Di depan akuarium kau duduk, memirsa ikan mas di dalamnya yang bersuka dalam gugup, jelajahi dinding kaca tertutup. Hanya ada dua ekor ikan mas di dalam akuarium kecil ini, dengan rona kuning merah-merah, merekah—berkebalikan dengan nuansa sintetis yang mendominasi ini kamar hijau nan cerah.

Ikan mas ialah makhluk hidup. Ikan mas sudah tentu bukan pajangan belaka—bukan berarti bahwa ia bukanlah karya seni, karena semua yang ada di semesta ialah karya seni—namun, demi penampilan dan harga jual yang tinggi, para peternak tega menyuntikkan fluoresen ke tubuh makhluk-makhluk malang ini.

Perlu diketahui bahwa ikan mas ialah hewan yang peka—tak ubahnya anjing maupun kucing. Ikan mas memerlukan stimulasi dari ikan lain dan lingkungan sekitarnya agar bisa tetap waras. Mereka dimaksudkan untuk tinggal di alam bebas, bukan di tangki setengah meter persegi.

Dua ikan mas kasih pamer kilap, menangguhkan sirip transparan bak sayap malaikat. Yang satu menatap dinding kaca, memirsa dia punya bayang sendiri sahaja. Yang satu lagi berenang … memindai dinding kaca dengan tenang; memilah; mencoba dapati retak pun celah—melarikan diri tujuannya.

Kebosanan dapat dicirikan sebagai kedataran emosional, di mana seekor ikan mas tak punyai cukup stimulus di lingkungannya, dan kerap kali memperagakan perilaku berulang, semisal mondar-mandir di dinding kaca tanpa musabab pasti. Bisa kaubayangkan betapa stresnya ikan—yang habitat aslinya ialah alam bebas—harus terkungkung di dalam akuarium setengah meter persegi.

Terisolasi: itulah kata kuncinya. Terisolasi di dalam hubungan dapat membuat mati rasa; terisolasi di alam bebas sama dengan dimangsa. Ruang berenang yang tak memadai bisa merusak perkembangan fisik ikan mas. Karena kononnya, ikan mas bakal tumbuh sesuai ukuran tangki—bahwa jika kau mengecilkan ukuran tangki, ikan mas bakal menciut.

Dua ikan mas di dalam satu tangki, berbagi ranjang dan ruang sekian lama ini. Mereka berdua saling mengenali, saling mengetahui belakang sirip masing-masing—setelah saling melingkari jutaan kali, sekian lama ini. Tentu, terkadang debat sering terjadi, debat dalam lengang, debat tanpa banyak berpatah kata, debat tentang hal yang sama, tentang lengang yang sama, dalam lengang yang sama.

Mereka berdua diuji … oleh apa yang terjadi di luar ranjang.

Mereka berdua terberkati … oleh apa yang tak pernah terucapkan.

Karena, dua sejoli saling memahami akan apa yang tak pernah terucapkan.

Maka, dua sejoli canggung dalam komunikasi,

kaku oleh apa yang bakal diucapkan sang kekasih.

Lengang-canggung berbicara menggunakan bahasa puisi. Kendati memang membuat tak nyaman, ia juga sebetulnya menyadarkan—menyadarkan dari lubang ilusi. Ia bukanlah produk kesendirian, tidak sama sekali. Ia merupakan produk dari berkutatnya dua individu—tak ubahnya penyair kepada pembaca, dan pembaca kepada penyair.

Layaknya puisi, lengang-canggung mampu menunda komunikasi dengan jeda baris, garis putus-putus, ruang kosong, atau frasa yang tidak pada tempatnya … yang berdaya membikin lengah pembaca. Ia menyamar dengan halus, tak terlampau banyak kasih pamer jurus. Meski begitu, bukan berarti bahwa lengang-canggung ialah penyebab terputusnya komunikasi. Tidak, ia hanya menangguhkan sahaja. Ia tak memanifestasikan kegagalan komunikasi.

Setidaknya,

lengang-canggung mengisyaratkan bahwa

ada kesamaan antara mereka berdua.

Lengang-canggung

ialah sesuatu yang dua sejoli bagi di atas satu panggung:

berbagi lengang, berbagi canggung—

baku lirik sekali-dua kali;

berat di lidah barangkali;

sendiri punya isi kepala digali;

Lengang-canggung ialah benang tak kasat mata yang menarik mereka satu sama lain—menarik mereka pada ikatan yang rumit, yang tak diinginkan, yang tak terelakkan. Demikian kuatnya benang itu hingga mampu membelit pita suara, membikin mereka berdua kehabisan kata.

Lengang-canggung bisa terasa menguras batin, apalagi selepas menyaksikannya merutinkan ritual, apalagi selepas sanggama yang antiklimaks. Demikian pula dengan puisi: menggiring nalar ke gua-gua gelap yang tak pernah ingin dimasuki.

Untuk menganalogikan lengang-canggung sebagai puisi—alih-alih sebagai distraksi—membuka cakrawala baru bagi dua sejoli: saling menjelajahi batas perasaan masing-masing, saling melintasi laman kosong di benak masing-masing, saling bertukar puisi yang tak bisa diparafrasakan.

Manusia cenderung suka dengan puisi yang renyah baca, dengan halaman yang mudah dibalik. Namun, lengang-canggung menawarkan solusi untuk berhenti membalik halaman barang sebentar saja, berhenti pada apa pun yang ada di depan mata, lalu mencernanya dari sudut pandang yang beda—hanya kamu berdua.

Kamu berdua diuji … oleh apa yang terjadi di luar ranjang.

Kamu berdua terberkati … oleh apa yang tak pernah terucapkan.

Karena, dua sejoli saling memahami akan apa yang tak pernah terucapkan.

Maka, dua sejoli kaku dalam komunikasi,

kaku oleh apa yang bakal diucapkan sang kekasih—

salah lokasi.

Ya, salah lokasi. Akuarium jelas bukan habitat asli ikan mas—mereka dipaksakan berada di sana. Setiap harinya, mereka harus berhadap-hadapan dengan penonton yang sama: kamu.

Dan kamu jua sejatinya salah lokasi, Kawan.

Tak bisakah engkau cium?

Habitat aslimu bukanlah duduk termangu di depan akuarium.