Kali ini saya benar-benar iri kepada dia. Di masa teror wabah korona, dia masih bisa mereguk nikmatnya pundi-pundi pemasukan dengan memunculkan ide brilian nan lincah dan trengginas melalui pelatihan menulis online.

Namun, rasa iri ini sebisa mungkin saya pendam, mengingat pepatah yang hingga kini masih terus saya yakini, bahwa pasti ada hikmah di setiap peristiwa. Hal inilah yang membuat saya yang seorang guru di masa isolasi diri ini akhirnya punya waktu luang untuk bisa ikut mencicipi dan merasakan kelas beliau, seorang penulis media online yang pilih tanding itu. Sebut saja namanya dengan Bambang.

Sebagai seorang guru, dengan segudang aktivitas rutin harian, saya merasa menemukan saat yang tepat untuk mengisi periode ‘mengeram’ ini dengan kegiatan pengembangan diri yang lebih bermanfaat guna meningkatkan keterampilan diri,bisa berkarya bahkan dari sudut rumah sekalipun. Seolah menemukan oase di tengah gurun pasir, laksana menemukan vaksin di tengah pandemi.

Kemudian saya lantas membayangkan betapa enaknya hidup di dunia kepenulisan populer dengan menjadi penulis. Bekerja dari mana pun, tanpa sekat ruang dan waktu, bisa tetap produktif, terkenal, bergelimang harta, dan kenikmatan duniawi lainnya. Ah, alangkah indahnya hidup ini.

Tapi ternyata dunia tak seindah bayangan saya, menulis itu susah. Berulang kali saya mencoba menyusun kalimat, dan sebanyak itu pula kalimat tadi saya hapus, menulis lagi, diperbaiki, tapi akhirnya saya hapus lagi. Duh Gusti, sampai kapan penderitaan ini berakhir?

Dunia memang kejam, tak ada yang instan ternyata. Semua butuh proses. Seperti layaknya memasak, bahan baku dan bumbu harus kita persiapkan terlebih dahulu, tata cara memasak kita kuasai, takaran bumbu, aturan main masak, tata cara penyajian,, dan sebagainya.

Termasuk juga untuk urusan tulis-menulis ini. Kelihatannya saja gampang, teorinya indah mengawang-awang, tapi praktiknya bikin otak saya yang secuil ini terjungkal, terjerembab berkali-kali dalam kubangan frasa dan kalimat tak bermakna.

Seolah latihan mengisi otak melalui jalur pendidikan formal yang saya tempuh belasan tahun ini tak berbekas, tak ada linearitas di antaranya. Ternyata, pintar akademik tidak selalu sejalan dengan kepiawaian menuangkan ide dan gagasan lewat tulisan. Walau memang saya gak pinter-pinter amat.

Uji linearitas pendidikan inilah yang mau tidak mau menjadikan saya sebagai seorang guru. Saya mengajar para anak didik dengan aturan dan pakem mendidik yang standar bahkan kadangkala membuat saya bosan dan jenuh dengan aktivitas yang monoton.

Guna menyiasati hal di atas, maka tidak ada salahnya saya mencoba untuk menemukan ladang amal kebaikan (ehemm...) yang baru. Muncullah ide bagaimana bisa mengajar lewat tulisan, dengan khalayak penikmat yang lebih luas, audiens siswa yang beragam.

Memang idealnya seorang guru harus mampu menyampaikan materi pembelajaran, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, tapi pola pendidikan kita yang mengakomodasi template lah yang akhirnya menghasilkan produk-produk lulusan yang hanya bisa berjalan sesuai arahan pakem kurikulum. Mengajar klasikal dengan pola ceramah. Titik.

Lebih jauh saya berpikir, kenapa keterampilan menulis ini tidak dibekalkan saja sebagai materi dasar, seperti layaknya memperlakukan keterampilan dasar kepramukaan, kepada seluruh siswa. Sehingga nantinya dunia pemikiran kita tidak stagnan, yang didominasi oleh orang-orang itu lagi itu lagi.

Dunia pemikiran kita menjadi tampak lebih berwarna manakala percaturan wacana dilandasi keilmuan yang sahih dan kuat, langsung dari tangan praktisi di lapangan.

Diakui atau tidak, lintas pertukaran ide sekarang ini hanya didominasi wacana yang seragam dan cenderung teoritis dan tidak membumi. Karena memang tidak dikemukakan oleh orang para praktisi yang tepat dan untuk pembaca yang tepat pula.

Tentu pemikiran di atas dapat dimulai manakala guru -sebagai pemangku kewajiban moral pendidikan-, mempunyai keterampilan itu dan mampu menularkannya secara sporadis kepada para siswanya, generasi penerus bangsa.

Jika keterampilan menulis ini dapat dimiliki oleh seluruh penggerak sendi kehidupan, alangkah indahnya kita akan melihat percaturan wacana di tingkat masyarakat yang lebih beragam, dan masyarakat pun bisa melatih diri untuk menemukan makna terdalam dari setiap wacana. Debat argumentatif yang bertanggung jawab pun akan menjadi tradisi positif.

Dengan keterampilan menulis, para guru bisa mengajarkan keterampilan tersebut kepada para siswa, agar para siswa mampu mengungkapkan gagasan secara tertulis sesuai dengan bakat dan minat mereka. Guru pun dapat menyusun sendiri bahan ajar sesuai kebutuhan peserta didik, tidak terpaku aturan teknis standarisasi nasional.

Dengan keterampilan menulis, para petani mampu menyebarkan ide-ide tentang pertanian dalam wacana global. Bagaimana varietas yang unggul dan cocok dalam lahan tertentu, bagaimana cara efektif mengatasi hama, dan sebagainya. Gagasan-gagasan yang ditulis secara lugas itu dapat dikonsumsi petani di seluruh Nusantara.

Berbekal kelihaian menulis, para peternak mampu menelurkan ide mengenai varietas baru dari persilangan bebek dan angsa, atau bagaimana menyampaikan mengenai pengembangbiakan ikan hias yang bisa sekaligus layak konsumsi, dan lain sebagainya.

Dengan keterampilan ini pula kita bisa menjumpai para pedagang yang secara brilian mampu membeberkan keahlian mengalkulasi kebutuhan pasar, mampu menganalisis gejolak harga, hingga menemukan ceruk pangsa pasar yang baru, dan sebagainya.

Hingga pada suatu masa, ketika menulis sudah menjadi budaya, maka sebenarnya kita sedang mempersiapkan generasi bangsa yang unggul dan bertanggung jawab. Dunia kepenulisan mengajarkan kita menjadi insan yang bertanggung jawab.

Imajinasi saya berujung manakala pada suatu saat lalu lintas tulis-menulis bukan lagi monopoli kaum terdidik secara akademis dengan teorinya, bukan hanya lahan bagi para jurnalis dengan laporan beritanya, bukan pula untuk kalangan menengah ke atas secara intelektual semata, namun menembus ke segenap kasta sosial maupun intelektual.

Akhirnya semua akan menjadi manusia literat pada waktunya. Kolumnis sekaligus petani, pemakalah sekaligus peternak, pembicara sekaligus pedagang. Dengan tingkat kesadaran literasi yang padat nan rapat.

Hingga pada suatu masa, 5 atau 10 tahun ke depan, karena permintaan pasar pembaca yang bergairah, akan bermunculanlah media-media dengan pasar pembaca yang segmented. Bermunculanlah media pertanian, media peternakan, media pertukangan, dan media-media khusus yang lain, yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dunia akan tampak semakin berwarna. Alangkah indahnya masa-masa itu. Apakah impian saya ini terlalu tinggi?