Segala hal ada penjelasannya di dalam Al-Qur’an. Akan tetapi, harus digarisbawahi bahwa Al-Qur’an bukanlah kitab ilmiah yang berisi beragam teori-teori ilmiah maupun teori-teori sosial. Al-Qur’an datang dengan tujuan utamanya sebagai petunjuk bagi umat manusia (Q.S. a) agar manusia mampu meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Di dalam misi besarnya itulah Al-Qur’an tidak jarang mengisyaratkan teori-teori sains maupun teori-teori sosial di dalam ayat-ayat yang ada di dalamnya. Ayat-ayat yang kebenarannya terus diuji sepanjang manusia masih berpikir.

Manusia yang dikenal sebagai makhluk sosial membutuhkan pihak lain yang bisa ia ajak untuk bersosialisasi. Adam yang pada episode pertama kemanusiaan sekalipun butuh untuk berkenalan dengan pihak lain, maka diciptakanlah Hawa. Adanya pihak lain meniscayakan adanya interaksi. Namun, interaksi yang terjadi bisa jadi baik dan bisa pula buruk. Karena tidak ada satupun manusia di dunia ini yang sama persis karakternya, maka penghargaan atas setiap perbedaan sangat dibutuhkan.

Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Demikian adagium berbunyi menasehatkan urgensi dari perkenalan. Komunikasi yang menghasilkan perdamaian di atas mozaik perbedaan adalah hasil dari proses saling kenal mengenal . Demikian itu diyakini jika komunikasi yang dibangun berlandaskan Al-Qur’an dan sunnah.

Ayat Q.S. al-H{ujura>t[49]: 13 berbunyi sebagai berikut.


ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿١٣﴾

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.[1]

Kata ta’a>ruf yang menjadi tema sentral yang ingin difokuskan pada ayat ini berasal dari kata ع- ر- ف bermakna dasar berurutnya sesuatu secara bersambung antara satu bagian dengan sebagian lainnya, dan ketenangan.[2] Kata ini setimbang dengan kata tafa>’ala yang mengandung makna timbal balik.[3] Dengan demikian, ia bermakna saling kenal antara satu pihak dengan yang lainnya. Individu dengan individu, kelompok dengan kelompok, maupun individu dengan kelompok.

Asbab al-Nuzul ayat ini ada beberapa riwayat. Menurut Ibnu Abbas, ayat ini turun berkenaan dengan T|a>bit bin Qays tetrkait dengan ucapannya kepada seseorang yang tidak memberi ruang kepada anak si Fula>nah. Rasulullah saw. berkata: “Siapa yang menyebut Fulanah?”. T|a>bi berdiri dan berkata “Saya Rasululaah saw.”. Lalu Rasul saw. berkata: “perhatikanlah wajah-wajah umat”. Lalu T|a>bit memperhatikan. “Apa yang kamu lihat?” Tanya Rasulullah saw. Ia menjawab. Saya melihat ada yang berkulit putih, merah dan hitam. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya kamu tidak melebihi mereka kecuali dalam agama dan ketakwaan. Maka turunlah ayat ini.[4]

Sedangkan Muqa>til meriwayatkan bahwa pada hari Fath} Mekkah, Rasulullah saw. memerintahkan Bila>l untuk azan di belakang Kakbah. ‘Ita>b bin Asi>d bin Abi> al-‘Ays} berkata: Segala puji bagi Allah yang telah mematikan ayahku hingga ia tidak melihat hari ini. H{a>ris} bin Hisya>m berkata: “Apakah Muhammad tidak menemukan orang lain untuk azan selain burung gagak ini?”.

Suhail bin ‘Amri berkata: “Jika Allah ingin sesuatu, ia akan merubahnya. Abu> Sufya>n berkata: “Saya tidak akan berbuat sesuatu yang aku takutkan diketahui oleh Allah. Maka datanglah Jibril as. kepada Nabi saw. dan menceritakan percakapan mereka. Maka beliau memanggil mereka dan mengkonfirmasinya. Lalu mereka membenarkan. Lalu turunlah ayat ini. Dan Rasul saw. melarang mereka untuk saling berbangga-bangga dengan nasabnya, berlebih-lebihan dalam harta dan menghina kaum fakir.[5]

Riwayat dari Yazi>d bin Al-Syakhi>s} menceritakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan perkataan kaum Ans}a>r mengenai seorang anak yang dimandikan, dikafani dan dikuburkan langsung oleh Rasulullah saw. Mereka berkata: “kita telah menolongnya, memberinya harta kita dan ditinggalkan pada kita seorang budak Habasyi>y. Lalu turunlah ayat ini.[6]

Semakin kuat pengenalan satu pihak kepada selainnya, semakin terbuka peluang untuk saling memberi manfaat. Baik untuk saling menarik pelajaran maupun pengalaman. Perkenalan itu untuk dibutuhkan guna meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. yang dampaknya tercermin pada kedamaian dan kesejahteraan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi.

Saling mengenal yang digarisbawahi ayat ini adalah “pancing”nya, bukan “ikan”nya. Yang ditekankan adalah caranya bukan manfaatnya, karena seperti kata orang, memberi pancing jauh lebih baik daripada memberi ikan. Demikian pula dengan pengenalan pada alam raya. Semakian banyak yang dikenal, maka akan semakin terungkap rahasia alam, yang pada gilirannya melahirkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menciptakan kesejahteraan lahir, batin, dunia dan akhirat.[7]

Di dalam ayat ini ditegaskan bahwasanya terjadinya berbagai bangsa dan suku sampai kepada perinciannya yang lebih kecil, bukanlah agar mereka bertambah lama bertambah jauh. Melainkan supaya mereka kenal mengenal. Kenal mengenal darimana asal usul, darimana pangkal nenek-moyang, darimana asal keturunan dahulu kala.[8]

Ke manapun manusia pergi, dia suka sekali mencari asal-usul, mencari sejarah asal kedatangan, karena ingin mencari pertalian dengan orang lain. Agar yang jauh menjadi dekat, yang renggang menjadi karib. Manusia pada hakikatnya berasal dari asal usul yang satu, tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lain, dan tidak perlu mengungkit-ungkit perbedaan, melainkan menyadari persamaan keturunan.[9]

Nilai yang sama, yaitu nilai yang mengandung semangat menjunjung tinggi persatuan dan toleransi yang berada pada masing-masing suku ataupun agama inilah yang diistilahkan oleh Nasaruddin Umar dalam bukunya Islam Fungsional sebagai principle of identity. Sebuah prinsip yang membuat orang berfokus pada aspek kesamaan yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Persatuan dalam sebuah masyarakat plural akan terjalin jika masing-masing pihak lebih berfokus pada principle of identity daripada principle of negation (aspek perbedaan).[10]

Nasaruddin menyebutkan dalam bukunya tersebut bahwa pada tahun 1990-an, Jaques Berque, seorang dosen di Paris menerbitkan diktat yang ia gunakan sebagai bahan kuliah di depan mahasiswanya yang diberi judul Relire le Coran at le Bible. Diktat itu berkesimpulan bahwa masing-masing komunitas dua kitab suci, yakni Islam dan Kristen perlu untuk membaca ulang Al-Qur’an dan Bibel.

Perdamaian abadi antara kedua komunitas agama terbesar di dunia ini memberi kontribusi penting bagi perdamaian dunia. Sebaliknya, konflik antara keduanya juga akan menyumbang disintegrasi kemanusiaan global. Demikian pernyataan Tonny Blair, mantan Perdana Menteri Inggris.[11]

Dengan membaca ulang kitab suci masing-maing itu, termasuk pula menghayati kembali kearifan lokal masing-masing dengan format penekanan pada principle of identity bukan pada principle of negationaka konflik (Clash of Clans) pada masyarakat pural seperti Indonesia ini dapat dicegah atau paling tidak diminimalisiralaupun terjadi maka akan mudah untuk dikondusifkan kembali sebagaimana semula.

Pembacaan ulang kitab suci bukan hanya penting dalam usaha interfaith dialogue (dialog antarumat beragama). Akan tetapi, penting juga dalam konteks intrafaith dialogue (dialog antarpersonal dalam sebuah agama). Sulit dibayangkan adanya interfaith dialogue tanpa didahului oleh keutuhan pemahaman atau saling pengertian kelompok-kelompok internal suatu agama (intrafaith dialogue).

Bahkan tidak jarang terjadi, konflik internal suatu agama lebih kuat daripada konflik eksternalnya. Dengan demikian, pencarian metodologi pembacaan kitab suci yang mencerahkan harus dianggap sebagai on going progress tiada henti.[12]

Kalau setiap pihak telah berta’a>ruf dengan prinsip tersebut, maka agama akan tampil dengan kekuatan sentripetalnya sebagai daya penyatu merangkul segala perbedaan. Bukan sebaliknya, yakni daya sentrifugal yang mampu memecah belah umat. Dengan demikian, semua pihak, agama, suku atau ras manapun akan hidup berdampingan dalam harmoni. Karena masing-masing telah menjunjung tinggi principle of identity dari diri mereka masing-masing.

Setelah mengetahui persamaan dari hasil proses kenal-mengenal itu lahirlah kesadaran bahwa tidak semestinya mencela, menghina dan menggibah orang lain. Perkenalan antara yang satu dengan yang lainlah yang menjadikannya demikian.[13]

Q.S. al-‘Alaq[96]: 6-7 menjelaskan bagaimana ketidakbutuhan itu melahirkan keengganan menjalin hubungan yang akan melahirkan bencana dan perusakan bumi.[14]

Dengan demikian, maka perbedaan yang ada bukanlah sebuah petaka. Ia merupakan rahmat, ia dikehendaki agama, ia dikehendaki Al-Qur’an. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, jangan hilangkan perbedaan, rangkullah ia. Mari merayakan perdamaian dengan saling membuka diri untuk saling kenal mengenal.

#LombaEsaiKemanusiaan



[1]Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 377.

[2]Abu Al-H}usain Ah}mad bin Fa>ris bin Zakariya, Mu’jam Maqa>yi>s al-Lugah, Juz IV (t.t.:Da>r al-Fikr, 1319 H/1979 M), h. 281.

[3]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah : Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. XIII,  (Jakarta : Lentera Hati, 1421 H/ 2000 M), h. 262.

[4]Abu> al-H{usain ‘Ali> bin Ah}mad Al-Wa>h}idi>y Al-Naisa>bu>ri>y, Asba>b al-Nuzu>l (Cet. I; Hadramaut: Da>r al-Kutub al-Isla>miyah, 2010 M/ 1431 H), h. 243.

[5]Abu> al-H{usain ‘Ali> bin Ah}mad Al-Wa>h}idi>y Al-Naisa>bu>ri>y, Asba>b al-Nuzu>l, h. 243.

[6]Abu> al-H{usain ‘Ali> bin Ah}mad Al-Wa>h}idi>y Al-Naisa>bu>ri>y, Asba>b al-Nuzu>l, h. 244.

[7]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah : Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. XIII, h. 262.

[8]Syaikh Abdulmalik bin Abdulkarim Amrullah, Tafsir Al-Azhar, (Surabaya: Yayasan Latimojong, 1981 M), h. 244.

[9]Syaikh Abdulmalik bin Abdulkarim Amrullah, Tafsir Al-Azhar, h. 245.

[10]Nasaruddin Umar, Islam Fungsional: Revitalisasi & Reaktualisasi Nilai-nilai Keislaman, (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2014), h. 3.

[11]Nasaruddin Umar, Islam Fungsional: Revitalisasi & Reaktualisasi Nilai-nilai Keislaman, h. 3.

[12]Nasaruddin Umar, Islam Fungsional: Revitalisasi & Reaktualisasi Nilai-nilai Keislaman, h. 4.

[13]Ah}mad bin Mus}t}afa> Al-Mara>gi>, Tafsi>r Al-Mara>gi>, Juz. XXVI (Cet. I; Mesir : Syirkah Maktabah wa Mat}ba’ah Mus{t}afa> al-Ba>bi>y al-H{albi>y wa Awla>dihi>, 1365 H/ 1946 M), h. 143.

[14]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah : Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. XIII, h. 262.

[15]M. Quraish Shihab, Kumpulan 101 Kultum tentang Islam, (Cet. I; Tangerang: Lentera Hati, 2016 M.), h. 362.