Bangga karena potensi industri pulp dan kertas di tanah air masih sangat besar. Yang dibuktikan dengan catatan sebanyak 84 perusahaan dengan kapasitas nasional terpasang berturut-turut sebesar 7,93 juta ton pulp/tahun dan 12,98 juta ton kertas/tahun.

Sedih karena adanya rasa takut akan kehilangan pohon-pohon karena digunakan sebagai bahan pembuat kertas. Entahlah, saya pesimis. Dihantui bayang-bayang tingginya penggundulan hutan (deforestasi) di negeri tercinta.

Untuk apa prestasi industri jika membawa kerusakan alam pertiwi. Menebang pohon untuk membuat kertas akan menimbulkan/mengakibatkan pengurangan dan pada akhirnya deforestasi terjadi.

Hal itu mengakibatkan dampak yang sangat besar terhadap kelangsungan hidup manusia seperti udara yang kurang bersih yang dapat mengganggu sistem respirasi dan erosi lahan pertanian dan banyak lagi contoh dampak kerusakan lingkungan yang lainnya.

Bagai seorang putri yang menunggu pangeran datang sebagai penyelamat. Ingin hilang resah dan gelisah. Dicinta dan dirawat bukan ditebang dan terbuang. Ya, pohon-pohon kertas memanggil, pun alam menanti datangnya pahlawan.

Samar-samar tampak sosok pahlawan itu. Berwujud seorang Presiden. Beliau adalah Jokowi Widodo. Ia telah berjanji untuk menghentikan perusahan perkebunan yang merusak lingkungan ataupun yang merugikan masyarakat.

Aksi heroiknya tercermin dalam tindakan Kementerian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang mencabut izin usaha Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) karena melanggar aturan tata kelola gambut.

Pencabutan izin HTI yang akan berakhir tahun 2019 itu membawa konsekuensi berat secara bisnis dan ekonomi. RAPP harus menghentikan seluruh operasional usaha HTI yang dikelolanya. Pencabutan izin usaha korporasi milik taipan Sukanto Tanoto itu tertuang dalam Surat Keputusan Menteri LHK No. SK.5322/2017 tanggal 16 Oktober 2017.

Kemudian di sisi lain atas nama keberlangsungan ekonomi dan sosial, lapangan kerja, iklim investasi serta pasokan kertas, nurani beberapa pihak melemah. Ada saja yang memberi kelonggaran mereka yang melanggar dan kemudian terulang kejadian yang sama. Saya harus belajar menerima kenyataan bahwa kepentingan manusia jauh lebih utama ketimbang menjaga alam.


Hal unik terjadi di Venezuela, mereka bukan hendak menjaga alam namun keadaan memaksa demikian. Krisis ekonomi dan politik yang menghantam negeri ini menimbulkan gangguan ke berbagai sektor bisnis, termasuk surat kabar atau koran. El Impulso, koran tertua di Venezuela, terpaksa menghentikan produksinya karena krisis kertas.

Tentu El Impulso tidak akan gugur begitu saja. Mereka mulai tumbuh dan mekar berseri di taman dunia online. Tersirat satu jawaban bahwa digitilisasi informasi adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa dihindari oleh siapapun saat ini.

Saya percaya semua bisa jadi pahlawan. Tapi untuk masalah kelestarian hutan, kita sepakat tak butuh pahlawan bertopeng. Perusahaan kertas di dunia yakni Asia Pulp & Paper (APP) mempelopori gerakan tak lagi menebang hutan alami. Harapan tentang adanya pahlawan bagi pepohonan masih menyala.

Tindakan mereka adalah pengambilan material yang hanya bersumber dari pohon budidaya, menghentikan pembukaan lahan gambut yang kaya karbon, dan meningkatkan keterlibatan masyarakat lokal. Semoga saja aksi pahlawan ini segera menular ke perusahaan sejenis lainnya.

Mengharap kedatangan pahlawan tak elok tanpa mengungkap siapa sesungguhnya dalang dari semua ini. Sadarkah kita semakin banyak dan sering kita menggunakan kertas, maka kita patut ditunjuk sebagai aktor/aktris dibalik pembabatan hutan? Kita sepatutnya bertanggungjawab terhadap berkurangnya populasi fauna dan flora yang ada di dalam hutan tersebut.

Sifat konsumtif manusia akan kertas meningkatkan volume sampah kertas. Di jalanan saat orang-orang membagikan brosur promosi produk/jasa kita dengan rasa baik hati menerima. Kemudian jika tidak membutuhkannya, pastinya kita akan segera membuangnya di tempat sampah kalau kita sadar itu wadahnya, jika tidak kertas itu akan berterbangan begitu saja.

Bukan perkara mudah mengajak generasi muda untuk sedari dini berterimakasih pada kertas. Sebagaimana kertas adalah media menumpahkan nalar manusia sehingga peradaban ada pada titik kini. Menghemat kertas bukanlah hal yang susah.

Semua manusia terdidik tahu hal ini. Pertanyaannya kenapa masih banyak sekali yang acuh. Saya pesimis, kita hanya bisa mentransfer pengetahuan ke dalam otak, tetapi tidak bisa mentransformasikan ke dalam dirinya secara keseluruhan dalam bentuk kepribadian dan perilaku.

Ada sebuah kalimat yang mengatakan: sebelum mengubah dunia, ubahlah dirimu sendiri. Kalimat tersebut memang bukan sekadar rangkaian kata yang utopis, karena semua hal berawal dari kita sendiri. Jika kita melakukan hal yang baik, maka hal-hal di sekitar kita pun akan menjadi baik. Begitupun sebaliknya.

Seorang kecil yang berhasil mengubah diri dan memberi inspirasi besar ada pada diri Mbah Sadiman. Mereka menyebut beliau sebagai Pahlawan Penghijauan dari Wonogiri. Seorang warga biasa di kampungnya. Hidup bersama istri di sebuah rumah 9 x 6 meter berlantai tanah. Ia petani penggarap lahan tumpangsari di areal Perhutani. Bertahan hidup dengan cara menjual rumput di areal hutan untuk dijual di pasar.

"Saya tak pernah berpikir untuk bisa memetik hasil kerja saya ini. Bahkan ketika nanti saya sudah tiada, saya juga tak ingin diperlakukan berlebihan. Saya hanya ingin berbuat kebaikan bagi sesama selama saya masih bisa. Saya pasti senang kalau didukung, tapi sebenarnya asal tidak diganggu saja sebenarnya saya sudah cukup senang meskipun itu masih juga sering terjadi." Statement yang sangat rendah hati dan berjiwa besar. Ia pahlawan sejati.

Berusia 65 tahun. Wajahnya sudah terlihat sepuh, giginya sudah banyak yang tanggal. Saya heran bagaimana bisa semangat menyala-nyala masih tercermin dari kilatan padangan matanya. Ingin kuserap semangat itu.

Bayangkan sudah 19 tahun ia mendedikasikan diri untuk alam. Benarlah cinta dibuktikan dengan pengorbanan. Usia senja bukan penghalang untuk menapaki gunung dan hutan. Ia tak hanya menanam, namun juga merawat dan membesarkannya.

Tanpa kenal lelah ia menyulami atau menanaminya lagi jika tanaman sebelumnya mati. Dia melakukannya sendirian hanya untuk satu tujuan yakni kemerdekaan! Kemerdekaan untuk Mbah Sadiman sederhana, yaitu hutan kembali hijau, mata air kembali deras dan mencukupi kebutuhan semua orang, termasuk untuk irigasi ladang.

Sadiman adalah teladan yang mengajarkan kita bahwa penghijauan adalah pekerjaan jangka panjang yang hasilnya baru bisa dinikmati dalam hitungan tahun. Karenanya, menghijaukan hutan tidak hanya butuh kesabaran, melainkan juga usaha yang terus berkesinambungan.

Mungkin saya tidak bisa seperti Mbah Sadiman tapi bukan berarti saya berpangku tangan. Perilaku yang saya wujudkan dari hasil nalar dan keprihatinan atas alam adalah mengumpulkan kertas bekas. Lantaran di tempat saya bekerja banyak sekali kertas bekas cetak printer yang tidak terpakai kembali.

Saya berusaha membuat tempat kertas bekas khusus HVS. Kertas yang ada di tempat ini dapat digunakan kembali untuk print draft. Ketika kertas sudah terkumpul banyak, nantinya kumpulan kertas dapat dijual ke tukang loak. Uangnya hasil penjualan bisa digunakan untuk keperluan lainnya. Sederhana tapi bermakna.

Bagaimana dengan Anda? Mari menjadi pahlawan bagi pepohonan kertas karena ia memberi kemanfaatan bagi peradaban dunia. Mari menjaga kelestarian alam lingkungan, membudayakan kebaikan dan membawa kedamaian. Kita bisa jadi pahlawan, mulai dari seorang yang ada di hadapan cerminmu sekarang!