2 bulan lalu · 2001 view · 3 menit baca · Politik 31439_17525.jpg
JawaPos

Alasan Anies Pilih Jokowi Bukan Prabowo

Kembalikan Pilpres ini pada soal menjalankan pemerintahan dengan baik. Cari yang kompeten, bersih, dan yang bisa menawarkan kebaruan. ~ Anies Baswedan

Tidak usah buru-buru baper. Jangan pula ada yang sampai melongo segala. Sebab untaian kata mutiara dari sosok Gubernur DKI Jakarta di atas itu hanyalah berkonteks Pilpres 2014, bukan untuk 2019. Jadi santai sajalah.

Jikapun ada yang sempat demikian, baper atau melongo, wajar. Saya pun sempat begitu. Sangat terkaget dan terherah-heran saya ketika videonya diviralkan kembali oleh warganet.

Pas tahu bahwa itu berkas usang, muncullah rasa kecewa. Apa boleh buat, kenyataan memang pahit.

Tetapi mari kita tinggalkan saja rasa kecewa itu. Yang Anies sampaikan, meski melalui video klasik, tetap berguna. Alasan-alasan kenapa dukung Jokowi bukan Prabowo adalah narasi yang masih relevan untuk konteks Indonesia hari ini.

Dulu, kisah Anies, tidak pernah ada yang mengasosiasikan Prabowo dengan kekuatan Islam. Tidak pernah ada yang mendiskusikan bahwa hadirnya Prabowo merupakan jelmaan dari kebangkitan Islam di Indonesia.


Setelah diusung dan didukung penuh oleh partai-partai beraroma Islam seperti PAN dan PKS, barulah isu itu muncul; mendadak label itu menyesak di ruang-ruang publik. Prabowo disebut-sebut wakil Islam sembari Jokowi dituding bukan bahkan anti-Islam.

Benar bahwa Jokowi kurang representatif diangkat sebagai wakil Islam di Indonesia. Ia bukan tokoh organisasi Islam macam Gus Dur. Tetapi yang sangat aneh adalah ketika membingkai Prabowo sebagai yang representatif dibanding Jokowi. Ini jelas penipuan—kata Anies, taktik kampanye gelap.

Isu yang diarahkan sebenarnya isu yang menjadi kelemahannya Prabowo. Prabowo justru dari keluarga yang tidak semua saudaranya beragama Islam; ibunya, saudara-saudaranya, tetapi justru Jokowi yang dituding. Ini satu taktik kampanye gelap yang berbahaya sekali.

Dulu, lagi-lagi kisah Anies, yang elite diskusikan dalam menyambut kontestasi politik adalah soal bagaimana calon pemimpin mampu memerangi korupsi. Segala hal yang potensial memajukan bangsa digarap betul, seperti memastikan kualitas pendidikan, kesehatan, transportasi, komunikasi, dan energi. Sama sekali tak pernah menyinggung isu etnis dan agama.

Entah kenapa isu yang tak punya korelasi langsung membangun negeri itu malah kini mengalir deras. Jelang Pilpres, mendadak tema-tema penting untuk membereskan Indonesia diubah sedemikian rupa. Warga-warga pun lalu memilih berdasar faktor emosi belaka. Visi-misi terlupakan.

Karena itu saya mau mengajak, kita kembalikan pilpres ini pada soal menjalankan pemerintahan dengan baik. Cari yang bagaimana? Nomor satu, cari yang kompeten. Yang kedua, cari yang bersih. Yang ketiga, cari yang bisa menawarkan kebaruan.

Itulah alasan utama Anies kenapa pilih Jokowi bukan Prabowo. Kalaupun ada yang yakin bahwa Prabowo-lah pilihan terbaik bukan Jokowi, maka yang bersangkutan harus mampu menjelaskan letak kompetensi idolanya, kebaruan program tawarannya, dan aspek bersihnya dalam menjalankan roda pemerintahan.

Saya juga begitu. Saya pilih Jokowi karena saya yakin dia kompeten, bersih, gak punya catatan macam-macam dalam track record perjalanan kariernya. Bahkan, ketika menjadi wali kota, dia bukan sebagai politisi. Dia adalah pengusaha yang memilih untuk menjadi wali kota. Dia bisa mendorong kebaruan.


Dengan begitu, simpul Anies, warga akan terhindar dari pilihan berdasar emosi. Warga akan memilih mana yang memang Indonesia butuhkan: siapa yang lebih baik menjalankan roda pemerintahan; bisa melakukan terobosan; mampu membuat warga yakin bahwa supremasi hukum akan tegak karena menjalankannya tanpa beban “dosa” masa lalu.

Memelintir Konteks

Di momen jelang Pilpres 2019 begini, terkesan sekali bahwa si pelaku mencoba menggiring emosi massa. Ia hendak membentuk opini publik bahwa Anies dukung Jokowi bukan Prabowo; sikap politik Anies dinamis; loncat-loncat ke sana-kemari seperti bajing.

Isu dukungan Anies untuk Jokowi jelas bermanfaat. Di negeri ini, adalah bodoh bagi calon pemimpin jika sampai mengabaikan dukungan umat mayoritas. Dan Anies, kita tahu, sudah mendapat cap sebagai pemimpin yang lahir dari kalangan yang demikian.

Selain itu, siapa pula yang mau menolak dukungan dari penguasa Ibu Kota? Apalagi sempat ditempatkan sebagai “Gubernur Indonesia” hingga “Pemimpin Pribumi”. Menolak dukungannya adalah ngaco!

Potensi bergelimangnya dukungan itulah yang coba dimainkan si penyebar video Anies. Meski tak tergolong hoaks, tetapi kesannya sangat terang: memelintir konteks.

***

Terlepas darinya, saya tetap memimpikan Anies untuk kembali menggaungkan perlawanan terhadap kempanye gelap, terutama yang tertuju ke Jokowi oleh kubu Prabowo, berupa permainan isu-isu agama.

Kenapa Anies yang patut berperan? Selain banyak paham bagaimana sosok seorang Prabowo, latar belakang hidupnya, aspek-aspek keislaman juga ia kuasai. Ia adalah (mantan) intelektual di wilayah itu.


Nalar politiknya pun cukup memadai. Sebagai Jubir Jokowi-JK di Pilpres 2014, ia sukses. Mengalahkan Ahok di Pilkada DKI Jakarta 2017 pun adalah bukti kepiawaian Anies mengelola emosi massa.

Sayang, narasi itu beda konteks. Andai disampaikan untuk Pilpres 2019, bisa saya katakan, tak perlu lagilah bagi Jokowi untuk kampanye. Cukup dengan seruan Anies, pendukung Prabowo sudah pasti terbelah. Ditambah Ahok yang kini bernaung di bawah partai koalisinya, habislah Prabowo itu; bisa meranalah ia sebagai capres gagal terus-terusan.

Artikel Terkait