Menggigil di bawah rembulan. Terpanggang di bawah derasnya terik. Begitulah sehari dalam hidup daisy mungil itu.

Terlahir sebagai tumbuhan di zaman kekacauan iklim memang nelangsa. Rasanya kata- kata yang sering diulang- ulang Soe Hok Gie memang mewakili cita- cita tumbuhan seantero planet bumi: “nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.”

Memang begitu. Terutama di siang harinya. Setiap detiknya menyiksa. Terik yang sengat. Grasak- grusuk alas kaki pengantar Pizza‒ mengepulkan dedebuan yang melekat di batang lunglai daisy kecil itu. Itu satu. Belum lagi, asap knalpot pelbagai moda kendaraan di luaran sana yang tertiup‒ masuk ke dalam. Setiap harinya, mereka‒ satu, dua, tiga‒ seakan berlomba- lomba untuk mencabut nyawanya.

Kalaulah bukan karena tetesan yang merintik dari atasnya, mungkin nyawanya sudah hilang entah ke mana. Si mungil itu, tidak tahu siapa dia. Yang jelas, kotak itulah satu- satunya malaikat hidupnya. Air- air yang diterjunkannya begitu berharga.

Ia tidak tahu, dan tidak lagi mau tahu. Entah, apakah itu air seninya, baginya, ya, mau bagaimana. Ia sudah tidak lagi peduli. Terserah. Yang penting bisa hidup. Yang penting masih bisa bernafas. Yang penting, musim panas ini masih bisa dilaluinya; karena ia tahu, malaikat perseginya itu akan mati‒ meninggalkannya di musim dingin nanti.

                                                                      **********

Dari kursi kayunya, Akla memaku pandangannya pada daisy mungil itu. Di antara banyak pasang mata yang pernah melalui kelokan dekat paviliun itu, bagaimana bisa orang- orang tidak menyadari hawa keberadaannya. Sedikit memang yang sepertimana dirinya. Bahkan, mungkin, ia adalah satu- satunya yang pada pandangan pertama langsung mengerti perasaan si daisy yang nelangsa tumbuh- hidup di sana.

Sambil terus memelintir rambut ikalnya. Kesannya sedikit tergubris dengan pemandangan yang satu itu. “Bagaimana bisa?,” desisnya. Di antara taman yang luas di pekarangan rumah tuanya itu‒ yang dihiasai banyak petak bunga, semak- semak buah frambus, pohon beragam rupa warna dedaunannya, “kenapa harus pemandangan itu yang harus dilihat matanya pagi itu,” batin Akla kecewa.

Tepat merapat di sisi kanan paviliun yang dibangun oleh kakeknya itu, setangkai daisy putih dengan inti kuning tua yang bernafas dari tetesan air sisa penyejuk udara. Nalar ilmiahnya seakan terpanggil. Ketika tumbuhan hanya bisa hidup dari ampas mesin- mesin manusia. “menarik,” gugahnya.

Seperti biasa, setelah menemukan sesuatu yang dahsyat, sambil memelintir ujung rambut ikalnya dalam hati Akla menganalisa dalam sebentuk kalimat tanya, “apakah begini masa depan hubungan manusia dan alam nantinya?.”   

Bukan Akla, kalau tidak mengingat sesuatu dalam buku saat mencerna fenomena. Kali ini ingatannya melayang pada suatu tulisan yang pernah dibacanya di perpustakaan kakeknya. “Oh, iya,” ia juga baru ingat, ternyata kakek pernah sedikit membahas tentang katastrofe itu. Judul bukunya Man and Nature gubahan filsuf Iran Seyyed Hossein Nasr.

Akla masih ingat sekali penggalan cantik kalimat sang filusuf di bukunya itu‒ mendaras hubungan manusia dan alamnya belakangan hari ini. Kata sang filsuf: “alih- alih jadi seperti istri yang dikasihi penuh rasa hormat dan tanggungjawab, di tangan manusia modern alam sudah jadi seperti pelacur yang dimanfaatkan abai rasa berkewajiban dan tanggungjawab terhadap (hak- hak) nya.”

Tepat sekali memang. Manusia modern memang kadung diselimuti apatisme. Ketika ilmu sudah bercerai dengan wahyu, jangankan alamnya, para dara yang diperkosa saja tidak akan ditolong kalau hanya sekedar teriak “tolong.” Kalau teriaknya “kebakaran” baru orang- orang pada turun menolong; karena kebakaran bisa merembet ke rumah- rumah mereka. Bisa jadi tragedi mereka juga. Sedang perkosaan, hanya kesialan pribadi. Jadi biarkan saja.

Akla geleng- geleng kepala. Pandangannya masih terpaku ke arah daisy mungilnya. Sesekali lengannya dibentangkannya ke atas untuk merenggangkan otot- ototnya yang kaku. Sambil menatap langit, di bawah bayang- bayang pohon Tabebuya yang sedikit rimbun, Akla berkelakar:  “Kalau hubungan manusia antar manusia saja sudah sebegitunya berjarak, apakah masih ada tersisa‒ tali ikatan yang manusia bentangkan untung alamnya?.”  

“Oh, sungguh malang nasib alam,” ucapnya spontan‒ keluar begitu saja.

Manusia modern memang kehilangan nalar membidas alamnya sebagai alamat. Alam adalah ‘alāmāt (tanda- tanda) yang seharusnya menghantarkan manusia mengimani yang maha Alīm. Masalahnya memang manusia zaman sekarang mengalami apa yang Syed Naquib al- Attās‒ filsuf dari Melayu‒ sebut sebagai kekeliruan ilmu. Si hijau mungil itu dicarap sebagai akar, batang, daun saja. Manusia lupa. Sebelum itu semua, si mungil adalah makhluk ciptaan-Nya.

Akla bangkit dari kursinya, terdengar decit sedikit. Kursi itu memang sudah semakin tua. Langkah kakinya pasti menuju paviliun tempat si daisy. kini ia bersila tepat di hadapannya. Kepalanya melandai ke arahnya pelan- pelan. Telunjuknya menyentuh batang lunglai si mungil itu sambil bersiap melontarkan kata- kata.

“Tahukah kamu?,” dedas Akla sambil mengayun- ngayun telunjuknya ke arah si mungil

“Melihat keadaanmu yang nelangsa aku jadi memahami maksud perkataan al-Attās puluhan tahun yang lalu, bahwa: untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia kita melihat tiga kerajaan: hewan, tumbuh- tumbuhan, dan mineral mengalami kekacauan.”

                                                                      ***********

“Apakah kakekmu masih ada,” tanya Akla kembali pada si mungil itu.

“Di waktu kecil, kakekku sering sekali bercerita tentang monster- monster pemakan manusia,” kata Akla sambil meragakan gerak monster yang lebih mirip seperti gambaran harimau yang sedang memancangkan cakarnya.

“Tubuhnya yang besar. Sekujur badannya bersisik. Giginya yang tajam seperti gergaji. Aku benar- benar takut terkadang mendengar lanjutan ceritanya sekalipun dirundung rasa penasaran,” Lanjut Akla. 

“Namun, belakangan aku menyadari satu hal. Monster- monster yang diceritakan kakek ternyata tidak ada. Kamilah manusia,” kata Akla sambil menepuk- nepuk dadanya, “kamilah monster itu‒  yang membunuh sesama dan merusak alam-Nya.”  

 Asyik berbincang dengan si mungil, Akla jadi teringat satu buku lagi yang pernah dibacanya. “Apakah kamu pernah membaca The Lorax karya dr. Seuss?,” tanya Akla pada si mungil. Berselang sedikit saja, Akla langsung menyambar kembali, “masa sih kamu tidak tahu?.”

The Lorax berbicara tentang kota bernama Thneedville yang segala pernak perniknya serba plastik dan kecerdasan buatan. Pohon- pohon di alun- alun kotanya plastik. Bunga- bunga di pekarangan rumahnya plastik. Kalau bukan plastik, metal. Semuanya serba produk artifisial. Semuanya serba imitasi, adialami.

“Keacuhan orang- orang zaman sekarang hampir menyamai pola hidup masyarakat kota Thneedville. ketika tumbuhan kecil sepertimu dicarap sebagai penghambat investasi para pemodal, kamu akan disingkirkan perlahan- lahan, kejam,” kata Akla.

“Bukankah benar begitu?,” katanya lagi sambil menjinjitkan bahunya‒ menengadah lengannya sedikit. “Perlahan tanpa kamu sadari, bunga- bunga indah sepertimu memang tanpa sengaja dibuat menjauh dari jantung kota, berakhir di pinggiran- pinggiran bangunan‒ tumbuh di sela- sela retakan beton. Hidup dari ampas- ampas mesin manusia.”  

Sistem ekonomi yang menjunjung tinggi petumbuhan tanpa batas menyuburkan keserakahan manusia. “Pertumbuhan tanpa batas menuntut produksi, inovasi, dan konsumsi tanpa batas dalam planet kita yang sumber dayanya terbatas. Obsesi itu mempercepat perubahan iklim dan membawa kita ke arah bencana lingkungan,” tegasnya kembali sambil mengayun- ngayun telunjuknya.

“Bencana itu kini sedang menimpamu; penyebabnya segelintir makhluk dari spesiesku. Ketika keserakahan tumbuh subur, perhatian terhadap alam semakin kabur, ” kata Akla sambil membelai lipatan hijau dedaunan si mungil itu. “maafkan kami,” kejarnya.

Akla mencoba berdiri perlahan- lahan. lutut dan pinggulnya masih terasa berat. “Kalau saja kakek memperbolehkanku ke luar rumah lebih sering,” gumamnya. 

“Kenapa?”

“Aku rindu mendengar orasi kebudayaan mereka para pemuda pegiat lingkungan.” 

Akla ingat sekali. Dulu, saat jalan- jalan ke alun- alun kota bersama kakek, di depan pancuran mereka melihat seorang pemuda‒ yang berikatkan kain di kepala‒ membakar semangat keramaian dengan mengutip seuntai kalimat di buku Eric Weiner: The Geography of Genius, bunyinya: ”ketika pohon terakhir ditebang. Ketika sungai terakhir dikeringkan. Ketika ikan terakhir dijerat. Barulah manusia tahu bahwa mereka tidak bisa memakan uang.”  

                                                                      ***********

“Ada apa? Ada yang bisa kubantu?,” tanya Akla. 

Walaupun berat, Akla berusaha untuk kembali duduk berjongkok pelan- pelan. Perih sekali, lututnya kedengaran berdecit, tapi ia coba tahan. Ia dekatkan kepalanya sekali lagi pada si mungil. Telinganya melandai ke arah pucuknya. Sepertinya Akla ingin mendengar bisikan si mungil untuk terakhir kalinya.

“oh, begitu, ide yang bagus! Sebentar ya.”

Akla berlari kecil- kecil ke dalam rumah. Nafasnya terpenggal- penggal walaupun jarak antara taman ke ke sana tidak terlalu jauh. Walau begitu wajahnya tetap saja antusias‒  melukiskan keceriaan. Kini kakinya sudah berpijak di ruang tamu. “kakek.. kek.. di mana kakek?,” tanyanya pada orang- orang di sekitaran.

Dari kejauhan, seseorang berpakaian putih rapih, menoleh padanya, kemudian menghampirinya. Sambil tersenyum ia usap dahi Akla yang lembap oleh keringat dengan sehelai kain, “Ada apa? Bukankah sudah sering kukatakan agar tidak berlarian di lorong?”

Akla menunjuk ke arah taman. Ia genggam tangan kakeknya menuju ke pekarangan, ”ayo ikut aku.”

“Bisakah kita membawanya ke dalam?,” tanya Akla‒ memohon sambil merapatkan kedua telapak tangannya.

“Tentu saja,” balas kakek sambil mengusap ubun- ubun Akla. “Daisy yang cantik. Akan terlihat lebih indah kalau kita menaruhnya di dalam vas. Rasanya jendela di ruang tamu adalah tempat yang cocok bagi bunga mungil ini.”  

                                                                    ***********

Nama daisy sebenarnya diambil dari bahasa Inggris kuno: “daes eag,” yang artinya “Mata sebuah hari.” Orang- orang sering menyebutnya demikian; karena daisy senang sekali memekar di waktu fajar. Beruntungnya pandangan Akla bisa masih bisa bertautan dengannya di pagi hari menjelang siang itu.

Kakek bercerita, bahwa dulu di tempat paviliun yang dibangunnya itu ada banyak daisy yang ditanam oleh Nenek. Nenek suka sekali bunga daisy. Saat membangun paviliun, bunga- bunga itu sayangnya harus dipindahkan. Daisy yang tumbuh di samping paviliun itu, mungkin adalah di antara yang bersisa.

“Atau, mungkin, Nenek memang sengaja membiarkannya?” tanya Akla, pelan‒ penasaran. Lagi- lagi ia jadi teringat tentang The Lorax. Grammy Norma adalah Nenek dari Ted Wiggins di cerita itu, yang juga punya kecintaan terhadap alam.

Akla merinding dalam renung. “mungkin nenek memang ingin mempertemukanku dengan daisy ini, untuk sedikit- banyak merenungkan tentang kondisi alam hari ini.,” 

Kakek menangkap gelagatnya, “ada apa?.” 

“Tidak,” sambut Akla cepat- cepat sambil menyungging senyum.   

“Daisy yang satu ini termasuk dalam jenis shasta daisy kecil, sebenarnya bunga ini cocok untuk jadi penghias di pagar saja, namun kalau kamu memang bersikeras ingin membawanya masuk, ya apa boleh buat,” kata kakek. “besok kita akan membeli vas yang cocok untuk bunga ini.”