Perjumpaan saya dengan Prof. Al Makin terjadi saat beliau dikukuhkan menjadi guru besar filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat itu, saya ikut nimbrung walau tak dapat undangan di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, 8 November 2018 lalu.

Saya mendengar dengan serius pidato yang berjudul “Bisakah Menjadi Ilmuwan di Indonesia: Keilmuan, Birokrasi dan Globalisasi" itu. Pidato yang terkesan serius tapi santai itu membuat seisi Convention Hall terkesima. Pasalnya tema yang berat itu di tangan Prof. Al Makin menjadi mudah dicerna oleh khalayak luas.

Mendengar pidato itu, saya berpikir keras dan bertanya dalam hati, “Masa iya Indonesia tak mampu menghasilkan seorang ilmuwan?” Padahal jelas-jelas ada AIPI, ALMI, LIPI hingga ICMI yang menjadi gudang orang-orang pintar itu. Yang buku-bukunya menghiasi rak buku perpustakaan kampus di Indonesia.

Lontaran-lontaran pemikiran Prof. Al Makin dalam pidato itu membuat saya tidak tenang. Bagaimana tidak, beliau berhasil mengurai benang kusut administrasi dosen di  Indonesia yang menjadi penghambat produksi ilmuwan plus dengan menariknya. Beliau menjelaskan trajektori keilmuan Islam ala madzhab Sapen dan madzhab Ciputat. Pun dengan teori orientalisme dan oksidentalisme yang membuat saya berpikir kembali.

Jelas pemikiran itu membuat saya penasaran. Hingga senjata wikipedia saya gunakan untuk menelusuri rekam jejaknya. Sebagai orang lulusan pesantren di pedalaman Bojonegoro sana, tidak begitu mengherankan Prof. Al Makin menjelaskan kognisi keislaman dengan menarik. Ditambah genjotan pemikiran Islam dari Prof. Amin Abdullah hingga Prof. Machasin di UIN Sunan Kalijaga.

Tidak sampai di situ, Prof. Al Makin kembali nyantri pada profesor-profesor Barat di McGill University dan Universitas Heidelberg Jerman. Dengan bekal pendidikan di Timur dan Barat itu, membentuk pemikiran Prof. Al Makin yang makin mapan dan holistik menyisir isu-isu HAM, pluralisme, multikulturalisme, sejarah, dan tentu filsafat.

Hal ini tercermin dari beberapa karya tulis Prof. Al Makin yang saya baca. Anti-Kesempurnaan: Membaca, Melihat dan Bertutur tentang Islam benar-benar memperlihatkan dirinya sebagai “ilmuwan” yang ingin terus menggali sumur ilmu itu lebih dalam lagi.

Bagaimana tidak, membaca judulnya saja anda akan geleng-geleng kepala. “Islam” yang kita percaya sebagai agama yang sudah selesai itu ternyata tidaklah berhenti bertransformasi. Bahkan yang membentuk dan “menciptakan” “Islam” itu adalah kita sendiri sebagai seorang yang katanya muslim, yang tiada henti-hentinya. Setiap langkah, suara, pikiran dan gerak-gerik kita itulah yang membentuk “Islam”. (Hlm. 8).

Setidaknya ada beberapa sebab pernyataan itu saya amini. Pertama, Islam sebagai ajaran langit, tanpa ada pemeluknya di bumi sebagai pelanjut risalah itu maka tidak akan ada Islam. Seperti sebuah negara, jika tidak ada wilayah dan rakyat tidak bisa disebut sebuah negara. 

Kedua, karena manusia adalah makhluk budaya secara kodrati mampu berpikir dan menghasilkan sesuatu. Secara historitas-meminjam istilah Amin Abdullah- praktik ajaran itulah yang akan terus mempertahankan eksistensi Islam.

Tak berhenti di situ, sentilan “anti-kesempurnaan” Prof. Al Makin merambah pada karyanya yang lain. Yang kata sebagian orang kontroversi, yakni Nabi-Nabi Nusantara. Apa iya Nusantara menghasilkan nabi? Kata beliau, bahkan Nusantara-lah yang paling banyak menghasilkan “nabi”.

Jika dilihat dari perspektif sosiologi, munculnya nabi di Arab karena adanya upaya counter hegemony terhadap kondisi sosial dibawah rezim “despotik”. Jika dilihat dari sudut pandang yang sama, Nusantara juga adalah lahan subur bagi lahirnya “nabi-nabi” baru dengan segala tendensi dan justifikasi masing-masing.

Tamparan baru seperti ini membuat kita berpikir kembali, tafakkur lebih rendah lagi. “Khataman nabi” itu apakah benar-benar sudah selesai? atau dalam kategori lain akan tetap ada dan berproduksi “nabi” baru dengan pengikut-pengikutnya. Saya berandai-andai bahwa Marx adalah seorang “nabi” juga. Minimal “nabi” bagi pengikutnya.

Bukankah dalam sejarah sepeninggal Rasulullah memang umat Islam direpotkan dengan munculnya “nabi” baru. Musailamah tak berkutik setelah ditumpas Khalifah Abu Bakar. Dus, memori itu memang akan tetap dikenang sejarah.

Itulah bukti bahwa Islam tidaklah statis. Islam itu dinamis!. Dia akan tetap terbentuk dan semakin terbentuk. Sampai menemukan bentuk yang paling sesuai dengan apa dibentuk oleh masyarakat itu.

Selain mempropaganda biang “anti kesempurnaan”nya lewat pena-penanya yang membuat kita diam kemudian berpikir akhirnya bertafakkur. Jihad intelektual Prof. Al Makin dibuktikan juga dengan perhatiannya pada kelompok minoritas, terutama Ahmadiyah. Yang sampai saat ini belum mendapat ucapan “selamat datang” dari negara dan masyarakat.

Pembelaannya kepada Ahmadiyah adalah semacam aksi dari serangkaian teori dan narasi yang sudah lahap dan ditulis dalam beberapa bukunya. Terkait dengan itu, “kitab” Keragaman dan Perbedaan: Budaya da Agama dalam Lintas Sejarah Manusia menjadi bukti sahih bahwa hak-hak minoritas harus dibela dan diperjuangkan.

Walau terkesan penuh dengan narasi sejarah. Buku ini menasbihkan bahwa dunia tidaklah kita sendiri sendiri. Karena memang tidak sendiri, keragaman dan perbedaan itu sebuah keniscayaan yang kita harus terima.

Sebagai manusia yang “anti kesempurnaan” Prof. Al Makin membuktikan bahwa telah muncul lagi pemikir Islam Indonesia. Yang telah lama lesu sepeninggal Cak Nur, Gus Dur, Ahmad Wahib dan Mukti Ali. Angkatan baru pemikir Islam Indonesia era milenium mulai dari Prof. Al Makin, bersanding Prof. Mun’im Sirry, Gus Nadir hingga Yudi Latif.

Toh, mungkin juga semua pemikir cum pembaharu dulu sebelum nama-nama baru di atas, meyakini bahwa memang kesempurnaan hanya memang milik sang Khaliq. Sehingga mereka terus berusaha menyempurnakan dalam segala bentuk pemikiran dan tindakannya.