Sistem patrialkal sudah menjadi landasan normal dalam berbagai sistem di banyak aspek kehidupan manusia. Sistem ini bukan merupakan hal baru, era Yunani Kuno bahkan menunjukkan betapa kelaki-lakian melambangkan stabilitas, kepastian, rasionalitas, dan berbagai nilai lainnya yang katanya harus ada dalam sebuah sistem. Jika ingin menilik sedikit saja, sistem ini sudah diterapkan dalam cara manusia menangani alam dan kemanusiaan, sejak dulu sampai saat ini.

Artikel ini tidak fokus pada kejahatan-kejahatan jenis pelecehan seksual karena kekerasan seksual tidak selalu dialami wanita, namun, paham opresif nya yang akhirnya menimbulkan banyak salah kaprah dalam paham-paham worldview. Masalah utama yang ingin penulis angkat adalah sistem patrialistis sudah digunakan tanpa sadar bahwa paham yang dihasilkan sistem ini ternyata mengakibatkan banyak masalah.

Secara garis besar, ciri dari paham patrialistis cenderung melihat dunia sekitar sebagai materi untuk didominasi. Secara khusus, "materi" tersebut adalah alam dan wanita. Sudah sejak lama, cara manusia menghadapi alam adalah eksploitatif, begitu juga dalam memandang wanita. Wanita dianggap sebagai perlambangan ketidakstabilan, non-rasional, lemah, dan harus dikendalikan oleh pihak laki-laki. Dalam hal ini terlihat kesamaan perlakuan terhadap alam dan wanita, yaitu bahwa keduanya harus dikendalikan.

Mari kita lihat sistem kapitalis. Sistem kapitalis mempostulatkan penguasaan terhadap dunia sekitar dengan ciri yang sangat khas, yaitu adanya hirarki dalam kehidupan ini. Sejak Descartes, paham dunia sudah kental mengarah pada human-centered view. Manusia lah yang mengadakan semua hal di dunia ini melalui pikirannya semata. Seiring waktu, paham demikian sampai lah pada argumen Adam Smith yang menolak campur tangan negara dalam perdagangan bebas. Dengan adanya kebebasan itu, eksploitasi pun terjadi di mana-mana. 

Eksploitasi berciri paham komodifikasi hampir segala hal. Yang paling terlihat adalah cara manusia memandang alam sebagai hanya komoditas, yang berujung pada kehancuran alam. Lalu, tidak lupa dengan ciri khas lain dari paham nya, yaitu hirarkis, wanita dengan atribut-atribut miring pun dipandang sebagai yang harus dikendalikan. Masalah nya adalah, bahwa akhirnya wanita tidak memiliki kebebasan seperti yang dimiliki oleh laki-laki dalam hampir semua aspek kehidupan. 

Masalah ini akhirnya menghasilkan gerakan yang bertujuan mengakhiri sistem patrialkan tersebut. Dimulai pada tahun 1980-an, seorang feminis dari Francis, Francoise d'Eaubonne, gerakan dan paham baru bernama ekofeminisme berkembang hingga sekarang. Gerakan dan paham ini bertujuan mengakhiri paham yang tidak menjunjung kesetaraan gender dan mengkaji serta mengkritik paham hirarkis dan paham struktur yang linear. Beliau menekankan paham yang kolaboratif, proses yang lebih organis, holistik, atau boleh dikatakan paham yang tidak human-centered dan male-centered. 

Argumen para ekofeminisme adalah demikian. Paham patrialistik melupakan bahwa terminologi "alam" merujuk pada keseluruhan (holistisitas) isinya. Dengan menyebut alam berarti bukan hanya yang di luar manusia tetapi seluruh jagat raya yang manusia termasuk di dalamnya.  Yang dimaksud dengan struktur linear adalah bahwa paham yang tidak holistik dan cenderung hirarkis niscaya menghasilkan struktur linear, yang dimana, paham tersebut kembali membuat manusia sebagai yang terbesar dari semuanya, dan laki-laki berada di puncak strukturnya. 

Dengan menekankan metode kolaboratif, ekofeminisme melawan metode eksploitatif yang tentu saja  menekankan pada unsur ketertutupan, di mana berarti sistem top-down ditegakkan. Metode non-kolaboratif menyebabkan adanya "korban" dalam prosesnya, karena sistem nya tidak menerima paham lain dan tidak mementingkan dunia sekitarnya. 

Lalu muncul pertanyaan, kenapa wanita? Ada apa dengan wanita dalam perlawanan terhadap eksploitasi? Ekofeminisme berpendapat bahwa ada kemiripan dan kedekatan wanita dengan alam. Ekofeminisme radikal menganggap bahwa dengan sistem yang menjamur saat ini, alam tidak akan dianggap setara dengan kehidupan manusia, dan dengan demikian, opresi terhadap wanita dan hak-haknya sebagai manusia yang setara juga tidak pernah diangkat. 

Oleh karena itu, perlu adanya studi terhadap sistem patrialkal demi menghentikan perlakuan degradasi terhadap alam dan wanita. Ekofeminisme kultural, dengan tujuan yang sama, memiliki metode berbeda. Paham mereka lebih menekankan bahwa alam dan wanita memiliki koneksi yang erat. Wanita dan alam dipandang saling terkoneksi dikarenakan ciri kewanitaan yang "keibuan". Terlebih lagi, mereka menunjukkan banyak paham spiritual dan religius yang menganggap bumi sebagai "Ibu" dari segala mahkluk. Oleh karena itu, wanita dan alam harus bersama-sama membela "hak" mereka yang terkoneksi dan empatis satu sama lain.

Maka, dapat dilihat bahwa gerakan wanita merupakan gerakan alam. Alam dan wanita seakan-akan memang menjalin koneksi, ditunjukkan melalui peran masing-masing yang hampir sama dan derita yang dialami pun serupa. Unsur kejantanan tidak sepenuhnya buruk, hanya saja manusia melupakan hal penting dari "kejantanan". Manusia melupakan unsur kejantanan di mana mereka harus melindungi, dengan tidak berfokus pada istilah "yang lebih lemah". 

Maka, apakah alam itu perempuan atau laki-laki? Alam itu semua yang ada di semesta ini. Ekofeminisme terlihat mengangkat sisi persona dari alam dengan mengorbankan dirinya sebagai manusia sebagai setara dengan alam. Dengan hilangnya sistem hirarkis, maka tidak ada lagi kata "korban" dan "mengorbankan". 

Referensi:

https://www.britannica.com/topic/ecofeminism

https://jup.berlin/ecofeminism

https://www.womensmediacenter.com/fbomb/what-is-ecofeminism