Sisipus adalah seorang penipu ulung. Ia dikutuk oleh Hades setelah menipu dewa penguasa alam kubur tersebut. Ia harus mendorong sebuah bongkah batu ke atas bukit, dan melihatnya jatuh kembali setelah bongkah batu tersebut sampai di puncak. Kutukannya membuat Ia melakukan hal itu terus menerus dalam keabadian.

Mitos Sisipus tersebut diceritakan ulang dalam esai The Myth of Sysiphus karya Filsuf Perancis, Albert Camus. Camus menggunakan mitos tersebut sebagai alegori dalam menjelaskan absurditas hidup manusia. Kita mencari makna kehidupan hanya untuk menemukan bahwa kehidupan tidaklah bermakna. Sampai akhirnya kita sadar dengan hidup tanpa makna, gagasan yang muncul setelahnya adalah ‘bunuh diri’.

Mitos Sisipus dan filsafat absurditas Albert Camus perlu dijadikan refleksi kembali. Kita perlu mengingat betapa dekatnya pikiran kita dengan kematian dan kecenderungan untuk mengakhiri hidup. Perilaku bunuh diri sangat dekat dengan setiap diri kita.

Pikiran-pikiran untuk mengakhiri hidup merupakan sebuah hal yang wajar, tapi untuk mengambil tindakan atas pikiran itu adalah persoalan yang lain. Pengambilan tindakan ini adalah persoalan yang harus selalu ditinjau ulang.

Bagaimana kita harus bertindak pada pikiran-pikiran absurd tersebut? Dan bagaimana kita dapat menolong orang-orang terdekat kita dalam mengambil tindakan yang benar atas pikiran-pikiran itu?

Bunuh diri adalah fenomena global. Perilaku bunuh diri tidak terbatas oleh budaya, kelas sosial, jender, atau etnisitas tertentu. Fenomena ini terjadi di seluruh dunia dan memakan satu korban setiap 40 detik. Meskipun begitu, tidak ada faktor umum yang dapat menjelaskan mengapa fenomena ini banyak terjadi di suatu negara dan sedikit terjadi di negara yang lain.

Anggapan bahwa fenomena ini banyak terjadi di negara-negara yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi, dipatahkan oleh data yang menunjukkan Korea Selatan sebagai negara dengan kasus bunuh diri terbanyak ke-3 di dunia. Kita juga tidak dapat menganggap bunuh diri adalah dampak dari pola hidup masyarakat modern yang penuh tekanan begitu saja. Guyana yang masih erat dengan budaya supranatural dan perdukunan memiliki jumlah kasus tertinggi.

Anggapan populer lainnya, bunuh diri memiliki relasi dengan keimanan seseorang. Anggapan ini juga merupakan sebuah kekeliruan. Kita masih dapat melihat kasus bunuh diri banyak ditemukan di negara dengan populasi umat muslim tinggi seperti Kazakhstan, populasi umat hindu tinggi seperti India, dan populasi umat kristiani tinggi seperti Hungaria.

Tentu saja masih banyak negara dengan populasi umat beragama lain yang memiliki jumlah kasus bunuh diri tinggi. Singkatnya, fenomena bunuh diri mampu menyerang siapa saja apapun agama yang dipeluknya. Hal ini mematahkan anggapan bahwa bunuh diri berkaitan dengan keimanan seseorang.

Perilaku bunuh diri ada di benak si miskin di Guyana, seorang pekerja kantoran di Korea Selatan, sang aktor tenar Hollywood Robin Williams, atau seorang mahasiswa di Tangerang Selatan. Kecenderungan perilaku bunuh diri tidak pandang bulu. Hal penting yang perlu kita sadari sekarang, perilaku bunuh diri juga dapat dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita. Itulah mengapa, fenomena perilaku bunuh diri perlu untuk selalu ditinjau ulang.

Sayangnya, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap perilaku bunuh diri masih rendah. Anggapan-anggapan tadi masih sering terdengar ketika ada kasus bunuh diri yang mencuat di media. Jangankan bunuh diri, kesadaran masyarakat Indonesia akan gangguan mental pun masih terbilang rendah.

Stigma masih menghantui mereka yang memiliki gangguan mental. Praktik perdukunan masih dianggap sebagai solusi dalam ‘menyembuhkan’ gangguan mental itu. Perlu ditekankan, meskipun bunuh diri dan gangguan mental memiliki relasi yang kuat, tapi tidak dapat dikatakan bahwa sepenuhnya merupakan akibat dari gangguan mental.  

Institusi pendidikan dan media memiliki peran yang kuat di sini. Institusi pendidikan memiliki peran untuk mengedukasi masyarakat dan mematahkan segala miskonsepsi dan stigma yang ada di masyarakat. Kemudian media juga harus mengkaji ulang pemberitaan kasus bunuh diri.

Media harus menunjukkan tindakan bunuh diri bukan hanya tidak berarti, tetapi juga dekat dengan kita. Bunuh diri adalah sebuah tragedi, tapi tidak seharusnya disampaikan seperti sebuah drama. Kasus bunuh diri harus diberitakan sebagai refleksi.

Esai The Myth of Sysiphus tiba-tiba teringat dalam benak penulis sesaat setelah salah satu kawan yang tewas gantung diri beberapa pekan yang lalu. Kasus bunuh diri mendiang merupakan refleksi bagi penulis untuk meninjau ulang makna hidup.

Apakah benar kita hidup seperti Sisipus? Seumur hidup hanya mengangkat batu yang pasti jatuh. Seumur hidup mecari sesuatu yang tidak ada. Camus kemudian menutup esai tersebut dengan sebuah pernyataan indah.

“One must imagine Sysiphus happy.”

Penulis berharap pembaca dapat memaknai esai ini sebagai refleksi. Bahwa bunuh diri adalah sesuatu yang dekat dengan kita, dan kesadaran akannya perlu ditingkatkan. Kita perlu meniru kesimpulan Camus, kebahagiaan dapat selalu ditemukan walau dalam hidup yang absurd. Tetapi tidak berhenti sampai di situ. Kebahagiaan juga harus dibagi, melalui empati.