Game PUBG mobile merupakan salah satu game paling populer di Playstore. Game ini menduduki peringkat ketiga setelah game Free Fire dan Mobile Legends. 

Kendati demikian, game ini bukan berarti lebih baik jika dibandingkan dengan game battle royal seperti Free Fire yang menduduki posisi pertama. Saya duga, kapasitas besar ambil peran dalam menentukan posisinya.

Coba Anda bayangkan, untuk meng-install game PUBG, Anda harus menyediakan ruang penyimpanan di HP sebesar 1,6 GB. Berbeda dengan game Free Fire yang hanya butuh kapasitas penyimpanan 544 MB, belum lagi saat mengunduh map dan fitur lainnya yang butuh kapasitas besar yang bisa bikin sumpek. Jadi, sudah dipastikan, HP yang punya kapasitas penyimpangan rendah akan kewalahan menjalankan game sebesar ini.

Memang, dengan kapasitas sebesar itu, game ini mampu menawarkan kualitas grafik yang lebih detail dan nyata. Namun, kelebihan ini sekaligus menjadi kekurangan. Karena, game ini hanya bisa berjalan mulus menggunakan HP berspek tinggi. HP  berspek rendah alias "kentang" mah siap-siap banting HP karena Kzl.

Saya sendiri mulai memainkan game ini sejak awal mula hadirnya season 6. Jujur, saya sebelumnya termasuk player game Free Fire yang memutuskan beralih ke PUBG, karena tertarik dengan tampilan grafis yang lebih memanjakan mata.

Dengan mengandalkan perangkat berkapasitas 2GB RAM (masih saya gunakan hingga saat ini), memainkan game ini berjalan aman tanpa hambatan. Namun, tiap hadirnya pembaruan yang menampilkan map atau fitur baru mengharuskan saya berkompromi dengan file HP agar bisa berbagi ruang penyimpanan.

Alhasil, sering membuat saya bingung untuk menyiasati kapasitas besar tersebut. Solusinya menghapus: aplikasi, foto, video, lagu, dokumen, atau history chat di WhatsApp. Namun, meskipun sukses, HP saya mulai kewalahan menjalankan game ini.

Besarnya kapasitas PUBG yang membuat permainan di HP kentang tak berjalan mulus juga dirasakan kawan mabar. Namun, kebanyakan di antara mereka lebih memilih membeli HP baru ketimbang sibuk bersih-bersih file yang tak penting. Tak tanggung-tanggung, mereka kemudian rela mengeluarkan duit banyak buat beli HP mahal sekelas iPhone. Karena menurut mereka, memainkan PUBG pada HP ini bisa meningkatkankan skill bermain.

Bagi saya, mengikuti jejak mereka adalah perkara mudah. Gaji tiga bulan sudah cukup untuk mendapatkan HP merek demikian. Namun, membeli HP mahal hanya untuk main game belum masuk dalam jangkauan skala prioritas kebutuhan saya. Lagi pula, HP yang saya gunakan masih tergolong ampuh untuk menjalankan nilai fungsionalnya, termasuk untuk memainkan game PUBG meskipun kadang mengalami lag.

Kesetiaan saya menggunakan HP kentang tak jarang menjadi objek ejekan kawan mabar. "Penghasilan bagus kok masih pake HP kentang?" Kalimat itu sering terlontar dari mulut mereka. Namun, saya anggap itu sebagai angin lalu.

Munculnya musim baru, musim 14, tentu kembali menjadi PR bagi saya. Pasalnya, saya harus kembali bergelut dengan aktivitas menyaring file yang jarang dioperasikan, kemudian menghapusnya agar tersedia ruang untuk melakukan update.

Sayangnya, meskipun sukses, performa HP saat memainkan game ini makin tak bisa diajak kompromi, lebih sering mengalami lag, nge-kill boot aja kadang susahnya minta ampun. Hal itu membuat saya mulai malas memainkan game ini.

Awalnya, keputusan untuk menghapus game ini dari HP belum dirasa perlu. Karena, meskipun sudah tak mampu memberikan hiburan secara maksimal, saya masih memainkan game ini sesekali untuk menghilangkan rasa jenuh. Walaupun hanya mengejar misi atau gonta-ganti skin hadiah Royal pass.

Namun, keyakinan untuk mempertahankan game PUBG tak bertahan lama. Pertahanan itu merosot setelah saya menyaksikan streaming PUBG Mobile di Facebook. Awalnya menonton aksi streamer bermain PUBG masih terasa biasa-biasa saja. Namun, makin kesini, saya merasakan sensasi yang mirip ketika saya memainkan PUBG.

Kelihaian streamer melumpuhkan lawan, nge-kill, nge-rush, bahkan strategi yang digunakan streamer seolah terasa asyik buat saya. Apalagi jika streamer-nya punya skill yang jempolan dan doyan barbar, pasti auto follow dan nyalain lonceng di atas pojok sebelah kanan.

Tentu, keseruan serupa juga dirasakan oleh viewers lain. Makanya mereka rela habiskan waktu berjam-jam nongkrong sampai dini hari depan layar HP atau komputer, buat nyaksiin streamer andalan mereka beraksi.

Nah, karena keseruan menyaksikan streaming membuat saya tak pernah lagi membuka PUBG Mobile dan memutuskan untuk menghapus game ini dari HP. Imbasnya, ruang penyimpanan HP menjadi lebih plong. Membuat saya bisa mengunduh beragam aplikasi yang berfaedah buat penyegaran mata, macam TikTok atau Bigo Live. 

Selain itu, yang juga tak kalah penting, saya bisa menghabiskan waktu secara berkualitas: membaca tumpukan buku yang belum terjamah, atau ikut webinar gratis

Namun, apakah saya akan berhenti main PUBG untuk selamanya? Jawabannya bisa “iya" atau bisa juga “tidak”. Mungkin suatu saat nanti saya akan kembali mengunduh game ini setelah memiliki HP dengan performa yang lebih baik. Namun, bisa sebaliknya, saya akan meninggalkan game ini jika hari-hari saya sudah ngerasa nyaman berada dalam kondisi kealpaan memainkan game ini.