Alan Turing adalah profesor matematika di King College, Cambridge. Ia memimpin sebuah tim intelijen Inggris yang berupaya memecahkan sandi-sandi militer Jerman melalui penciptaan sebuah mesin pintar. Ia berhasil! Namun tak serta merta perang berakhir.

Turing memilih untuk berhati-hati dalam memakai mesin itu, agar Jerman tak menyadari bahwa sandi mereka telah berhasil dipecahkan. Melalui analisa kalkulus yang rumit, ia menyarankan berbagai pola serangan maupun pertahanan kepada tentara Inggris dan Sekutu, sampai akhirnya Jerman dikalahkan.

Menurut analisa ahli sejarah, berkat kontribusi Turing itu, perang dapat dipercepat 2 tahun. Diperkirakan percepatan itu telah menyelamatkan sekitar 15 juta jiwa.

Tak cuma itu. Turing adalah pioneer dalam ilmu komputer. Ia mendesain Turing machine, yang merupakan basis komputer modern. Artinya, komputer yang kita pakai sekarang, termasuk berbagai gawai dalam genggaman kita.

Untuk mengenang Turing, Macintosh memakai logo berupa sebuah apel yang tidak utuh lagi, sudah tergigit sebagian. Apel ini ditemukan di rumah Turing saat kematiannya. Mungkin itulah gigitan terakhir Turing sebelum ia meninggal. Ia diduga bunuh diri.

Sisi lain soal Turing, ia adalah seorang homoseksual. Di zaman itu homoseksualitas terlarang dalam hukum Inggris. Ia diadili, lalu diberi pilihan: dipenjara atau dikebiri secara kimia. Ia memilih dikebiri, dengan meminum obat terapi hormon untuk menekan hasrat seksualnya. Ia memilih hukuman itu agar bisa tetap melanjutkan pekerjaannya, mendesain komputer yang kini kita nikmati.

Saya teringat pada Alan Turing ketika membaca berita soal larangan masuknya LGBT ke kampus-kampus yang disampaikan Menristek Dikti kemarin. Homoseksualitas adalah cela dan nista, tidak patut berada di kampus.

Saya bayangkan bila ada orang jenius seperti Turing di kampus kita sekarang, sekaligus ia seorang homoseksual seperti Turing pula. Apa yang akan dia hadapi? Mungkin ia akan dibuang dari kampus.

Apa kesalahan atau kejahatan Turing? Ia menggunakan penisnya dengan cara berbeda dari manusia pada umumnya. Ia hidup di tengah masyarakat yang memasukkan penis ke vagina untuk mendapat kenikmatan seksual, sementara ia punya cara lain.

Karena cara menikmati seks yang berbeda itu Turing menjadi tidak punya hak untuk hidup bersama kita. Ia boleh hidup hanya dengan meninggalkan cara dia menikmati hubungan seks.

Mengapa? Karena menurut banyak orang, itu cara berhubungan seks yang tak patut. Atau lebih tepat lagi, masyarakat belasan abad yang lalu menetapkan bahwa itu tak patut, kemudian terekam dalam naskah kitab yang disucikan, kemudian diabadikan.

Pada saat yang sama, kitab suci yang terbit belasan abad yang lalu juga menetapkan bahwa orang tidak boleh makan babi, atau minum arak. Apakah pemakan babi dan peminum arak diperlakukan sama seperti perlakuan yang diterima Turing? Tidak.

Apakah kalau kebetulan ada peneliti atau dosen yang makan babi atau minum arak, ia akan kena sanksi dari pihak kampus? Apakah Menristek Dikti akan mengecam keras terhadap pemakan babi atau peminum arak? Kemungkinan besar tidak. Lalu, apa yang membuatnya jadi berbeda?

Seks adalah bagian yang paling tertutup dalam sejumlah aktivitas hidup kita. Kita makan dan minum masih mungkin dilihat oleh banyak orang. Sedangkan hubungan seks kita sangat kecil kemungkinan untuk dilihat orang. Tapi ironisnya, hubungan seks ini lebih sering diributkan orang ketimbang urusan lain dalam perilaku kita.

Mengapa? Embuh.