Ketika malam semakin gelap, benda itu perlahan bergerak, timbul dari tanah kuburnya. Ia menyembul keluar, bangkit dari persembunyian. Lantas, menoleh ke kanan, ke kiri dan bergerak ke sana kemari. Ia melintas di setiap sudut-sudut kota demi menemui sang majikan dan berjanji untuk mengungkapkan sebuah bukti.

Benda itu berhenti. Akhirnya tiba di tempat tujuan. Dipandangnya rumah nan sederhana itu. Lampu-lampu yang terang menghias teras rumah, sedangkan gerbang dikunci dan pintu tertutup. Ia ketuk-ketuk namun tidak ada jawaban. Sebenarnya bisa saja masuk melewati celah gerbang, pikirnya. Namun karena hal itu dianggap kurang sopan dan sangat kurang ajar, ia urung melakukannya. Lagi pula, malam telah larut, ia pun menunggu sang majikan yang diketahui sedang tertidur pulas.

Keesokan harinya, apa yang ditunggu-tunggu kini lenyap dari lelap. Sang majikan telah siap untuk bepergian. Saat pintu gerbang dibuka, hatinya menjadi kaget. Ia tidak percaya. Benda itu menampakkan diri.

Dengan penuh hati-hati ia memeriksa keadaan sekitar. Kemudian menatap benda itu dengan kening yang sedikit berkerut “Kenapa ada di sini?” katanya dalam hati seakan ini mustahil.

“Mungkin saja ini milik orang lain.” Kata sang majikan dalam hati “Bukankah benda macam itu juga banyak dijual di toko-toko perkakas?” Pasti pemiliknya bukan saya.” Pikirnya. Tanpa pikir panjang, benda bermata lancip itu diangkut, dibuang ke tempat yang jauh. Supaya tidak terlihat bahkan bila perlu oleh dirinya sendiri.

Berada di tanah penuh lumpur bercampur aroma minyak bumi, benda  itu tetap bisa mencium bau sang majikan. Ia tidak tinggal diam dan memutuskan kembali lagi saat malam gelap. Tentu saja menemui sang majikan demi membuktikan sebuah bukti.

Maka, bergeraklah ia menuju rumah sang majikan.

Benda itu berada di depan pintu gerbang, tampak dalam pandangannya masih sama seperti kemarin.  Lampu menyala di teras rumah, pintu tertutup, serta gerbang terkunci. Diketuk beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Sebenarnya bisa saja masuk melewati celah gerbang, pikirnya. Namun sekali lagi hal itu kurang sopan dan sangat kurang ajar. Lagipula, malam telah larut. Biarlah sang majikan tidur lebih dahulu. Ia pun menunggu sang majikan dari luar.

Keesokan harinya, sang majikan terbangun dari tidur. Siap untuk menjalani aktivitas. Baru saja gerbang di buka oleh pembantu rumah tangga. Sebuah kejadian tak terduga. Kemunculan benda itu sungguh mengejutkan dirinya.

Dengan tatapan penuh heran ia berusaha menepuk kedua pipi guna meyakini antara kenyataan atau mimpi.

“Mengapa kamu di sini?”

“Apa ada yang meneror saya?”

Pembantu membawa Benda itu langsung  ke tempat yang lebih jauh dan tidak pernah ditemukan oleh manusia.

“Pasti orang lain ingin menakuti saya.” Jawab sang majikan. Benda mati, mana mungkin bisa bergerak sendiri kecuali digerakkan oleh makhluk hidup.

Konon, ia memutuskan untuk memanggil petugas keamanan, bekerja sebagai penjaga malam. Rumah itu kian diawasi lengkap dengan CCTV dan anjing pelacak.

Dalam lautan yang dalam benda itu tenggelam, tatkala rembulan bersinar terang, ia melesat seketika, menyebabkan kecipak air menyembur ke segala sisi. Bagaikan lompatan seekor lumba-lumba, benda itu terbang di udara melewati lautan dan daratan. Perjalannya masih sama, yakni menemui sang majikan demi membuktikan sebuah bukti.

Dari udara, rumah sang majikan sedang dijaga oleh manusia dan hewan. Barangkali mereka itulah para penjaga, pikir benda itu. Ia merasa, tidak perlu menunjukkan diri di hadapan orang lain. Oleh karenanya, agar tidak ketahuan, ia hinggap di atap rumah tetangga. Sembari menunggu sang majikan yang menikmati masa istirahat.

Waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi. Saatnya sang majikan ke kantor. Namun sebelum mobil bergerak, benda  tiba-tiba menjatuhkan diri.

Karena melangkah terburu-buru, kepala sang majikan tertimpa benda itu.

“Aduh!”

“Kamu lagi!”

“Siapa yang berani berbuat begini?”

 “Penjaga! Cepat bawa benda tengik ini ke penggilingan besi tua.”

“Untuk apa bos?” Tanya penjaga.

“Dimakan! Ya digiling, musnahkan! Dasar anak sekolahan.”

Benda itu segera diangkut di bawa ke penggilingan besi tua. Sang majikan memastikan bahwa benda itu lenyap tidak bersisa.

Akibat kejadian itu, pada malam hari ia memanggil dokter untuk mengobati trauma. Tubuh sang majikan diperiksa, memastikan apakah ia mengalami luka luar atau luka dalam.

“Bapak terlalu banyak berpikir yang bukan-bukan. Makanya sering mengalami hal yang aneh-aneh.”

“Ah. Dokter, Saya ini pekerja keras, mana mungkin berpikir yang aneh-aneh. Justru bawahan saya lah yang berpikir aneh-aneh terhadap saya.

Dokter pun hanya mengangguk saja memberikan obat dan resep lalu beranjak meninggalkan sang majikan dengan alasan banyak pasien yang sedang menunggu.

***

Ketika kebanyakan manusia tertidur pulas, benda itu perlahan bangkit dan bergerak. Tidak hanya satu, ada banyak yang bermunculan, pergi ke suatu tempat. Bila mengetahui nama, tersebutlah pena, pisau dapur, batang pohon, Palu beton, tali, sepucuk senjata revolver, serta granat dan masih banyak lagi. Dilihat dari bentuknya, ada yang masih utuh juga ada yang sedikit hancur dalam arti tidak utuh atau berubah bentuk.  Mereka  keluar dari tumpukan besi tua, ada yang menuruni bukit, berenang dilautan, keluar dari gudang, keluar dari kamar, keluar dari gedung, keluar dari kantor, keluar dari istana bahkan dari tempat pengasingan penjahat-penjahat sekali pun. Sangat jauh dari kebisingan.

Mereka berkumpul dalam sebuah ruangan besar, bebas dari mata-mata. Tempat itu bernama galaksi Antah Berantah. Siapa pun yang bergerak tandanya bersuara dan sudah pasti mampu dipahami, meski terdengar sumbang. Dalam pertemuan itu, diaturlah suatu rencana. Ibaratnya sebuah tindakan berbentuk demonstrasi. Membongkar semua bukti karena suara  manusia sudah tidak dapat dipercaya lagi. Manusia selalu menyembunyikan sesuatu. Jadi, sudah semestinya kita membeberkan bukti di muka umum.

“Sebagai Alat bukti. Sudah semestinya kita memperlihatkan bukti.” Palu Beton mengungkapkan dengan cara memukul lantai.

“Ya, benar. Begitulah alat bukti, wajib memberikan saksi.” Pisau dapur menumpahkan amarahnya dengan cara membenturkan matanya ke lantai.

“Kita boleh diperalat. Tapi jangan memperalat kebenaran.” Sang pena yang cacat mengungkapkan amarahnya di atas selembar kertas.

“Sepakat! Kita akan turun ke jalan, biarkan saja manusia itu merasakan kiamat bagi dirinya.” Sambut sang tali yang melilit seluruh tubuhnya.

Benda-benda itu membubarkan diri, menuju bumi tempat berpijak manusia.

***

Terik matahari menyengat sepanjang jalan. Di tambah kerumunan demonstran yang makin sesak menimbulkan kemacetan. Bunyi-bunyi yang diciptakan, mendesing bagai jeritan dalam laga di medan perang. Orang-orang yang menyaksikan turut prihatin dibalut rasa takut melihat kerumunan demonstran itu ternyata hanyalah benda-benda yang pernah diperalat manusia. Mereka bergerak pelan menuju mahkamah pengadilan tertinggi. Sambil membawa spanduk-spanduk menyuarakan kebenaran.

Namun tidak sedikit yang heran dan justru mengabadikan momen langka ini dengan cara menjepret kemudian diminta untuk diwawancara. Wartawan media Papan Atas yang menguasai segala jenis bahasa itu pun merilis sebuah berita yang cukup mencengangkan dunia: Alat-alat bukti bersaksi, dahulu kami diamankan, tapi sekarang kami merasa tidak aman. Kebenaran harus disuarakan!

Berita itu terus bermunculan, sementara para demonstran masih saja menyuarakan aspirasinya. Terus menciptakan keriuha, berdemonstrasi layaknya seorang manusia yang pernah memperalat mereka demi kepentingan sesaat. Keriuhan semakin bertambah saat berada di depan pagar besar milik Mahkamah Pengadilan Tertinggi. Bunyi-bunyi yang menggema  itu  menjerit menebar ke segala penjuru bumi. Tentara kebanggaan Negara yang mencoba mengamankan situasi akhirnya gagal dikarenakan semua alat pengamanan ikut bergabung, simpati dengan para demonstran.

Benda-benda itu  merasa tidak aman meski begitu lama diamankan. Mereka merasa tidak tenang oleh darah-darah yang meresap dalam tubuh. Mengalir deras dan kental, itulah barangkali menghidupkan benda itu hingga berbunyi, pertanda suara jeritan atas ketidakadilan. Sampai mengikis kesabaran mereka untuk segera membawa sang majikan ke pengadilan untuk di beri hukuman.

Karena tuntutan tidak digubris mereka memutuskan memburu majikan mereka sendiri. Dengan liar, mereka menangkap satu persatu majikan atau dalang yang pernah memperalat mereka dan di jadikan tawanan. Para tawanan itu di kumpulkan, menunggu aba-aba pemimpin aksi untuk melaksanakan eksekusi persis ketika benda-benda itu diperalat.

Satu, dua, tiga…

***

Sang majikan bangun. Ia bangkit dari tidur setelah mimpi sedang di eksekusi oleh benda yang pernah ia digunakan untuk menghabisi orang.

“Mimpi yang sangat buruk.” Ungkapnya sambil menggelengkan kepala.

Beruntung kejadian barusan hanyalah sebuah mimpi. Mustahil mimpi itu ada di alam nyata. Kecuali di alam imajinasi atau dongeng. Sang majikan tersenyum kembali menggelengkan kepalanya.

Para manusia sedang berkerumun menunggu kehadiran seseorang. Sang majikan itulah yang paling dinantikan. Ia di daulat sebagai insan yang sangat militan dalam berkarya. Maka ia berdiri memberi sambutan dan tidak lupa karyanya dipertontonkan seluruh dunia.

Namun, di akhir sambutan , tampaklah benda-benda yang sebelumnya tidak diperhitungkan itu kembali unjuk kemampuannya, bergerak lincah seperti mendemonstrasikan sesuatu di depan penonton. Persis di alam mimpi sang majikan dan  bagaimana pengalamannya pernah menggerakkan benda-benda tersebut.

“Apakah ini buah karya saya?” Tanya sang majikan pada kalimat penutup sambutan.