Menyoal sains dan agama memang selalu seksi untuk kita bahas. Selain dialog yang asyik, perdebatan di dalamnya pun tampak menjadi menarik. Beradu argumentasi hingga membantah teori di kalangan para filosof dan ilmuwan, sepertinya sudah hal biasa seolah semuanya menjadi niscaya.

Karenanya tidak heran jika sains dan agama menjadi tumpuan dan harapan masa depan manusia untuk mencari dan menyelesaikan problem-problem dengan solutif.

Di satu sisi, bukan tanpa konsekuensi manusia bermazhab pada sains dan agama. Selain damai berdialog antara keduanya (sains dan agama), terkadang pertentangan pun menjadi agenda tak berkesudahan.

Seiring pergeseran zaman yang ditandai adanya transformasi pengetahuan besar-besaran, sains dan agama perlahan mendapat objektivititasnya di tangan para filosof maupun ilmuwan-ilmuwan besar Eropa.

Salah satunya Albert Einstein, ilmuwan besar Eropa yang tidak luput dalam catatan sejarah sebagai orang genius yang terjun dalam pergulatan diskursus sains dan agama. Teorinya tentang relativitas mengantarkan dirinya sebagai orang berpengaruh di kalangan para filosof maupun ilmuwan di dunia.

Gagasannya tentang sains dan agama mensyaratkan kesatuan ilmu pengetahuan. Di saat terjadinya pertentangan (sains dan agama) di lingkaran para filosof dan ilmuwan, Albert Einstein lebih mengambil jalan damai dengan kesatuan yang saling melengkapi antara sains dan agama.

Einstein mendudukkan sains dan agama untuk berdialog. Melalui karyanya yang berjudul Ideas and Opinion dengan tebal sekitar 120 halaman, dia mencoba mencari sisi-sisi keterbatasan sains dan agama untuk saling berkomunikasi, tanpa harus memaksa kebenarannya masing-masing.

Kendatipun sebagai seorang agnostik, yaitu keyakinan akan adanya tuhan tanpa melalui perangkat agama, Einstein tetap melihat agama penuh syahdu dan lebih kritis.

Tafsirannya tentang sains dan agama memang serat kritik, namun di sisi lain juga bernuansa pada kesatuan. Hal itu tercermin ketika Einstein berbicara panjang kali lebar tentang sains dan agama.

Dalam bukunya dia tidak tanggung-tanggung mengkritik tentang yang namanya agama personal. Menurutnya, agama personal adalah praktik-praktik keagamaan primitif yang didasarkan pada ketakutan akan kelaparan, kematian, yang kemudian menghukum orang berdosa dan memberi pahala pada orang berbuat baik (hlm. 2)

Ketika agama didorong oleh impuls-impuls yang ilusif dan menciptakan mitos-mitos, pada saat itu pula sains mempersoalkan dan bahkan menolak secara mentah-mentah akan posisi agama.

Adapun pendapat yang berkembang di kalangan para pemikir ulung bahwa sudah saatnya iman digantikan oleh pengetahuan; iman yang tidak bersandar pada pengetahuan adalah takhayul (hlm. 11).

Oleh sebab itu, menurutnya penting untuk disadari akan posisi iman yang bersandar pada pengetahuan, supaya evaluasi pemikiran maupun tindakan manusia lebih berdasar pada tatanan rasionalitas.

Pada titik tertentu pula kita akan sampai pada keyakinan lebih sempurna, dalam bahasa Einstein ia menyebutnya sebagai religius kosmik. Di mana ada potensi di luar nalar manusia yang menciptakan kekuatan superior dengan petanda adanya keteraturan alam semesta.

Argumentasi di atas Einstein mengonfirmasi bahwa itu adalah ranah sains yang pada ontologisnya untuk menemukan aturan-aturan memungkinkan asosiasi dan meramalkan fakta-fakta untuk masa depan kehidupan, dengan mempertaruhkan objektivitas daripada sains itu sendiri.

Lagi, menurutnya agama yang mengantarkan akan keyakinan pada tuhan adalah agama kosmik. Agama dengan kerendahan hati yang saleh tentang ciptaan alam semesta dengan perangkat keteraturan-keteraturannya yang berada di luar batas kemampuan kita, yaitu Tuhan (hlm. 73)

Mungkin karena Einstein seorang agnostik, sehingga sedikit ragu-ragu menolak keberadaan agama secara totalitas.

Jika dengan lancang saya menyimpulkan pemikirannya, Einstein sebenarnya mau mengajak agamawan hanya mengoreksi agamanya dan bercermin pada sains dalam aspek ontologisnya. Sehingga mampu membawa para pengikutnya pada tatanan yang lebih bermoral, tidak terjebak pada ketakutan-ketakutan dosa yang ilusif.

Sedikit catatan atas gagasan Einstein. Dari beberapa argumentasinya Einstein agaknya memang lebih mengklarifikasi agama daripada sains, sehingga ada yang luput dalam pembacaannya tentang agama.

Jelas dengan argumentasinya, Einstein mengatakan; bahwa ketika orang berdoa meminta kepadanya, pada saat itu pula Anda bukan religius (118). 

Jelas Einstein terlalu buru-buru menjustifikasi manusia yang bersimpuh di atas bumi dengan mengangkat tangan, padahal ada petanda daripada sekadar fakta praktik orang berdoa, yaitu melakukan muhasabah diri untuk menuju kesalehan hati.

Namun, Einstein jeli dalam mengakhiri argumentasinya. Dia tidak lupa melakukan autokritik atas interpretasinya tentang sains dan agama. Dengan mengatakan; bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang [Tuhan, dunia] yang sebenarnya, semua pengetahuan kita hanyalah pengetahuan anak-anak sekolah (hlm. 120).

Mungkin Einstein merasa bahwa kemampuan akal manusia terbatas oleh definisi dan pencarian yang tidak akan mampu mengungkap siapa itu Tuhan, sehingga Einstein menempuh jalan menjadi seorang agnostik dengan mengakui dan mengagumi akan adanya semesta yang berjalan mengikuti irama penciptanya, Tuhan dengan segala kemaha kuasaannya.

  • Judu Buku: Agama dan Sains
  • Penulis: Albert Einstein
  • Tebal hlm: 120 hlm
  • ISNB: 9786237624233
  • Penerbit: Circa Tahun terbit: 2020