu tidak hebat. Paksaan di atas juga menunjukkan arti usaha seseorang untuk  keluar dari zona nyaman, entah itu dengan tempaan yang ketat maupun sejenis dengan itu.

Adapun kekerasan mengandung interpretasi ketidaknyamanan yang dialami seseorang saat mencoba meninggalkan cara berpikir lama ke cara berpikir baru demi menemukan visi realitas yang baru. Kekerasan di sini juga merupakan suatu tantangan dari orang-orang sekitar yang menentang pemikiran kritis ataupun visi realitas baru dari seseorang akibat pendidikan yang baik.

Naiknya para tawanan untuk keluar dari gua, nantinya akan diakhiri dengan penglihatan terhadap matahari, sebagai sumber dari segala sesuatu yang ada di luar gua. Bila sebelumnya para tawanan merasakan sakit pada mata dan leher saat berada di dalam gua mereka pun juga mengalami hal yang demikian saat berada di luar gua.

Saat para tawanan keluar dari gua untuk pertama kalinya, meraka merasa tidak bisa melihat benda-benda di luar gua. Jadi untuk sementara waktu, mereka hanya bisa melihat bayangan pada permukaan air. Setelah dirasa mampu, mereka baru bisa melihat eloknya benda berkat cahaya matahari.


Seseorang bertanya pada Plato, apakah matahari bisa dilihat? Plato menjawab, bisa namun penuh dengan kesulitan. Dalam pembahasan semiotika simbol matahari menunjukkan arti kebaikan. Maka dari itu, dapat dipahami bersama sebenarnya Plato ingin mengatakan bahwa matahari atau kebaikan merupakan sumber tertinggi yang bisa dilihat namun penuh dengan kesulitan (melampaui esensi, The Republic 509b).

Setelah itu para tawanan dengan leluasa menikmati indahnya pemandangan yang ada di luar gua. Selanjutnya mereka turun lagi ke gua untuk mencerahkan para tawanan yang masih terbelenngu oleh rantai yang mengikatnya. Usaha yang mereka lakukan hanyalah sia-sia, karena mereka dianggap gila yang banyak kontroversi.

Dari aspek ontologi, dapat dipahami bahwa masih banyak manusia/orang yang hanya melihat luarnya saja. Padahal luar itu masih “yang nyatanya” belum masuk ke dalam “realitas”. Mungkin kita kagum dengan gelar sarjananya yang tinggi, tapi kita tidak memperhatikan kapasitas ilmu yang dimilki. Apakah ilmunya sesuai dengan gelar sarjananya atau tidak.

Sedangkan dari aspek epistemologi kiranya cukup jelas. Terkadang jika kita berbeda karena pemikiran kritis seringkali dijauhi, dibenci bahkan dibuang jauh oleh rezim yang memimpin seperti tokoh Tan Malaka dan lain sebagainya. Pengetahuanlah yang dapat memahami itu, mereka berpikir dengan kritis karena ada penempaan yang cukup berat harus dengan banyak membaca buku, menganalisa, merefleksikan dan giat usaha untuk melakukan perubahan bagi dirinya dan masyarakat.

Setelah berbicara pada aspek ontologi dan epistemologi, maka selanjutnya akan berbicara dari aspek filsafat politik. Ranah filsafat politik di sini, lebih kepada mendidik calon pemimpin. Sekilas hampir sama memang dari segi aspek epistemologi. 

Tapi perlu digaris bawahi, penulis mamahami secara garis besarnya dengan produk dari didikan itu sendiri bukan pada proses mendidiknya. Kemudian bila seseorang itu dirasa cukup mumpuni setelah mendapat didikan, maka ia harus terjun ke dalam masyarakat. Memimpin dan mendistribusikan keadilan sesuai apa yang telah ia pelajari dari didikan yang pernah ia dapat.

Perlu ditekankan, tulisan ini hanya sebatas memperkenalkan bukan mendalami. Sehingga banyak penjelasan yang perlu dijelaskan belum sempat terjelaskan. Dan kiranya perkenalan alegori gua ini dapat membuka wawasan dan pemikiran kita bersama.

Referensi 

Wibowo, A. Setyo. 2017. Paideia. Yogyakarta: Kanisius.


Artikel Terkait