Hubungan timbal-balik manusia dengan lingkungan kian dipandang hanya sebagai bahan eksploitasi saja. Akhir ini, alih-alih kita sudah begitu jauh dengan alam. Dengan jarak menganga, dengan tingkat kepedulian yang jauh dari harapan.

Padahal sebagai manusia tak lepas dari ketergantungan alam. Tetapi, tampak di tengah perkembangan teknologi super canggih saat ini, yang kian telah memberikan segala kemudahan untuk didapat oleh diri dan untuk sendiri, menempatkan lingkungan sebatas tempat tinggal semata. Sebut saja ia gadget (phone pintar).

Di awal 2000-an, telepon genggam masih tergolong jarang dimiliki oleh warga Indonesia. Bahkan, alat komunikasi tersebut masuk ke dalam golongan kebutuhan sekunder, bahkan tersier. Berkirim surat di 1980-an masih begitu terasa di awal 2000-an.

Berangkat dari dimulainya abad ke-21 tersebut, telepon umum (wartel) dan surat-menyurat tergolong umum di kalangan masyarakat kala itu. Bahkan, mudah ditemui di area umum. Akan tetapi tidak untuk saat ini.

Generasi muda kini, begitu akrab dengan era revolusi industri 4.0, seperti halnya gadget. Baik pelajar dari berbagai tingkatan, tak kalah anak yang belum mengecap pendidikan formal pun kian sudah begitu dekat dengan gadget.

Seperti disematkan oleh Kominfo bahwa, “Indonesia raksasa teknologi digital Asia yang sedang tertidur” ternyata Indonesia bertengger di posisi ke-empat setelah Cina, India dan Amerika sebagai pengguna phone pintar (gadget) terbesar di dunia. Dengan jumlah saat ini 100 juta lebih pengguna.

Sebagai pendidikan formal (sekolah) saat ini begitu bergantung kepada teknologi informasi. Segalanya bisa didapat melalui mesin pencari (google), menempatkan kembali ketergantungan anak dengan gadget.

Sebenarnya, penempatan gadget sebagai kebutuhan bukan hal keliru. Akan tetapi, paparan durasi penggunaan yang melebihi kebutuhan dengan tentu tidak baik. Dengan gadget sebagai candu, pun bagi anak-anak dipastikan tidak relevan. Apalagi tanpa pembatasan waktu (pengawasan orang tua).

Baik halnya Finlandia, sebagaimana dianggap dengan pendidikan terbaik di dunia. Di negara ini, ada sekolah yang cukup populer bagi kalangan petinggi perusahaan IT di Silicon Valley, yaitu Waldorf School. Sistem sekolah ini tak hanya populer di Finlandia, tetapi telah merambah ke China.

Ternyata seiring dengan sikap para pemilik perusahaan berbasis IT, seperti Bill Gates, Steve Job, dan Marc Zuckerberg, sekolah Waldorf melarang penggunaan gadget dalam proses pembelajaran serta menggantinya dengan hands-on learning (belajar dengan melibatkan kegiatan fisik).

Halnya Waldorf School di Silicon Valley, sekolah-sekolah sejenis lainnya, pun terlebih pemilik perusahaan IT terbesar dunia tersebut merasa harus membatasi screen time (waktu di depan layar gadget) bagi anak-anaknya, terutama yang berusia di bawah 14 tahun.

Mengingat bahwa di rumah atau lingkungan masyarakat anak-anak sudah banyak terpapar gadget dan alat-alat visual lainnya, sehingga mereka ingin anak-anak di sekolah belajar dengan kegiatan fisik yang mendorong mereka bersosialisasi dengan teman-temannya.

Mereka juga menilik terhadap berbagai riset yang telah mengungkapkan akses-akses penggunaan gadget pada anak-anak. Termasuk di dalamnya potensi depresi, attention deficit disorder, turunnya kualitas kesehatan akibat paparan layar gadget (berlebihan), kurang gerak dan gadget addiction yang bisa merenggut waktu anak-anak untuk berbagai kegiatan lain berkaitan dengan alam sekitar.

Kendati demikian, bukan tak ada yang berbeda pendapat dalam hal ini, tak sedikit juga yang didukung oleh berbagai riset. Sehingga, perihal akses penggunaan gadget, khususnya di sekolah, belum konklusif.

Sebaliknya beberapa penelitian malah menunjukkan adanya perbaikan hasil belajar pada siswa yang menggunakan gadget sebagai alat bantu belajar. Tetapi banyaknya screen time juga tidak serta merta berakibat buruk. Hal ini banyak bergantung pada bahan-bahan yang diakses siswa

Kita sebaiknya sepakat bahwa siswa harus terlebih dulu dibekali dengan dasar-dasar keterampilan numerik dan keberaksaraan sebelum diajak masuk kepada penggunaan maksimum gadget dalam kehidupannya.

Pun yang saya sampaikan sebenarnya begitu kontroversi melingkupinya, sekiranya butuh perhatian secukupnya. Apalagi jika menilik bahwa ada banyak kemungkinan dunia industri gadget serta mengaburkan pandangan negatif ini, akibat besarnya taruhan bisnis mereka.

Belum lagi mencakup persoalan “kapitalisme pengintaian” (surveillance capitalism) yang bisa membuntuti anak-anak sejak dini jika tidak ada pembatasan penggunaan gadget secara sehat, sesuai dengan tingkatan usia mereka. Belum lagi dengan soal keterpaparan pornografi, perundungan online (cyber bullying), dan sebagainya yang juga harus menjadi bahan pertimbangan.

Adanya persoalan yang harus disinggung di sini. Mengutip dari Jean Baudrillard, betapa pun juga, ada yang muncul dalam layar gadget adalah simulacrum, yang banyak mereduksi kelebihan berinteraksi dengan keluhuran dan keindahan: kemanusiaan, alam dan lingkungan sekitar.

Tanpa menutup mata terhadap manfaat simulacrum, berinteraksi dengan alam secara langsung sebetulnya merupakan wahana terbentuknya spiritualitas, seperti hubungan saling cinta (sympathea) dengan “ibu” kita, sumber kehidupan kita. Hal ini menjadi lebih penting jika kita ingat bahwa anak-anak sekarang, dalam segala aktivitas mereka, sudah banyak terputus dari alam sekitar.

Seperti misalnya, mereka tak sadar bahwa dalam air kemasan yang mereka minum sesungguhnya ada semesta yang dahsyat, indah, dan baik hati dalam memastikan bahwa kita mendapatkan air bersih yang sehat. Pun dalam sepotong ayam goreng ada kerja keras penuh cinta cinta dari para peternak dan petani, bahwa ada kerja ekologis alam yang rumit dan penuh pesona.

Benar memang jika manusia tak perlu terus-menerus berhubungan dengan alam sekitar. Akan tetapi, mengarahkan seluruh indra kita ke lingkungan sekeliling serta menggerakkan badan adalah bagian dari dukungan bagi kesehatan dan suksesnya proses belajar anak.

Tidak harus menghindarkan gadget dari jangkauan anak-anak, di balik pentingnya akses informasi yang berkaitan dengan pendidikan. Akan tetapi, pentingnya pembatasan waktu (screen time), pun terlebih akan pembatasan akses yang berlebihan. Sehingga, anak tak lagi jauh dari alam dan lingkungannya. Selamat Hari Lingkungan Hidup.