Akulah bunga di tepi jalan itu 
Yang selalu kau puja dalam mimpi-mimpimu
Hingga memupuk setitik harapan tuk berjumpa
Lewat desiran angin nan manja 
Kala senja merajuk tuk dibuai
Dalam kesepian abadi

Akulah yang kau rindu di ujung malam
Kala angin menyapa kulit arimu
Dan membuatmu menggigil kedinginan
Sebelum perjumpaan itu terjadi
Mengabadikan kisah sendu 
Yang berdiam dalam jiwamu

Di tepi jalanan sunyi aku memang pernah berdiri
Meliuk manja pada angin yang menyapa
Kadang berlindung pada Sang Pertiwi
Merunduk sempurna menyentuh tanah
Yang mengeluarkan aroma kesetiaan
Menyaksikan alam menari

Di jalanan itu pula embusan angin menyadarkanku
Semilirnya menggerakkanku perlahan
Menyatakan sebuah kehidupan masih ada padaku
Meski Sang Surya beranjak menghampiri Sang Senja
Suara angin terus menderu di pendengaranku
Membangkitkan jiwa yang lelap

Kusaksikan pohon-pohon itu tumbang
Kala Sang Bayu dengan rupa badai datang secepat kilat
Menerjang dan memporakporandakan segalanya
Menjadikanku bersyukur menjadi bunga ilalang
Meski usang dan penuh debu
Setidaknya masih bertahan sampai kau menemukanku


Pertemuan di Ujung Senja

Malam yang dinanti akhirnya datang
Perjumpaan pun tak lagi terelakkan
Lilin-lilin menyala menyambutnya dengan syahdu
Bersama aroma wangi bunga sedap malam
Yang menyempurnakan warna senja
Menuju kepada Sang Penguasa Malam

Akulah bunga di tepi jalan itu
Di meja indah kau menempatkanku perlahan
Kau bersihkan debu yang melekat
Pada daun dan juga kelopak bungaku
Hingga cahaya berkilauan tiba-tiba berpendar sempurna

Malam itu aku hanya bisa pasrah dalam keheningan
Memandang takjub pada jemari tanganmu 
Yang sanggup memancarkan cahaya indah dari dalam diriku 
Laksana bintang baru lahir
Hingga aku tak percaya dengan penglihatanku sendiri

Detik berikutnya kuberanikan diri menatap wajah teduhmu
Yang begitu tulus memungutku
Dari jalanan sunyi yang sungguh senyap kala itu
Saat aku dalam kepasrahan menanti ajal
Terbaring sempurna dalam rebahan Pertiwi

Masih kuingat jelas pertemuan di ujung senja itu
Tak ada sedikit pun pamrih di sudut matamu
Yang jeli melihat bunga berselimut debu jalanan ini
Memetik dan memancarkan kembali cahayanya 
Menampakkan keindahan yang lahir dari jemari tanganmu


Akhir Penantian Sang Senja

Senja menggeliat manja kala sebagian jiwaku melayang
Saat itu kau rengkuh jiwaku di bawah redup cahaya lilin
Hingga kabut perlahan turut menyelimuti perjumpaan itu
Menyatukan jiwa yang terbelah
Mengakhiri penantian panjang sang senja

Akulah bunga di tepi jalan itu
Meski angin malam tak lagi mengenaliku
Pendaran cahaya dari sudut ruanganmu 
Telah menunjukkan jalan pada angin
Hingga persahabatanku dengannya tak putus begitu saja

Kita memang telah bersama saat angin menyapa di ujung senja
Dan bersatu kala angin badai itu datang
Kita pun telah menikmati gelora hidup
Dalam kedamaian yang suci
Ketika angin menerpa dengan sungguh dahsyat

Kini aku tak lagi terlihat di tepi jalan
Kesunyian tak lagi menyiksaku
Angin pun enggan mengusikku
Bersamamu kehangatan itu hadir
Menyempurnakan penantian panjang Sang Senja

Bersamamu kini aku berada
Angin memang telah membawaku kepadamu
Mengakhiri sebuah penantian yang sungguh panjang
Bersama senja yang setia menemani 
Menyaksikan jemari tanganmu
Memetikku dengan perlahan


Malam yang Indah 

Rembulan terhalang awan malam itu
Kabut pun turut menyempurnakan remang-remang cahayanya
Masih kuingat kau menyentuh daunku dengan lembut
Meski bunga sedap malam menebarkan aroma wanginya
Kau tetap tak beranjak dariku

Cahaya lilin tiba-tiba meredup
Semilir angin ternyata datang menggoda 
Masuk perlahan melalui celah jendela
Hingga seluruh ruangan hampir dihinggapi gulita
Meski remang-remang cahaya hanya menyisakan sedikit harapan
Kulihat kau masih menatapku lembut 
Dengan senyuman nan menawan

Aku mengatakan ini malam yang indah
Karena kabut pun turut mendendangkan lagunya yang lembut
Menghangatkan hati yang pernah beku
Menghidupkan kembali jiwaku yang hampir mati


Bisikan Malam

Kudengar sayup-sayup hatimu bergetar
Suaranya sangat jelas di antara desahan napasmu
Menyempurnakan cahayaku
Yang pernah padam dihempas angin malam

Mimpi-mimpi itu telah lama menanti
Mendesak malam membawaku padamu
Tapi selalu saja bertahan dalam impian
Dan penantian itu pun kembali senyap
Tak berujung nyata di pagi hari

Malam-malam kelabu terus datang mendekapmu
Kabut semakin menyelimuti dinginnya hatimu
Menyempurnakan kebekuan dalam jiwamu
Hingga kehadiranku seolah tiada arti
Menciptakan banyak tanya atas ungkapan rindu
Yang kau nyatakan malam itu

Aku tak percaya atas penantianmu
Meski sinar matamu selalu meyakinkanku
Dan kejujuran hatimu terpancar jelas pada mata teduhmu
Kerinduanmu memang sungguh nyata
Hingga Sang Malam pun turut membisikkan kebenaran itu padaku

Aku menjadi tak yakin dengan cahayaku 
Karena ia memang telah lama padam dari diriku
Sentuhan jemarimulah yang membuatku bercahaya
Melahirkan kecantikan bunga di tepi jalan
Sampai kusadari cahaya itu bukanlah dari dalam diriku

Kaulah sumber cahaya itu
Aku hanya membiaskannya
Aku adalah cermin bagimu
Saat debu tak lagi melekat pada daun dan kelopak bungaku
Cahaya itu membias sempurna
Seolah keluar dari dalam diriku


Jalan Cahaya

Jalanan itu telah benar-benar sepi 
Secangkir kopi hitam pun sudah tak bersisa
Menemanimu duduk menikmati malam adalah kebahagiaanku kini
Hingga pagi menjemput
Kubersandar bahagia di pundakmu

Tak ada lagi ragu dalam gerak daunku kini
Juga tak ada lagi gelisah pada kelopak bungaku
Akulah bunga di tepi jalan itu
Bersamamu telah kulihat jalan cahaya
Menuju kesempurnaan hidup

Cahaya itu ada di arah barat daya
Saat jemarimu menunjukkan cahaya itu
Terang telah ada padaku seketika
Dan aku tak harus berjalan menuju ke sana
Mengingkari garis hidupku sebagai tanaman

Akulah bunga ilalang itu
Yang setia berdiri pada tanah suci
Dalam dekapan cahayamu
Hidupku telah sempurna
Menjadi bunga yang indah
Penuh rasa syukur tak terkira

Sejak kau petik hari itu
Aku telah menjadi bunga di hatimu
Mencairkan kebekuan di jiwamu
Meski tak seharum bunga sedap malam
Menjadi berarti bagimu adalah kebahagiaanku
Dan tak ada lagi kebahagiaan lainnya selain bersamamu

Akulah bunga di tepi jalan itu
Yang pernah tertutup debu dan gemerlap dunia
Tak ada catatan indah tentangku
Sebelum kepasrahan dan keikhlasan menerima hidup mengubah segalanya
Karena cahaya tahu di mana ia akan membias