Mahasiswa
5 bulan lalu · 728 view · 6 min baca menit baca · Saintek 15603_77693.jpg
Editing by picsart

Alam Sains dan Rekayasa Skenario Tuhan

"Ada Perbedaan mendasar antara agama yang berdasarkan otoritas, dan sains yang berdasarkan observasi dan nalar. Sains akan menang karena ia terbukti bekerja.”–Stephen Hawking

Berbicara  sains, pikiran kita tak akan kabur selain tentang penemuan, perkembangan, dan teknologi. Sains adalah pabrik produksi hal-hal baru dan unik yang dibutuhkan manusia. Dunia sains sangat berarti dan tidak akan pernah  kadaluarsa.

Beda ketika kita mengingat agama, ajaran sebuah agama bersifat dogmatis dan absolut. Permanen, tidak boleh ditentang, dan konsepnya kekal terhadap apa yang diperintahkan. Sementara alam sains, sebuah metode pasti akan berakhir, baik berlawanan dengan metode baru maupun di update dengan sebuah metode yang sama namun lebih mutakhir.

Namun anehnya, agama tetap dipeluk dan diprioritaskan oleh sebagian besar orang (kecuali atheis), kedudukannya bak makanan kehidupan rohani bagi populasi umat beragama. Di titik ini, agama seimbang dengan sains, tak akan tergerus oleh waktu.

Keajaiban agama tersebut, diyakini karena sudah direncanakan oleh sang khalik. Kaum religius percaya semua telah ditentukan jauh hari lalu.

Asumsinya,  keuntungan apa yang didapat dari sebuah agama sehingga banyak orang memeluknya? Hanya keterbatasan dan janji yang tak tampak berupa pahala-dosa, serta surga di akhirat kelak. Tapi nyatanya, agama mampu masuk di sisi-sisi kehidupan.

Mukjizat demikianlah yang tidak diakui sains, sains yang terus mencari kebenaran menolak mentah-mentah hal yang berbau mistis dan fiktif. Takdir, Hari kiamat, malaikat, berkah pahala, dan surga-neraka di mata scientist  hanyalah sesuatu kebohongan yang sempurna. Dan ajaran agama, opini mereka tak lain ialah penciptaan batasan-batasan yang menghalangi gerak di dalam sains.

Di alam sains, segala hal tentang pengetahuan boleh dieksperimen tanpa adanya keterbatasan. Inseminasi buatan, fertilisasi in vitro (bayi tabung), klonning,  rekayasa genetika dan bioteknologi lainnya. Walaupun terdapat efek samping, selagi itu bermanfaat tetap dilegalkan oleh sains.

Sedangkan di kacamata hukum agama, pasti dilarang keras. Bunyi salah satu kaidah Fiqh Islam, “Mencegah kemudharatan lebih didahulukan daripada mendatangkan kemaslahatan”. Inilah hal kontras antara kerja ilmiah sains dengan agama.

Sewaktu kecil, saya sering didongengkan kisah-kisah tentang agama oleh orang tua, yang tidak lain adalah pembelajaran dan pengenalan kepercayaan yang otomatis dilakukan oleh orang tua saat anak nya masih kecil hingga remaja. Dari sekian banyak cerita, teringat di memori bahwa pernah dikisahkan seseorang yang di ubah sang kuasa menyerupai kera.

Durhaka kepada orang tuanya, dan membuat tuhan murkalah penyebab azab itu turun. Hingga tertanam doktrin di pikiran saya, pesan moril yang terpatri ialah jangan melawan orang tua dan jangan ragu mengikuti perintah agama. Persepsi demikian diperkuat ketika saya belajar di pondok (Islamic School),  lalu menemukan ayat kitab suci yang menjadi dalil kisah itu (Q.s Al-Baqarah: 65).

Tahun 2014-2017, saya duduk dibangku akhir SMA, saat itulah saya bertemu “Teori Evolusi” di mata pelajaran biologi. Charles Robert Darwin, yang dikenal sebagai Father of Evolution, membuka mata semua ilmuwan dunia, dengan sains ia menggeser persepsi, termasuk tafsir agama.

Baca Juga: Fakta dan Sains

Dalam bukunya The Origin of Species, darwin mengemukakan teori bahwa spesies yang ada sekarang merupakan turunan dari spesies-spesies sebelumnya.  Homo Sapiens atau manusia sekarang pun diyakini berasal dari nenek moyang berupa kera. Seleksi alam dan mutasi genetik lah yang menjadi kunci evolusi demikian.

Di titik ini, terjadi kontras dua persepsi, penganut agama samawi mempercayai teori “sudden creation”, yaitu manusia diciptakan langsung dari tuhan, ialah adam, dan ia tidak melalui proses evolusi. Sementara scientist, utamanya pendukung darwinisme, menampar balik hal demikian dengan bukti-fakta teori evolusi.

Ahli sejarawan asal Israel, Yuval Noah Harari, dalam bukunya Homo Deus,  berpendapat bahwa 200 tahun akan datang, Homo sapiens yang sekarang juga akan mengalami seleksi alam, oleh teknologi dan kecanggihan saat ini. Homo sapiens akan merevolusi ilmiah dirinya menjadi Homo Deus. Prediksi manusia cyborg, evolusi mendatang antara manusia dan mesin akan terwujud pendapatnya.

Apabila prediksi itu kembali menjadi nyata, akan dikategorikan kembali sebagai takdir oleh kaum religius. Di kehidupan agama ada dua hal; skenario dan aktor, tuhan memiliki naskah-naskah kehidupan yang sudah dirancangNya, dan peran manusia berjalan menjadi aktor dari skenario itu.

Di tengah mengalirnya sains modern ini, mengatasi kematian, menciptakan kehidupan buatan, mengeksplorasi habis-habisan jagat raya semesta tanpa memperhatikan akibatnya, hingga memodifikasi sebuah kehidupan, dianggap mencampuri urusan tuhan. Makhluk yang sombong dengan sang pencipta, sehingga ingin tahu segala rahasia-Nya.

Kaum agamawan percaya bahwa terdapat lembaran-lembaran pribadi tuhan yang tidak boleh dicampur tangan oleh makhluknya, seperti halnya penciptaan, kematian, alam semesta, dan pencarian keberadaanNya (dzatNya).  Bencana dan laknat akan tiba, bila manusia melewati garis batas itu.

Garis batas yang diterobos kembali terjadi November 2018 lalu, genetika sains modern dinilai terlalu bermain-main dengan sebuah nasib individu. Dilansir detik.com, ilmuwan Science and Technology asal China, telah melakukan rekayasa genetika kepada sepasang bayi kembar, agar memiliki imunitas terhadap virus HIV.

Memang miris terhadap sepasang bayi yang mewariskan penyakit AIDS dari kedua orang tuanya, tetapi itu bukan alasan untuk memodifikasi, menghapus dan menciptakan kode gen individu. Eksperimen sains genetika berorientasi pada generasi mendatang, risiko akan mutasi gen yang berkelanjutan bakal terjadi terhadap umat manusia.

Hingga detik ini, tidak sedikit catatan hitam sains terhadap dunia. Nuklir yang dicanangkan membawa perdamaian dunia, malah membuat bumi menangis derita pada perang dunia II, dinamit oleh tokoh terkenal Alfred Nobel, bahkan Bom Atom yang disesali penemunya sendiri, Einstein. 

Big data yang membawa dampak negatif dunia seperti manipulasi pencurian data di dunia maya, prostitusi dan judi online, Hoax dan ujaran kebencian, hingga rekayasa dunia sosial oleh Social Media.

Tugas makhluk diberi pengetahuan untuk menjadi penemu, bukan meniru tuhan dalam mengatur skenario dunia seisinya ini. Pekerjaan yang menentang takdir terkesan memasuki alam pikir tuhan. Konsekuensinya, kaum religius memiliki zona atau kawasan yang tidak boleh diganggu gugat, kecuali sang pengatur.


Fokus lingkup alam sains adalah antitesnya. Scientist justru mengkampanyekan sebaliknya, yakni kebebasan dalam eksperimen, sebab di dalamnya kesalahanpun akan dimaafkan, dengan dalih manfaat yang akan dicapai. 

Kode etik dan aturan sebenarnya telah di prosedur ruang kerja sains, namun indoktrinisasi keluasan berfikir di kepala-kepala scientist terkadang tidak terkonsentrasi dengan peraturan itu. Alhasil, catatan hitam sains tak terelakan, kasus rekayasa genetika embrio anti HIV di atas salah satunya.

Sains dan agama sukar berkolaborasi, ada salah satu atmosfer yang dominan ketika keduanya bersama. Seorang ilmuwan yang memiliki pondasi agama yang kuat, cenderung mengutamakan batasan-batasan dan menghindari pembangkangan tafsir-tafsir kepercayaannya. Sementara itu, scientist sejati tetap menjalankan hipotesa dan observasinya dalam mencari kebenaran.

Bukankah tidak sedikit ilmuwan sains yang mengkritik agama? keluar dari keimanan mereka, menjadi atheis atau anti agama, memerangi kaum agamawan secara ekstrimisme dengan pengetahuannya. Stephen Hawking, Richard Dawkins, James Watson, dan seterusnya.

Ilmuwan biologi evolusioner, Richard Dawkins bahkan beranggapan bahwa iman, hanyalah sebuah kepercayaan yang tidak berlandaskan bukti, dan tergolong kejahatan tebesar di dunia. Bukankah agama hanyalah pembenaran bagi kepercayaan yang tidak ada buktinya? Sehingga agama tidak lain dan tidak bukan hanyalah sebagai sumber konflik.


Lebih lanjut lagi, rekaman catatan sejarah terkait korban sains oleh otoritas agama juga sempat terjadi. Tahun 1633-1642, Galileo Galilei yang kala itu mengemukakan kebenaran mengenai matahari sebagai pusat tata surya, harus dihukum penjara hingga ia meninggal. Penemuannya dianggap bertentangan dengan kitab suci katolik, yang meyakini bumi sebagai pusat alam semesta.

Pertanyaan kembali muncul, apakah benar agama menutup pintu-pintu kenyataan? meski itu kebenaran otentik dari kemajuan sains. Albert Einsten yang terkenal dengan teori reletivitasnya, bahkan mulai memikirkan eksistensi agama karena gejolak yang timbul ketika ia mendalami sains.

Hujan, asumsi yang mengatakan rahmat yang turun dan hanya dikontrol oleh tuhan. Dalam sains, itu ada siklusnya dan mereka dapat membuat fenomena itu (artifical rain). Gunung meletus, gempa bumi, tsunami, yang diyakini azab sang kuasa. Disisi sains, mereka mampu mengidentifikasinya. Tidak sedikit sisi-sisi yang bersinggungan antara sains dan agama.

Fokus akhir, mari kita geser persepsi. Membuka cakrawala, bahwa antara sains dan agama, hanya ada satu kebenaran mutlak. Titik temu kebenaran tersebut, akan menjadi sebuah pengaruh yang besar.

Entah alam sains yang menang hingga agama itu keliru. Ataukah sains masuk menjadi salah satu proyektifitas terbesar yang disuguhkan oleh sang pencipta. Hingga dinamika yang terjadi dan pernyataan Stepen Hawking di atas tidak terlepas dari rekayasa skenario tuhan.

Artikel Terkait