Barangkali musik sama tuanya dengan peradaban umat manusia. Akar musik modern dapat ditelusuri dari peradaban Yunani. 

Masyarakat Mesir kuno bahkan sudah mengenali himne tertentu. Dalam tradisi Hindu, Krishna sering digambarkan sedang bermain seruling. Tradisi Islam juga mengenal ordo sufi tertentu menggunakan musik dan tarian sebagai media untuk mendekatkan diri mereka kepada sang Pencipta, terlepas dari cara ini tidak pernah dipraktikan oleh Nabi Muhammad.

Tulisan singkat ini tidak akan mengulas sejarah musik, ataupun relasi musik dalam agama tertentu. Namun, ini merupakan tinjauan saya terhadap pandangan Imam al-Ghazali (1058-1111) mengenai musik, yang pernah diulas di dalam salah satu bab karyanya, Kimiya-yi Sa'ādat (Alkemi Kebahagiaan, yang dalam edisi Indonesia, sekaligus yang saya baca diterbitkan oleh Mizan tahun 2014 dengan judul Metode Menggapai Kebahagiaan).

Rasanya tidak perlu mempertanyakan kredibilitas Imam al-Ghazali. Dia adalah salah seorang filsuf, teolog, fuqaha, sekaligus mistikus besar dalam dunia Islam. Karya monumentalnya, The Revival of the Religious Sciences, adalah salah satu literatur penting dalam sejarah intelektual Islam, yang konon paling banyak dibaca setelah Quran dan Hadis.

Kalau kitab tersebut dianggap sebagai intisari ajaran Islam, sebagaimana yang dipahami oleh al-Ghazali, maka boleh dikatakan, Kimiya-yi Sa'ādat adalah intisari pandangannya soal kehidupan. Yang terakhir ini ditulisnya menjelang wafat.

Dasarnya, al-Ghazali tidak dikungkung oleh kekakuan pandangan yang secara ketat melarang musik semata karena Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkannya. Dia sendiri mengakui bahwa penggunaan musik sebagai sarana mencapai kebahagiaan dan kedekatan kepada Tuhan adalah hal yang inovatif (bid’ah) di dalam Islam.

Namun, bukan itu yang secara langsung menentukan halal atau haramnya musik. Al-Ghazali sesungguhnya berpikir moderat, keluar dari pandangan tekstualis yang hanya berdasarkan dalil menuju pandangan kontekstualis, dengan secara rasional melakukan penyesuaian pandangan, hukum, dan ketentuan, sesuai tabiat zaman. Tidak semua hal baru itu terlarang, selagi tidak secara langsung bertentangan dengan syariat, demikian tulisnya.

Dalam kondisi normal, musik atau apa pun yang sifatnya harmoni akan senantiasa berkorelasi dengan jiwa, perasaan, dan emosi manusia. Menarik, di sini al-Ghazali tampak tidak menyalahkan musik galau atas kegalauan dan kegundahan perasaan. Sedari semula, galau, gundah, bimbang, atau sedih itu boleh jadi sudah mengendap di dalam jiwa.

Efek yang ditimbulkan musik hanyalah membangunkan perasaan-perasaan itu semata, baik perasaan sedih maupun bahagia. Dalam bahasanya, al-Ghazali mengumpamakan hati manusia seperti batu api, yang sejak semula sudah mengandung api, tetapi tersembunyi, dan hanya bisa terpijar oleh musik.

Implikasinya, kalaulah musik erotis membangkitkan berahi di dalam jiwa, barangkali itu bukan karena musiknya, melainkan karena berahi itu sendiri yang sudah bersemayam di dalam diri. 

Namun, patut diingat bahwa dipancing atau tidak, nafsu itu sudah ada seiring dengan adanya manusia. Jadi, kurang arif pula apabila musik penggugah hawa nafsu diperdengarkan pada konteks yang tidak tepat, seperti yang dapat terdengar oleh umum, seperti di televisi atau kanal YouTube.

Musik, apabila sekadar hiburan, hukumnya menurut al-Ghazali adalah mubah (boleh). Sesuatu yang boleh bisa menjadi haram atau halal, tergantung konteksnya. Namun, dalam hal ini, al-Ghazali lebih banyak menjelaskan apa yang membuat musik menjadi halal daripada membangun argumentasi panjang lebar mengapa ia bisa haram.

Selain musik dan tarian penggugah nafsu, al-Ghazali hanya memberikan satu contoh lain dari musik yang haram, yaitu nyanyian kematian yang hanya akan menambah kesedihan. Dalam hal ini, dia bersandar kepada Quran: Jangan bersedih atas apa yang hilang darimu (Q.S. Ali Imran 3:153).

Namun, kalau kesedihan itu setelahnya dapat membuat kehidupan menjadi lebih baik, lebih bahagia, hal itu secara implisit dihalalkan. Misalnya, al-Ghazali menghalalkan musik sendu yang mengingatkan manusia akan dosa dan kegagalan hidupnya, tetapi ungkapan ini mesti dipahami dalam ajaran Islam keseluruhan.

Quran beberapa kali mengajak manusia mengingat dosa dan kesalahan di masa lampau; bukan untuk membuat seseorang berputus asa, tetapi sebaliknya ialah agar orang itu mampu bangkit, mengharapkan pengampunan, memperbaiki diri, dan menatap masa depan yang lebih cerah.

Baca Juga: Musik Itu Obsesi

Selain itu, ada beberapa contoh musik halal yang diberikan al-Ghazali. Misalnya, musik yang dapat mendorong seseorang untuk rajin beribadah, menyemangati orang yang sedang berperang di jalan Tuhan, musik gembira pada hari raya, pesta perkawinan, khitanan, atau musik perjalanan.

Musik dan Ibadah

Apa yang diulas di atas adalah pemikiran al-Ghazali tentang musik dalam kehidupan secara umum. Secara khusus, dalam kegiatan keagamaan, berkali-kali al-Ghazali memberikan sanggahan kepada mereka yang tidak mengerti, betapa pentingnya musik bagi kaum sufi untuk membangkitkan kecintaan mereka kepada Allah.

Di antaranya, ada dua hal yang bagi saya menarik. Pertama, musik sufi tidak ditujukan kepada pemula, dan tidak diperkenankan menerapkan penggunaannya tanpa bantuan pir (guru ruhani). Hanya mereka yang sudah benar-benar mampu dibangkitkan kecintaanya kepada Tuhan lewat musik yang dibolehkan masuk ke tahap ini. Ini untuk membedakan orang yang benar mengalami ekstase (kegairahan) mencapai Tuhan lewat musik dan mana mereka yang ‘sok’ membutuhkan musik.

Kedua, al-Ghazali menyikapi bahwa syair yang sering dikumandangkan para sufi dengan bahasa yang terkadang tampak menyesatkan tidak patut dipahami secara harfiah. Sufi sering kali menggunakan ungkapan suram, ambigu, dan bahkan erotis untuk menggambarkan pengalaman mistis mereka. Orang awam tidak dianjurkan untuk mendengarnya, karena bisa salah mengartikan.

Misalnya, pada syair sufi Engkau berubah dari kecenderungan-semulamu. Orang awam sering disesatkan beranggapan bahwa sifat Tuhan itu berubah-ubah. Barangkali kita pernah berpikir, hari ini Tuhan begitu baik, tetapi di lain hari Dia begitu cuek. Namun, syair itu bagi kalangan sufi sebetulnya menggambarkan betapa tidak konsistennya suasana hati manusia dalam menangkap cahaya Tuhan yang konstan, sehingga terkadang manusia melihat dirinya begitu terahmati, dan terkadang amat terkutuk.

Boleh jadi, di sepanjang hidupnya, al-Ghazali bergumul dengan ragam pandangan soal musik. Tentu, sulit untuk meringkaskan keseluruhan pandangan tersebut. Namun, boleh jadi, pikiran kita saja yang begitu rumit terhadap musik sebagai harmoni sederhana yang pernah dihasilkan pikiran dan perasaan manusia.

Baca Juga: Islam Musikal