Ketika masih duduk di bangku kuliah, saya selalu penasaran dengan sosok Albert Camus. Kurang lebih setahun yang lalu, saya pun mencoba menyelami pemikiran filsuf Prancis-Aljazair ini dengan membaca salah satu karyanya, Mati Bahagia

Setelah membacanya, saya merasa bingung sekaligus takjub dengan “kebebasan liar” yang disiratkan olehnya dalam buku tersebut. Albert Camus sendiri adalah seorang filsuf absurdis, anarko-sindikalis, dan moralis yang memiliki kritik tajam terhadap pencarian makna dalam kehidupan manusia. 

Lewat karya-karyanya, ia menjelaskan mengapa kita harus fokus pada kehidupan saat ini bukan kehidupan yang berikutnya, dan mengapa bunuh diri adalah pilihan yang buruk. Meskipun sering dianggap sebagai tokoh kunci dalam aliran eksistensialisme, Camus lebih suka dianggap terpisah darinya. 

Kehidupan dan cara berpikir Camus memang sedikit berbeda dari filsuf lainnya, khususnya para eksistensialis. Tidak heran jika banyak pemikir modern yang sering mengasosiasikannya dengan absurdisme.

Memang, ide-idenya tentang bagaimana kita harus menjalani hidup dan menghadapi eksistensi kita sebagai manusia sangatlah berani. Dengan pemikirannya, Camus memberikan kita wawasan tentang bagaimana caranya mengatasi krisis eksistensial sambil menawarkan opsi terbaik untuk menjalani hidup yang absurd ini.

Camus dan Bunuh Diri

Bagi Camus, kehidupan manusia sangatlah absurd. Di satu sisi, hidup manusia terus berjalan menuju masa depan. Namun di sisi lain, masa depan itu makin mendekatkan manusia pada kematian.

Ketika sedang menghadapi kondisi yang absurd ini, manusia sering kali melakukan “jungkir balik” atau dengan kata lain kabur dari kenyataan, entah dengan menggantungkan diri pada agama atau ideologi tertentu, atau, lebih parahnya lagi, melakukan bunuh diri. 

Menurut Camus, bunuh diri—baik secara filosofis maupun fisik—bukanlah solusi yang tepat untuk melepaskan diri dari keabsurdan hidup. “Hanya ada satu masalah filosofis yang sangat serius, dan itu adalah bunuh diri,” demikian ucap Camus dalam esai filsafatnya, Mitos Sisifus

Untuk memecahkan masalah ini, Camus menempatkan bunuh diri di pusat pemikirannya, khususnya dengan mengajukan sebuah pertanyaan besar, yaitu “Apakah hidup yang tidak ada artinya itu masih layak untuk dijalani atau tidak?”

Bagi banyak orang, kehidupan tanpa makna bukanlah hidup yang layak dijalani. Maka dari itu, jangan heran kalau banyak dari mereka yang memilih untuk menenggelamkan diri ke dalam agama, doktrin, ideologi tertentu atau bahkan mengakhiri hidupnya sendiri. Camus memahami masalah ini dan menjelaskannya secara gamblang. 

Untuk bunuh diri filosofis, kita dapat mengambil contohnya dari kehidupan filsuf eksistensialis asal Denmark, Søren Kierkegaard. Sebagian dari kita tahu kalau Kierkegaard sendiri memahami kalau hidup itu tidak masuk akal. Namun, alih-alih mencoba untuk merangkul kondisi tersebut, ia justru melarikan diri ke arah Tuhan. 

Tak hanya Kierkegaard, sebagian eksistensialis Prancis juga melakukan hal sama dengan cara yang lebih sekuler. Itulah sebabnya mengapa Camus tidak pernah sudi menyamakan dirinya dengan mereka.

Selain itu, Camus juga menyimpulkan kalau bunuh diri secara fisik tidak ada gunanya karena tindakan itu tidak dapat mengisi kekosongan eksistensial kita. Sama seperti kehidupan, kematian juga tidak ada maknanya.

Sekilas, pandangan ini mirip dengan nihilisme, sebuah istilah yang biasa digunakan untuk merujuk pada gagasan bahwa hidup tidak memiliki nilai intrinsik atau makna objektif. Namun dalam karyanya, Pemberontak, Camus menyatakan kalau ia menentang pandangan nihilisme.

Absurditas Duniawi

Camus sendiri membuat klaim yang berani tentang makna kehidupan. Menurutnya, kehidupan itu tidak bermakna, di mana kita juga tidak bisa membuatnya bermakna. Dia juga menyangkal kalau sains, filsafat, masyarakat, atau agama pernah atau akan menciptakan makna kehidupan yang kebal dari kritik absurdisme.

Absurdisme ala Camus sendiri didasari dengan dua premis fundamental. Premis pertama adalah bahwa manusia memiliki keinginan yang mengebu-ngebu untuk menemukan makna kehidupan dan eksistensinya sendiri. 

Sedangkan untuk premis kedua, Camus secara ringkas menyatakannya dalam kutipan berikut: “Dunia ini sendiri tidak masuk akal, hanya itu yang dapat dikatakan” (Mitos Sisifus). Sepanjang sejarah, manusia memang terus mencari makna kehidupan. Bahkan dalam berbagai kesempatan, manusia juga mencoba untuk menciptakannya. 

Namun, karena alam semesta ini dingin, acuh tak acuh dan absurd, kita akan selalu dihadapkan pada situasi di mana segala upaya kita untuk menemukan makna kehidupan akan berujung pada kegagalan. Karena pada dasarnya, hidup manusia memang tidak berarti dan akan terus seperti itu.

Bagaimanapun, Camus tidak melihat kondisi ini sebagai hal yang buruk. Dia menjelaskan kalau memahami hidup yang tidak masuk akal adalah langkah pertama untuk menjalani kehidupan sepenuhnya. 

Baginya, meskipun kita menyadari kalau hidup di dunia tanpa makna dapat menimbulkan krisis eksistensial, kita harus terus hidup dan menerimanya dengan sepenuh hati.

Solusi yang ditawarkan Camus adalah dengan terus “memberontak” melawan kondisi yang absurd ini dan menolak untuk mengambil leap of faith (bunuh diri secara filosofis atau fisik). Setelahnya, kita dapat hidup dengan intensitas dan semangat di tengah ketidakbermaknaan hidup ini.

Setelah mengenali dan mengakui kefanaan hidup kita, barulah kita dapat menghargai setiap momen yang kita lewati. Dalam hal ini, kita akan melihat kehidupan sebagai pengalaman terbatas, sesuatu yang harus kita nikmati dan hargai sepenuhnya.

Pahlawan Absurd

Dalam karya-karyanya, Camus selalu memuji sinar matahari, wanita, pantai, ciuman, menari, dan makanan enak. Dia menyukai olahraga dan pernah menjadi pemain sepak bola di masa mudanya. Dia juga sangat menikmati hal-hal kecil yang mungkin dianggap sepele oleh segelintir orang. 

Secara tidak langsung, Camus memberi tahu kita bahwa hanya karena hidup tidak berarti bukan berarti hidup tidak bisa menyenangkan. Terkadang, Camus mengkritik mereka yang mencoba memasukkan makna ke dalam kehidupan mereka secara paksa.

Hal itu hanya memberikan kenyamanan sesaat saja, dan pada akhirnya akan berujung dengan kegagalan di kemudian hari. Alam semesta akan tetap acuh tak acuh, peristiwa acak terus terjadi, dan kita akan kembali dihadapkan dengan kondisi dunia yang absurd.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, jawaban untuk mengatasi absurditas duniawi adalah dengan merangkulnya. Bagi Camus, orang yang benar-benar memahami kalau hidup itu dan dapat melewatinya dengan senyuman dapat disebut sebagai “Pahlawan Absurd.”

Camus sendiri adalah contoh nyata dari Pahlawan Absurd. Sedangkan dalam karya sastra, kita dapat melihatnya dalam diri Don Juan dan Sisifus. 

Menurut mitos Yunani Kuno, Sisifus adalah raja yang dihukum untuk membawa sebuah batu ke puncak gunung. Namun ketika akan mencapai puncak, batu itu akan jatuh dan dia harus mengulangi tugas itu dari awal. 

Dalam Mitos Sisifus, Camus berkata kalau “Perjuangan itu sendiri sudah cukup untuk mengisi hati seorang manusia. Kita harus membayangkan kalau Sisifus bahagia.” Menurutnya, Pahlawan Absurd mampu menjalani kehidupan yang tidak berarti tetapi masih dapat menemukan kebahagiaan di dalamnya.

Camus juga menolak gagasan tentang kehidupan setelah mati. Bukan hanya tidak mungkin dan tidak rasional, Camus menganggap kalau gagasan itu dapat mengurangi intensitas dan fokus kita pada kehidupan saat ini.

Untuk itu, Camus merekomendasikan kita untuk keluar rumah, menikmati sinar matahari, berjalan-jalan di tepi pantai, bermain sepak bola, makan di kafe, menolak untuk putus asa, merangkul dunia yang absurd dan melanjutkan hidup dengan melakukan apa pun yang kita sukai.

Jadi, dapatkah kita menemukan makna hidup untuk memuaskan kebutuhan eksistensial kita? Camus mengatakan tidak, walau hal ini tidak serta merta menjadi masalah yang besar. Pada akhirnya, selama kita hidup, kita masih memiliki kesempatan untuk terus menikmati kehidupan ini. 

Singkatnya, hidup itu layak untuk dijalani dan diterima apa adanya. Meskipun sulit, kita harus merangkul keabsurdan dunia tanpa terjatuh ke pelukan agama, ideologi, atau masyarakat. Lewat pemikirannya, Camus mendorong kita untuk tampil berani dalam menghadapi dunia yang absurd dengan senyuman di wajah kita.