1 bulan lalu · 165 view · 4 min baca menit baca · Politik 32302_76062.jpg
Photo by Johannes Plenio from Pexels

Aladdin dan Belenggu Kekuasaan

Saat menonton film Aladdin yang baru saja tayang di bioskop, saya malah melihat belenggu kekuasaan yang sangat kental sepanjang film. Atau mungkin karena sebelum nonton saya membaca juga liputan Tempo tentang kerusuhan 22 Mei?

Nah, dalam tulisan berikut, saya mencoba menyajikan permenungan saya soal belenggu kekuasaan yang ada di film Aladdin. Bagi yang nggak suka spoiler, sebaiknya tidak melanjutkan membaca, nanti saja jika sudah nonton bacanya, hehehe.

Jika berbicara soal belenggu kekuasaan, mungkin yang terbayang adalah sosok antagonis Jafar, yang memang dalam film ini karakternya haus kekuasaan. Namun yang pertama membuat saya merasa bahwa kekuasaan itu membelenggu adalah sosok Jin, meski nanti saya akan juga sedikit membahas bagaimana konflik kekuasaan yang juga dialami oleh para tokoh lainnya, termasuk Jafar. 

Tapi mari kita kembali dulu ke Jin, saat Aladdin bertanya pada Jin apa yang dia inginkan. Lalu Jin menjawab bahwa ia ingin bebas dan bercerita bahwa ia memiliki kekuasaan yang besar, namun tinggal dalam lampu yang kecil. Saya mulai merasakan ada sesuatu yang salah. 

Bagaimana mungkin ia berkuasa mengabulkan banyak hal namun malah terbelenggu dengan kekuasaan tersebut? Belenggu yang dirasakan Jin berbeda dengan belenggu pada kasus Jasmine, yang karena statusnya sebagai putri, ia malah tidak bebas pergi ke luar dan bertemu dengan rakyatnya.

Belenggu yang terjadi pada Jin adalah karena sangkin berkuasanya dia atas banyak hal, ia malah terikat pada kekuasaan tersebut. Saya banyak bertemu orang baik yang terbelenggu dalam kekuasaan semacam ini. Kekuasaan yang saya bicarakan bisa berbentuk harta, jabatan, atau bentuk kekuasaan lainnya. 

Beberapa orang terikat pada jabatannya, misalnya, karena sadar kekuasaan yang dimilikinya dari jabatan tersebut dapat menolong banyak orang. Atau ada yang memiliki prinsip bahwa kita harus memiliki banyak harta agar dapat membantu orang lain yang berkekurangan. 


Jadi ini adalah bentuk belenggu kekuasaan pada orang-orang baik, di mana orang baik dipaksa untuk melanggengkan kekuasaan agar ia dapat menolong banyak orang. Pada kasus Jin, belenggu kekuasaan yang dia alami bahkan sampai membuat dia "terpaksa" menolong orang jahat juga. Hal ini yang membuat dia ingin bebas. 

Banyak dari kita juga yang mengalami belenggu kekuasaan semacam ini, misalnya demi pekerjaan yang baik dan sempurna, kita rela mengorbankan jam tidur kita, atau waktu kita yang berharga bersama orang yang kita cintai, anak, keluarga, dan lain-lain. Kekuasaan pada level tertentu dapat memaksa kita berbuat sesuatu yang jahat untuk suatu tujuan yang baik. 

Belenggu ini juga dialami oleh Aladdin, saat dia mulai menikmati berbohong pada Jasmine dan Sultan, karena ingin mempertahankan kehormatan yang diperolehnya sebagai Pangeran Ali. 

Meski Aladdin cepat sadar akan hal itu sehingga dia tidak terperosok jauh seperti Jafar, yang mencicipi kekuasaan sedikit demi sedikit sampai akhirnya haus pada kekuasaan. Pada kasus Jafar, ia terbelenggu pada kekuasaan sampai ia dengan sengaja mengorbankan banyak orang. 

Jafar adalah contoh belenggu kekuasaan pada orang jahat. Kekuasaan yang dimilikinya tidak akan pernah cukup, dan akan selalu mengorbankan orang lebih banyak lagi untuk kekuasaan lebih besar lagi.

Lalu pertanyaannya, jika kekuasaan membelenggu orang baik dan orang jahat, bagaimana caranya keluar dari belenggu kekuasaan? Caranya adalah dengan melepaskan kekuasaan tersebut. 

Kita harus mengetahui kapan kita harus berhenti. Ini hanya didapatkan dari latihan. Puasa menurut saya adalah latihan yang sangat baik. Saat kita sangat berkuasa untuk membeli makanan apa pun dan di mana pun dengan mudah, kita memilih untuk berhenti makan, kita memilih untuk berpuasa. 

Aladdin juga mendidik Abu dengan cara yang sama. Saat Abu mencuri gelang Jasmine dari Aladdin, ia mengingatkan Abu bahwa ada saatnya mereka boleh mencuri, ada saatnya mereka tidak boleh mencuri.

Latihan untuk berhenti inilah yang membuat Aladdin dapat menggunakan permintaan ketiganya untuk melepaskan Jin dari kekuasaannya dan menjadikan Jin orang biasa. Hal ini juga dipraktikkan oleh Sultan yang selama ini terbelenggu oleh aturan patriarki dan memilih menutup mata akan bakat Jasmine untuk memimpin kerajaan, akhirnya Sultan memberikan kerajaan pada Jasmine, melepaskan kekuasaan yang selama ini membelenggu dirinya. 


Untuk melepaskan belenggu kekuasaan butuh keberanian, karena belenggu kekuasaan lahir dari rasa takut: takut miskin, takut kehilangan, takut disingkirkan, takut tidak bisa melakukan apa-apa lagi.

Meski begitu, dunia nyata tidak seindah dalam film. Dalam film, Jin walaupun sudah kehilangan kekuasaan bisa berlayar keliling dunia bersama Delia dan kedua anak mereka, lalu Aladdin yang seorang pencuri gelandangan menikah dengan Jasmine, seorang putri cantik dan juga Sultan. Di dunia nyata, melepaskan kekuasaan mungkin hanya berdampak pada kebahagiaan batin. 

Perlu diingat, saya tidak lantas mengajak Anda untuk melepas kekuasaan yang ada pada Anda, terlebih jika Anda orang baik; dunia membutuhkan Anda memegang kekuasaan, karena kekuasaan Anda digunakan untuk kebaikan banyak orang. 

Namun Anda harus tahu kapan anda akan berhenti atau tidak menggunakan kekuasaan Anda. Anda harus berlatih untuk itu. Anda harus berani melepaskan atau tidak menggunakan kekuasaan, agar Anda tidak terbelenggu dalam kekuasaan dan akhirnya berbuat hal yang jahat. 

Ada pepatah mengatakan, bukan jatuh ke dalam air yang membuat Anda tenggelam, tapi tetap di dalamnya. Setiap orang bisa berbuat kesalahan, namun hanya para pemberani yang mampu mengakui dan memperbaikinya.

Artikel Terkait