Setiap pagi, sekitar jam setengah 7, dua anak saya punya kebiasaan rutin untuk menonton film kartun di televisi. Tayangan yang mereka saksikan adalah adalah serial kartun 'Go Astro Boy Go' yang ditayangkan oleh RTV. 

Tidak jarang, ketika saya menulis artikel untuk Qureta ini, saya juga ikut nimbrung menikmati tayangan itu bersama mereka, sambil menjalankan peran saya sebagai orang tua untuk mendampingi anak-anak saya supaya konsumsi hiburan yang mereka nikmati sudah sesuai dengan usia mereka. (Modus supaya nggak malu nonton film kartun) 

Setelah saya mengamati serial film 'Go Astro Boy Go' ini, ternyata saya menemukan, film ini memiliki beberapa keunggulan sehingga layak menjadi tontonan bagi anak-anak maupun orang dewasa yang childist seperti saya ini. Hehe. 

Berikut ini beberapa alasan kenapa serial ini layak untuk ditonton. Yuk, mari~

Pertama, Lucu

Kehadiran 2 figur konyol yang ditambahkan dalam film ini menjadikan jalan ceritanya mampu menghadirkan gelak tawa. Tokoh kocak tersebut yang pertama adalah Astro Kitty. Sosok robot kucing ceroboh yang menjadi kawan Astro Boy ini selalu menghadirkan suasana unik tersendiri saat menemaninya berpetualang dan menyelesaikan misi. Kehadiran Astro Kitty menyebabkan jalan cerita menjadi sulit untuk ditebak, sebab ia mampu menghipnotis perhatian para pemirsa dengan aksi-aksi konyolnya. 

Selain itu, ada juga nama Dr Blunt (Brant), yang mencitrakan sesosok ilmuan anti-sukses dalam setiap risetnya. Berkali-kali ia melakukan observasi, namun tak ada satu pun yang sesuai harapan.

Saya jadi kepikiran, apa jangan-jangan sebenarnya Dr. Blunt ini adalah sosok ilmuan yang dulu mendapatkan gelarnya dengan cara membeli. Dengan kekayaannya, ia kemudian memanfaatkan joki untuk mengerjakan tugas akhir (skripsi, tesis, disertasi) yang ia akui sebagai miliknya sendiri. 

Jika memang demikian, maka pantas saja tidak ada satu pun dari percobaannya itu yang berhasil, memang dari bangunan konsep keilmuannya pun sangat dangkal. Gelar doktor baginya tidaklah lebih dari apa yang tersemat di depan namanya saja. Selebihnya, ia hanya merupakan praktik akademis yang kotor. 

Dr. Blunt seakan telah merepresentasi satire pada akademisi tertentu yang tidak menjalankan nilai-nilai luhur yang telah dicita-citakan. Keculasan yang ada di dalamnya berpotensi akan melahirkan sosok-sosok ilmuwan edan yang akan bernasib mirip dengan apa yang telah dialami oleh dirinya. 

Kedua, Gambar Menarik

Visualisasi gambar yang menarik dari film kartun ini memang menjadi magnet tersendiri bagi para penontonnya. Tidak usah jauh-jauh mencari contoh orang lain. Saya sendiri atau mungkin para pembaca sendiri ini mungkin adalah pihak yang merasa "eneg" sewaktu melihat kartun yang dibuat dengan gambar yang tampak acak-acakan. 

Bukan bermaksud untuk menjelekkan gambar kartun yang sudah kelihatan jelek itu, tapi jujur saja, sewaktu saya melihat gambar kartun seperti Chibi Maruko Chan, Shin Chan, Power Puff Girl, dan sebangsanya, saya menjadi tidak tertarik untuk menontonnya. 

Namun, jika saya melihat sisi pesan kehidupan yang tersemat pada film Maruko dan "kreativitas" seorang anak yang terwujud dari sosok Shin Chan, maka keduanya, seakan masih bisa dimaafkan. Setidaknya untuk saya sendiri. Tidak tahu kalau dari pihak KPI. 

Ketiga, Ada Pelajaran tentang Sains

Dari setiap episodenya, film Go Astro Boy Go ini selalu mengusung beberapa materi tentang ilmu pengetahuan alam. Awalnya, saya pun sempat menduga, apa jangan-jangan Mas Hasanudin Abdurakhman juga ikut terlibat dalam pembuatan film ini sehingga ia bisa memasukkan unsur-unsur sains di dalamnya dengan begitu ringannya. (Untuk kepastian ada atau tidaknya peran beliau dalam film ini, silakan tanya sendiri ke beliau! Hehe, bercanda!)

Dengan adanya nukilan muatan IPA di dalam film ini berarti kita secara tidak langsung bisa bersantai sambil belajar. Penjelasan materi IPA oleh Profesor Elefun yang sangat gamblang dan membumi, menjadikan materi ini mudah untuk dicerna oleh siapa saja, termasuk bagi kalangan awam sekali pun, seperti saya. 

Keempat, Ada Aksi Penyelamatan

Dalam film yang berdurasi sekitar 11 menit per episodenya ini selalu menyuguhkan aksi-aksi penyelamatan ekosistem dan lingkungan. Misalnya saja, misi penyelamatan habitat lumba-lumba yang dipenuhi oleh sampah rumah tangga, aksi pemurnian habitat singa yang tercemari limbah industri, dan sebagainya. 

Dengan total 52 episode yang telah digarap oleh Planet Nemo Animation yang berduet dengan Tezuka Production ini menjadikan film ini layak untuk ditonton oleh pelbagai kalangan. Dan jika ditelusuri lagi, hal ini kemudian menjadi sangat wajar, sebab awal kali dedikasi mereka dalam membuat film ini adalah untuk pendidikan bagi anak-anak pra-sekolah. 

Jika kemudian ada pihak yang merasa keberatan dengan muatan materi sains yang disuguhkan dalam film ini, kita pun menjadi bertanya-tanya, apakah materi yang mereka sajikan itu yang terlalu berat, ataukah kapasitas berpikir kitanya yang terlalu ringan sehingga sulit untuk mencernanya? Ya. Silakan direnungkan sendiri. 

Dan, meskipun film yang mengusung genre tentang petualangan, aksi, komedi, dan sains ini menurut saya sangat layak ditonton untuk mengisi waktu-waktu belajar di rumah, namun saya belum berani untuk merekomendasikannya, baik itu untuk para pembaca Qureta apalagi sebagai usulan materi untuk Pak Mendikbud. Sebab saya tahu bahwa akses listrik, parabola, dan internet, belum tentu sama rata untuk masing-masing daerah dan keluarga.