“Bila perlu, FPI kita bubarkan saja”. Tegas, jelas, dan lugas.

Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Pangdam Jaya Dudung Abdurrachman ketika menyikapi kekalutan yang disebabkan oleh FPI. FPI dianggap sebagai penganggu stabilitas, persatuan, dan kesatuan bangsa dan negara.

Akhir-akhir ini rupanya agenda FPI cukup diwanti-wanti. Selain karena mengganggu stablitas negeri, FPI juga dianggap telah melanggar protokol kesehatan yang sejak jauh hari sudah disepakati. Hal itu kemudian melahirkan amarah dari banyak pihak, termasuk kecaman yang disampaikan oleh pemerintah dan TNI.

Namun, TNI dan pemerintah seharusnya tidak perlu bertindak seberlebihan itu. Sampai-sampai keluar pernyataan akan membubarkan FPI. Kita tidak perlu bersorak-sorai seraya bergembira menyambut wacana pembubaran FPI. Diakui atau tidak, negara ini masih butuh FPI. Jadi seharusnya FPI tidak perlu dibubarkan.

FPI adalah organisasi yang memiliki massa yang cukup banyak. Mereka tersebar hingga ke penjuru negeri.  Bukan hanya itu, mereka memiliki kekhasan yang jarang sekali dimiliki oleh anggota-anggota ormas lain di Indonesia, yaitu gemar sekali bergerombol.

Bagi musuh FPI, (yang notabene dihuni oleh penista agama dan penghina habib) FPI adalah segerombolan manusia yang sangat menakutkan. Berteriak dengan lantang layaknya seorang prajurit yang memasuki medan peperangan.

Ketimbang harus dibubarkan, massa FPI bisa dipakai untuk menjaga kedaulatan, memerangi musuh negara, atau memperbanyak pasukan relawan tanggap bencana.

Selain itu, karena corak keagamaan mereka yang konservatif, maka tindakan, pemikiran, dan tafsir agama mereka kerap kali berbeda dengan golongan Islam moderat. Dalam konteks ini, FPI adalah salah satu varian dari model keberagamaan di Indonesia. Meskipun tingkah laku dan sikapnya di mata publik dan media kerap menjadi bahan cacian.

“Islam itu agama yang rahmatan lil ‘alamin”, kalimat itu sering diucapkan orang-orang sesaat setelah melihat kelompok FPI yang membabi buta di jalanan. FPI kerap kali disebut ekstrimis, gemar berjihad, dan menghalalkan segala cara demi menyingkirkan kemungkaran.

FPI sering dipakai orang-orang moderat untuk contoh bahwa Islam itu beragam. FPI, NU, dan Muhammadiyah, tentu memiliki orientasi keislaman yang berbeda-beda. Kalau FPI dihilangkan, maka variasi keislaman di Indonesia akan semakin terkikis.

Orang perlu belajar dan melihat fakta bahwa faham kiri dan faham kanan adalah dua hal yang berbeda. Perbedaan itu akan semakin terlihat jika contoh-contohnya tersaji di masyarakat. Dengan begitu, orang bisa memutuskan, kemana ia akan memilih jalannya. Ke Islam yang kanan atau kiri. Dua-duanya baik dalam konteks keberagaman. Apalagi kita tinggal di negara demokrasi. Hak untuk beragama, berekspresi, dan berorganisasi tentu harus dilindungi.

Dalam beberapa kasus, FPI kadang digolongkan sebagai ormas yang dekat dengan terorisme oleh orang-orang yang berseberangan. Tentu itu sangat berlebihan. Namun, di mata orang-orang  yang menutup diri dari FPI, mereka kerap kali dihadapkan pada ketakutan-ketakutan yang keterlaluan.

Meskipun demikian, FPI tetaplah FPI. Mereka tidak akan menghentikan misinya hanya kerena hujatan. Mereka terlihat hanya fokus pada tujuan mereka dalam memberangus tanpa ampun praktik politik, sosial, dan keagamaan yang mereka anggap salah.

Dengan adanya FPI, orang-orang moderat bisa lebih terbantu untuk semakin jumawa dengan ke-moderatan-nya. Mereka bisa menjadikan FPI sebagai contoh, dan mengatakan ke murid-muridnya bahwa “kalian jangan seperti FPI ya, nak!”.

Harus diakui bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang susah sekali bersatu. Kalaupun bisa, kebersatuan itu biasanya akan terwujud hanya saat kita memiliki satu musuh bersama.

Kasus sepakbola misalnya. Suporter Persib dan Persija tiap pertandingan kerap kali berseteru. Namun, beda ceritanya kalau mereka tengah duduk dan menonton Timnas Indonesia tanding lawan Malaysia. Mereka akan bersatu-padu, bernyanyi-nyanyi dengan riang gembira mendukung satu tim yang sama dan melepaskan sesaat ego permusuhan mereka.

Mereka bisa bersatu dengan satu musuh bersama. Yakni Malaysia.

FPI rupanya juga memiliki oposisi yang tak kalah banyak. Di satu sisi FPI sangat dipuji, tapi di sisi lain FPI juga sangat dicaci. Dalam konteks keberagamaan di Indonesia, tentu FPI adalah ormas yang lebih sering dicaci.

Orang yang membenci kerusuhan, sebagian besar pasti tidak suka dengan FPI. Pengamatan saya di media sosial menyimpulkan bahwa orang-orang ini datang dari berbagai kalangan. Mulai dari anggota salah satu ormas Islam, sampai pada orang-orang yang tidak beragama Islam. Mereka bersatu-padu dan bersorak-sorai mencaci FPI dengan riang gembira.

Bagaimana kalau FPI bubar? Saya khawatir kebersatuan mereka akan runtuh. Ketika sudah tidak ada lagi bahan cacian bersama, tidak menutup kemungkinan mereka justru akan saling mencaci. FPI adalah pemersatu bagi sebagian masyarakat.

Pemerintah sebetulnya tidak perlu cemas. Meskipun FPI kerap kali menunjukkan sikap yang katanya tidak “Pancasilais”, tapi itu tidak sepenuhnya negatif.

FPI perlu dibiarkan, tidak perlu dibubarkan. Mereka adalah contoh nyata sebagai penguatan atas sikap jumawa orang-orang moderat. Kalau masih ada FPI, mereka masih punya bahan untuk membuktikan bahwa golongan merekalah yang lebih baik, dan FPI tidak baik.

Selain itu, jika kualitas persatuan kita masih dalam taraf bersatu karena ada musuh bersama, maka pembubaran FPI juga hanya akan mendatangkan petaka. Maka dari itu, wacana pembubaran FPI harus diolah lagi dengan beraneka macam sudut pandang. Meskipun sedikit nakal, tapi FPI sangat layak dipertahankan.