These shallow waters never met what I needed,
I letting go a deeper dive,
Eternal silence of the sea, I breathing alive.
(Faded, Alan Walker)

Terjemahan bebasnya; air dangkal ini tidak pernah penuhi yang kubutuhkan, aku menyelam lebih dalam, (ada) keheningan abadi di lautan (sehingga), aku bisa bernapas.

Siapa yang tidak suka mendengar musik? Aku suka mendengar musik. Siapa yang tidak suka menyanyi? Aku suka menyanyi untuk diriku sendiri. 

Kamu bagaimana? Apakah kamu "penikmat" musik sejati? Tapi, jangan sampai karena saking sejatinya kamu lupa pada orang lain di sekitar. Misalnya seperti ini; main gitar di depan rumah dengan teman-teman segeng. Membunyikan musik di mobil. Mengundang orkes dangdut. Menyanyi sendiri di rumah.

Kelihatannya memang tidak bermasalah. Namun, menjadi masalah ketika kamu main gitar di depan rumah tepatnya di pinggir jalan dengan teman-teman segeng kemudian mengabaikan hak orang lain pengguna jalan.

Ketika kita membunyikan musik di mobil sehingga setiap tempat atau rumah yang ada orang di dalamnya menjadi ikut kaget mendengarkan musik yang begitu keras dan besar. Ketika kita mempunyai hajatan atau acara pernikahan, kita kemudian mengundang artis penyanyinya yang bisa merusak iman dengan goyangannya yang tidak anggun dan elegan.

Ketika kita menyanyi sendiri di rumah, berkaraoke-ria sampai lupa jam sudah menunjukkan waktu tengah malam yang membuat keributan dan kebisingan mengganggu tidur tetangga.

Hmmm, hiburanmu bukan untukku! Semuanya bisa juga bukan tentang musik saja, namun hal lain. Kebisinganmu bukan untukku! Suara-suara yang harusnya di ranah privat, kini menjadi konsumsi publik.

Tidak Suka yang Bising-Bising?

Seorang kolegaku dalam mengajar menanyakan tentang grup WhatsApp, (WA) yang dikhususkan bagi mahasiswa dan dosen. Grup ini akan menjadi ruang bagi mahasiswa yang ingin tanya-jawab sebelum final test. Namun, dia meminta bergabung dengan grup hanya untuk sementara saja karena dia katanya tidak suka terlalu bising.

Aku katakan padanya; iya, aku akan menggabungkannya di grup, dan grupnya tidak ramai, aku yang sering meramaikannya dengan mengirimkan berbagai tautan.

Hari ini, bukan hanya jalan raya yang ramai dan bising oleh berbagai jenis kendaraan. Bukan hanya pasar yang ramai dan bising oleh penjual dan pembeli. Namun, media sosial atau medsos juga.

Sehingga, ada penelitian yang mengatakan Indonesia termasuk negara "tercerewet" kedua di dunia dengan indikator pengguna tweet Indonesia yang rajin sekali me-tweet.

Bukan hanya tweet, lihat saja timeline teman-teman WA milikku. Berbagai story berseliweran, walau ada yang jarang pasang status, ada yang statusnya cuma satu, tapi ada juga yang sampai lebih dari sepuluh (ini status pebisnis).

Belum lagi di grup, yang setiap lima menit ada berita, selalu ada yang ingin dikomentari, direspon. Itu kalau grupnya cuma satu apalagi kalau punya banyak grup bisa berabe, aku tidak mengaktifkan kartu data saja selama kurang lebih setengah hari, bisa ratusan pesan yang belum terbaca. 

Alangkah, bisingnya!

Dunia Bising versus Dunia Damai

Seorang teman yang merupakan "Macan(nya) pelatihan" mengaku ingin tinggal di hutan selama seminggu walaupun tanpa sinyal hape. Hiruk pikuk dunia maya membuatnya ingin menenangkan diri pada dunia yang damai. Dan damai itu menurutnya ada pada hutan.

Aku pun pernah berpikir yang sama, aku ingin dunia yang damai yang mungkin dengan hidup di hutan agar jauh dari hiruk pikuk. Ini gara-gara aku pusing tujuh keliling ingin keluar dari sebuah mall di Makassar namun tidak menemukan jalan keluar. Mana semua orang terlihat "asing" dan tempat ini bisa jadi merupakan pusat kebahagiaan semu, dan sementara. Mereka datang hanya cuci mata, ingin memiliki sesuatu namun tidak bisa dimiliki.

Aku jadi berpikir, mending aku "tersesat" di hutan daripada tersesat di mall. Ketika aku "tersesat" di hutan; aku akan merasakan udara yang begitu fresh dan segar dari pepohonan dan buah-buahan bukan yang harum karena bau kue dan daging.

Aku bisa menikmati makanan tanpa pengawet alami dan natural karena mengambil langsung dari sumber tanaman. Aku bisa mandi di bawah air terjun sambil menangkap ikan di sungai. Aku bisa tidur lebih cepat, dan nyenyak karena malamnya begitu dingin dan gelap. Indera pendengarku jadi lebih baik, aku mendengar suara burung dan serangga yang indah dari mana-mana (asal jangan bunyi auman singa, si Raja hutan saja).

Ngomomg-ngomong soal mendengar, aku pernah memasang status di WA setelah mengikuti acara bedah buku seorang penulis terkenal, redaksinya seperti ini; 

"Tidak semua pembicara bisa menghipnotis pendengarnya dengan kata-kata. Sama halnya, tidak semua penulis bisa menghipnotis pembacanya lewat tulisannya. Maka, punya seni berbicara dan menulis itu penting."

Hal tersebut dikomentari oleh salah seorang sahabat, katanya; juga seni mendengar, karena sebelum menjadi pembicara dan penulis, harus jadi pendengar dulu. Hal ini menjadi fundamental, bila kita abai pada hal tersebut dunia akan bising dan riuh.

Semua orang ingin berbicara, tanpa ingin mendengar, padahal dengan mendengar kita bisa mengetahui lebih dalam. Akankah kita mau mendengar?

Hmmm, Benar juga. Bisa jadi begini, jangan-jangan kita sendirilah sumber kebisingan itu sendiri, karena kita sendiri tidak mau mendengarkan orang lain. Misalnya, kita marah-marah ke tetangga karena memutar musik dari radionya dengan kencang. 

Nanti dia bilang; berisik, suka-suka gue dong dengerin musik kencang-kencang, radio, radio gue, hak gue dong!

Hadeh!