Mahasiswa
1 tahun lalu · 116 view · 3 min baca · Agama 69926_65605.jpg
foto pengungsian jamaat ahmadiyah/ Suara Lombok 2010

Sikap Intoleransi Terhadap Jamaat Ahmadiyah di Lombok

Jamaat Ahmadiyah dan sikap Intoleransi

Keberadaan pulau Lombok dengan prestasi yang gemilang hari ini menjadi sebuah kebanggan bagi kami sebagai masyarkat Lombok terhadap keberhasilan pemerintah Nusa Tenggara Barat, tapi di sisi lain dari keberhasilan tersebut, dikenalnya pulau seribu masjid itu hari-hari ini menjadi sebuah keberhasilan pemerintah Muhammad Zaenul Majdi atau yang sering dikenal dengan sapaan Tuang Guru Bajang (TGB).

Namun prestasi yang dimiliki itu, tidak berbanding lurus terhadap nasip Jamaat Ahmadiyah, tertanggal dari tahun 2006 hingga sekrang nasip warga Ahmadiyah tersebut tidak mempunyai kejelasan kependudukannya, begitupun dengan nasip pendidikan dari anak-anak Jamaat Ahmadiyah

Pengusiran secara paksa terjadi terhadap warga Ahmadiyah yang berdomisili di lombok, kejadian ini menjadi sorotan media dunia pada waktu itu seperti kedutaan besar Amerika Serikat secara khusus menyoroti berbagai kekerasan bernuansa agama yang marak terjadi di NTB. Beberapa media asing menjadikan masalah ini sebagai Headline News dengan menulis; Ahmadiyah Homes Attacked in Lombok. Dampak negatif dari konflik Jemaat Ahmadiyah dengan masyarakat non Ahmadiyah di Lombok adalah semakin merenggangnya hubungan masyarakat setempat.

Sikapn Intoleransi dan diskrminasi terhadap warga Ahmadiyah merupakan suatu hal yang biasa dan sekaligus sebagai konsekuensi logis dari berbagai rangkaian pristiwa yang mereka alami. Kekerasan yang dialami oleh Jamaah Ahmadiyah jika dibandingkan dengan kekerasan yang dialami oleh kelompok-kelompok minoritas lain berbeda dalam beberapa hal.

Misalnya tidak ada sekalipun perlawan dari mereka selain bertahan menjaga fisik dan bahkan tidak ada satu kasus pun kekerasan terhadap Jamaah Ahmadiyah, karena Jamaah Ahmdiyah yang melakukan kesalahan. Mereka selalu diserang dari secara sepihak dari pihak yang menolak mereka.

Hal ini tidak terlepas dari ajaran Ahmadiyah tentang kemanusian dan konsep dakwah yang diajarkan dalam ajaran Ahmadiyah. Dalam konsep keagamaan yang dianut oleh Ahmadiyah, berbeda dengan Islam mainstream dalam konsep jihad, perbedaan tersebut terletak pada pemaknaan jihad itu sendiri

Sedangkan makna Jihad dari sudut pandang Islam mainstream bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk peperangan. Jihad dalam kontek peperangan fisiklah yang menjadi perbedaan antara Islam mainstream dengan ajaran Ahmadiyah, ajaran Ahmadiyah tidak setuju dengan konsep peperangan fisik, mereka lebih mengutamakan dakwah dengan cara yang halus dan damai.

Dalam konteks hubungan dengan negara, di beberapa negara, mereka selalu mentatati setiap pemerintahan yang sah tidak pandang dari agama manapun suatu pemimpin. Namun di beberapa negara, perlakuan Negara terhadap mereka sangatlah diskriminatif, termasuk di Pakistan dan juga Indonesia. Tidak ada perlindungan yang memadai dari negara untuk mereka, penggusiran, pembunuhan, terjadi tanpa pembelaaan negara.

Tentu ini merupakan kekerasan negara walaupun tidak dalam bentuk fisik secara langsung, namun dengan pembiaran dan tidak ada pembelaan ataupun perlindungan hukum sedkitpun dari negara atas kekerasan yang di alami.

Lombok, mempunyai dampak positif dan negatif dari kejadian ini. Di antara dampak positif dari Jemaat Ahmadiyah adalah semakin meningkatnya rasa solidaritas di antara sesama warga Ahmadiyah, terlebih setelah mereka berada di pengungsian. Mereka yang tadinya berada di tempat berbeda-beda, akhirnya disatukan oleh tempat yang sama yaitu Wisma Transito di Mataram, karena tempat dan aset milik warga Ahmadiyah sudah tidak ada lagi.

Pemerintah kota awalnya tidak bersedia menerima dan mengizinkan mereka tinggal di wilayah kota Mataram. Alasannya karena mereka pengikut Ahmadiyah dan organisasinya merupakan aliran keagamaan yang menyebarkan ajaran sesat. Meskipun pada akhirnya, pemerintah kota Mataram bersedia menampung mereka di Wisma Transito, Majeluk Mataram, setelah disepakatinya beberapa persyaratan.

Teringat dengan steatmen Gutman yang mengatakan ketika negara memberikan prioritas tertentu pada kelompok tertentu, maka, telah terjadi subordinasi pada kelompok yang lain dan ketidakadilan telah dibiarkan. Keadilan demokratis berarti memperlakukan setiap individu sebagai warga yang setara dengan kebebasan dan kesempatan yang sama. Bila kelompok identitas diberikan hak-hak yang berbeda maka dampaknya adalah mensubordinasi individu-individu yang tidak masuk dalam kelompok tersebut.

Sedangkan menurut Lewis Coser, konflik tidak selamanya negatif atau disfungsional untuk sistem di mana konflik itu terjadi, melainkan bahwa konflik itu dapat mempunyai konsekuensi-konsekuensi positif atau menguntungkan sistem itu.

Pemikiran awal tentang fungsi positif konflik sosial berasal dari George Simmel, tetapi diperluas oleh Coser, yang menyatakan bahwa konflik berfungsi untuk, pertama Membantu mengeratkan ikatan kelompok yang terstruktur secara longgar, kedua Konflik dengan satu kelompok dapat membantu menciptakan kohesi melalui aliansi dengan kelompok lain, ketiga dalam satu masyarakat, konflik dapat mengaktifkan peran individu yang semula terisolasi, dan terakhir  Konflik dapat membantu fungsi komunikasi.

Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu Egoistis
padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya
tapi engkau tidak mempedulikan mereka sedikitpun.

AA Navis.

Artikel Terkait