Twitter, media sosial yang memiliki popularitas tinggi ini merupakan mikroblog yang memungkinkan penggunanya menulis kalimat apapun sesuai keinginan mereka. Tulisan dari pengguna tersebut lebih familiarnya disebut dengan cuitan. Kembali lagi, seorang pengguna memiliki kebebasan menuliskan pikirannya kedalam cuitan. Sehingga, ada bermacam-macam alasan seseorang dalam mencuit, seperti membahas suatu hal yang sedang booming dan penuh kontroversi, untuk kebutuhan promosi, kepentingan politik, sarana protes, sarana pembelajaran, serta twitter juga digunakan sebagai media komunikasi darurat.

Kemudian, faktanya sebagian besar pengguna membuat cuitan yang berupa curhatan alias sambatan mereka dalam real life (dunia nyata). Ada beberapa alasan mendasar yang membuat seseorang menuliskan sambatannya kedalam sebuah cuitan twitter.

Yang pertama, persoalan nama akun dan kerahasiaan penulis. Nama akun yang digunakan sebagian besar pengguna berupa nama samaran. Nama samaran yang digunakan sangat beragam dan sesuai kekreatifan pengguna. Beberapa diantaranya adalah nama idola, nama kartun, dan nama yang nyeleneh. Dengan penggunaan nama samaran ini terdapat kenyamanan, keamanan dan privasi bagi mereka dalam mencuit. Privasi ini juga menjauhkan sang pencuit dari penghakiman orang-orang di dunia nyata. Oleh karena itu, nama samaran ini juga memberikan kepercayaan kepada para pengguna untuk lebih mencurahkan perasaannya, termasuk untuk sambat.

Sebenarnya dalam twitter sering ditemukan semacam bot atau menfess (mention confess) dengan banyak pengikut yang menerima pesan direct message (DM) untuk menuliskan apapun termasuk sambatan, tanpa memberitahukan identitas sang pengirim (sender) dan tujuannya adalah untuk mengetahui respon warga twitter terhadap masalah yang sedang pengirim hadapi.

Kedua, masalah relasi didunia nyata. Umumnya, seseorang yang bercurhat di media sosial termasuk twitter adalah orang yang kurang memiliki persahabatan di dunia nyata. Kurangnya teman membuat mereka merasa kesepian dan tidak tahu untuk menceritakan masalahnya kepada siapa. Mereka yang mencuit sambatan biasanya juga kurang memiliki sistem dukungan sosial atau support sistem di kehidupan nyata.

Selain kurang pertemanan, sebagian pengguna juga merasa respon yang diberikan orang sekitar tidak sesuai yang diharapkan atau bisa disebut bahwa sambat di twiter menjadi pengalihan dari realitas yang tidak sesuai harapan. Respon yang tidak sesuai harapan menyebabkan kekecewaan sehingga seseorang tersebut juga lebih tidak mau bercerita kepada “orang nyata”. Berdasarkan persoalan tersebutlah yang menyebabkan mereka lebih prefer untuk curhat dan sambat di twitter.

Pada beberapa kasus cuitan sambatan, juga didapati bahwa ada alasan untuk mencari-cari perhatian dan popularitas. Sambatan yang mencari popularitas biasanya sambatan yang di buat panjang lebar dan di kemas dalam sebuah utas atau thread. Ada pula yang sambatan tentang apa yang seolah-olah terjadi tersebut tidak benar adanya dan tidak benar terjadi alias bohong. Misalnya sambatan karena telah terjadi suatu hal yang merugikan sang penulis disebabkan tindakan orang lain yang faktanya hanya hoaks. Cuitan semacam ini biasanya dibuat oleh seseorang yang ingin memiliki banyak followers.

Selanjutnya adalah alasan spontanitas. Seseorang jika sedang dalam keadaan yang mungkin sangat emosi, sangat lelah dan sangat sedih tidak dapat mengontrol tindakan mereka. Mereka ingin cepat sambat dan berkeluh kesah mencurahkan semua isi pikirannya pada saat itu juga. Sehingga secara refleks dan kurang sadar, merekapun mencurahkannya dalam cuitan twitter.

Menuliskan sambatan di twitter menjadi pilihan bagi sebagian orang yang merasa tidak punya tempat lain untuk curhat. Sebagian besar sang penyambat belum atau tidak memiliki tempat nyaman untuk sambat, kecuali di twitter. Ya, kembali lagi mungkin teman atau orang-orang disekitar mereka terlalu sedikit, atau tidak memberikan respon sesuai harapan yang diinginkan. Oleh karena itu, mereka sambat di platform ini. Twitter menjadi tempat nyaman untuk mencurahkan perasaan hati, keluh kesah atau sambatan mereka. Sehingga, mereka merasa cuitan twitter menjadi tempat ampuh yang nyaman untuk menghilangkan semua beban tersebut.

Alasan terakhir adalah mereka hanya tidak ingin memendam perasaan yang berat maka mencuit sambatan dilakukan seseorang hanya untuk mendapatkan kesenangan dan kepuasan tertentu. Sebagian dari mereka yang bersambat sejatinya tidak terlalu menginginkan atau mebutuhkan saran dan perhatian. Mereka hanya ingin mendapatkan perasaan lega setelah mencurahkan perasaannya.

Pengguna twitter ini berasal dari berbagai rentang usia, baik dari remaja, dewasa, bahkan beberapa diantaranya terdapat yang sudah lanjut usia. Selain keberagaman rentang usia, pengguna twitter juga dipenuhi berbagai kalangan, baik dari anak sekolah, mahasiswa, rakyat biasa, selebritis, penyair bahkan pejabat. Tak ayal, cuitan yang dituliskanpun menjadi sangat beragam dan berbeda-beda topiknya.

Yang pasti sebagai manusia pengguna twitter, nantinya akan menemukan bermacam-macam cuitan termasuk sambatan. Sehingga yang sebaiknya dilakukan yaitu bersikap yaudah biarkan saja, selagi apapun yang mereka tidak mengganggu dan merugikan kita. Hal ini dikarenakan setiap orang memiliki masalah dan mereka mempunyai caranya masing-masing untuk menyelesaikan, kecuali mereka membutuhkan saran dari kita barulah kita dapat membantunya.