Pernyataan bahwa saat ini sudah zamannya bagi kita untuk berselancar di instagram karena facebook cuma dipenuhi oleh akun anak-anak alay tidaklah seutuhnya benar. Jika memang tujuannya hanya ingin memamer foto atau “mencuci” mata, maka tepat instagram dapat dijadikan alternatif, tetapi kalau hendak mencari/menambah informasi, wawasan, atau setidaknya pertimbangan referensi, menurut saya facebook masih belum ada tandingannya. 

Terdapatnya  space tulisan (di kolom status) yang dapat memuat tulisan panjang dan atau adanya fitur untuk menautkan link ke website utama, benar-benar menjadi daya pikat sekaligus keunggulan dari facebook. Atas alasan ini pulalah saya masih tetap bertahan di facebook.

Di layanan jejaring sosial ciptaan Mark Zuckerberg ini saya bisa menemukan tulisan-tulisan cerdas para cendekiawan atau anak-anak muda potensial, yang tentunya amat bermanfaat bagi pertumbuh-kembangan daya nalar saya. Untuk isu-isu keagamaan misalnya, saya telah berteman atau setidaknya mengikuti (follow) Irwan Masduqi, seorang intelektual muda NU Jogja yang sekalligus pengasuh Ponpes As-Salafiyah Mlangi. Tulisan terbarunya yang cukup mencerahkan ialah mengenai bendera Rasulullah yang ditinjau dari sumber sejarah Islam dan hadits.

Selain itu saya juga mem-follow Mukti Ali Qusyairi, Abdul Moqsith Ghazali, Husein Muhammad, Fadhli Lukman, Rumadi Ahmad, Zaprulkhan, Ahmad Baso, Amin Mudzakkir, Rijal Mumaziq Z, Savic Ali, Ahmad Mustofa Bisri, Edy Mulyono, dan Mun’im Sirry. Sepanjang amatan saya, mereka ini gemar merespon isu-isu terhangat yang sedang hits atau viral di media sosial. 

Nama terakhir yang saya sebut adalah sesosok cendekiawan yang spesial, setidaknya bagi saya. Alumnus University of Chicago yang juga merupakan dosen di Notre Dame University (USA) ini memiliki tulisan yang begitu “nakal” di mana hanya orang-orang yang “kuat” iman sajalah yang siap menyantapnya. Pemikiran Gus Ulil Abshar yang katanya liberal saja sepertinya tidak ada apa-apanya jika dihadapkan dengan tulisan-tulisan yang telah digoreskan olehnya.

Selanjutnya saya juga mem-follow cendekiawan muda yang lebih concern pada tulisan ala gerakan-gerakan Islam kiri (pembela kaum lemah yang terzalimi). Dua di antaranya ada Muhammad Al-Fayyadl dan Roy Murtadho. Tak lupa saya pun mem-follow perempuan-perempuan kece. Ada ibu Dina Sulaeman, seorang pengamat Timur Tengah dari Unpad, yang tulisan-tulisannya mengenai Islam dan atau isu-isu seputar timteng cukup kaya referensi dan tajam. 

Yang lebih muda darinya ada Esty Dyah Imaniar dan Kalis Mardiasih. Keduanya adalah penulis www.mojok.co, situs yang menampung tulisan anak-anak muda yang gemar melakukan kritik melalui pendekatan satire. Tak lupa saya juga mem-follow Cania Citta Irlanie, mahasiswi Ilmu Politik UI yang tulisannya sarat akan nilai-nilai liberalisme.

Tidak hanya itu, saya juga mengikuti pemuda pegiat perdamaian yang sekaligus pendiri Peace Generation, Irfan Amalee disusul dengan Muhammad Nurul Banan dan Arif Rahutomo, dua orang pegiat pemberdayaan diri. Beberapa cendekiawan/aktivis luar negeri pun turut saya ikuti, seperti Adis Duderija, Syed Farid Alatas, Imtiyaz Yusuf, Linda Sarsour, Dr.Amina Wadud, dan Dalia Magohed.

Tentu saja sebagai penyeimbang saya juga mengikuti akun-akun lain yang sedikit banyak memiliki pandangan yang berbeda dengan nama-nama yang saya sebut di atas, seperti Hamid Fahmy Zarkasyi, Ahmad Sarwat, DR.Miftahur Elbanjari MA, Fahmi Salim, Yusuf Maulana, dan Irena Handok.  

Andaikan tidak ada orang-orang asik ini, mungkin saya telah lama menutup akun. Bagaimana tidak, saya masih merasa sakit hati karena memiliki pengalaman pahit di mana seseorang yang (pernah) saya sukai memblokir akun facebook saya.