Salah satu sisi positif berpacaran adalah meningkatkan kecerdasan emosional. Kecerdasan ini merupakan kemampuan seseorang dalam menahan dan mengendalikan emosi yang dialami dengan bersikap optimis, memotivasi diri, dan berhubungan baik dengan orang lain.

Pengalaman adalah kunci dalam segala hal. Tidak terkecuali dalam berhubungan dengan lawan jenis. Berhubungan dengan lawan jenis sangat memerlukan pengalaman yang matang agar hubungan berjalan dengan damai dan terhindar dari toxic relationship.

Seseorang yang sudah sering pacaran (dengan benar) akan sangat paham bagaimana caranya mencintai dan membuat orang yang dicintainya ikut jatuh cinta dengan bahagia.

Sekadar informasi, pacaran dengan benar itu yang tujuannya untuk saling mengenal. Bukan yang cuma melampiaskan nafsu saja, meskipun alibinya kadang manggil abi-umi, kadang juga ngingetin sAlat, zakat, puasa, sampai haji. 

Namun, kembali lagi, pacaran yang baik adalah baik tujuannya, bukan sampulnya saja. Pacaran yang baik sampulnya saja tentunya bukan hal yang layak untuk dilakukan (apalagi anda jomblo).

Oke, lanjut.

Orang yang pernah pacaran pasti mengalami masa di mana ia harus berjuang mencari topik pembahasan agar tidak garing. Ia juga pasti pernah berjuang mengumpulkan uang jajan demi memberikan hadiah ulang tahun pacarnya. 

Orang yang pernah pacaran kebanyakan memiliki pemahaman tentang bagaimana cara memperlakukan lawan jenis dengan nyaman. Paling tidak, ia paham bahwa sebuah hubungan pasti ada permasalahan. Dan ketika itu terjadi, ia paham yang diselesaikan adalah masalahnya, bukan hubungannya.

Mencintai dan cara mencintai adalah dua hal yang berbeda. keduanya sama pentingnya. Jika ia hanya mencintaimu, namun tidak tahu bagaimana caranya mencintai, maka bersiaplah menjalin hubungan yang toxic relationship.

Coba bayangkan, jika anda bakal sehidup-semati dengan orang yang toxic, Tentunya banyak hal yang tidak menyenangkan dalam kisah perjalanan asmara anda. Seperti, dikekang, tidak boleh ini-itu, tidak bisa melakukan aktivitas ini-itu, bahkan bisa saja anda menjadi korban eksploitasi pasangan atas dasar ‘kasih sayang’.

Oleh karena itu, bagi saya, pasangan idaman adalah orang yang pernah pacaran. Kenapa bisa begitu? Oke, jadi gini, bagi saya, orang yang pernah pacaran akan lebih menyenangkan dari orang yang tidak pernah pacaran.

Mencari pasangan yang menyenangkan itu sangat penting. karena pasangan yang kita nikahi akan hidup dengan kita sampai meninggalkan dunia. Nah, ketika hidup bersama, kita akan menjalani fase hidup yang banyak rasa. Mulai dari susah, seneng, bahagia, duka, hambar, dan sebagainya.

Kita juga akan menjalani hari bersama dari muda sampai tua. Iya, sih, kalau masih muda, kita bisa menikmati masa berdua dengan jalan-jalan ke gunung, pantai, naik bianglala, atau keliling kota.

Namun, tentunya akan berbeda saat sudah di usia senja. Saat hanya bisa duduk berdua di satu meja yang sama, dan ditemani dengan teh celup yang tak boleh ada gula setetes pun. Dalam kondisi seperti itu, yang bisa dilakukan hanyalah berbincang-bincang dari bangun tidur sampai menjelang tidur.

Nah, jika pasangan kita tidak menyenangkan, khususnya dalam hal ngobrol, maka bisa saja sebelum usia senja, udah mati duluan karena bosan tiap hari gak ada hal yang menarik untuk dilakukan.

Menjadi orang yang menyenangkan itu butuh pengalaman. Tidak selalu orang yang menyenangkan ketika bersama teman-temannya juga menyenangkan ketika bersama pasangannya.

Banyak kasus yang seperti itu. Ini disebabkan karena kosa kata posesif, cemburu, hak saling larang, hanya ada ketika berhubungan, bukan pertemanan. Orang yang menyenangkan di tongkrongan, bisa saja sangat posesif ketika berhubungan, dan itu wajar.

Sekali lagi, pasangan yang mencintaimu memang penting, tapi cara pasangan mencintaimu juga tak kalah penting.

Kita adalah apa yang kita pikirkan. Tindakan kita adalah hasil dari pemikiran kita. Begitu juga cara kita dalam mencintai. Semuanya tergantung pemahaman dan pengalaman kita.

Ekspresi dalam mencintai bisa bermacam-macam sesuai dengan pemahaman masing-masing pribadi. Misalnya, ketika ada anak kecil yang dibelikan ayam warna-warni. Dia akan sangat suka bahkan cinta pada ayam warna-warni tersebut. Saking sukanya, ayam yang ia miliki bisa saja dipeluk dengan sangat erat. Saking eratnya sampai ayamnya mati.

Apakah ia tidak mencintai ayamnya karena sampai membunuhnya? Tentu tidak, ia sangat menyukai ayamnya, hanya caranya saja yang salah.

Jika dibandingkan dengan orang dewasa yang sudah berpengalaman, ketika mendapatkan hewan peliharaan, maka yang ia lakukan adalah merawatnya dengan semestinya. Ia akan memberikan makan, minum, memberikan ruang gerak yang banyak, serta meminimalisasi kegiatan yang merugikan peliharaannya tersebut.

Yaps, cara mencintai itu berbanding lurus dengan pemahaman serta pengalaman kita. Karena itu, paling tidak, cobalah berpacaran, meski hanya sekali.

Carilah pasangan yang setara dengan siapa pun orangnya, entah ia seorang aktivis, pekerja, pengusaha muda, tukang tambal ban, atau apa pun itu, terserah saja. Tapi pastikan kamu bisa berjalan di sampingnya. Bukan di belakang, lalu sama-sama memikul beban dan tanggung jawab yang sama.

Selamat mencoba. Tetaplah bahagia dan tetaplah baik-baik saja.