Bodoh. Satu kata yang tepat menggambarkan Nania saat ini. Ia merutuk keras atas kebodohan yang dibuatnya. Ia rindu, sungguh rindu.

Belum lama ini ia merasa sesak yang teramat sangat karena kehilangan. Anak itu. Sang komentator Nania yang pergi tanpa pamit. Nania tidak mempermasalahkannya, karena Nania memang tidak ingin ada kata pamit, dan berharap tuhan masih berkenan mempertemukan mereka kembali.

Namun yang paling menyesakkan adalah, baru lima menit yang lalu anak itu berada di sampingnya, menghabiskan setengah hari bersama Nania dan kemudian ia sudah menghilang tanpa jejak. Ya, bahkan ia membawa kabur jejaknya.

Sesaat kosong. Hati Nania serasa hampa. Ia tak sanggup membendung air matanya atas rasa itu. Ia bagai dibekap, dicekik, hancur lebur tak bersisa. Ya tuhan, apa yang terjadi pada dirinya?

Setelah apa yang dilewatinya bersama sang komentator kecilnya; tertawa, bercanda, marah, kesal, ribut, dan hingga kini, kehilangan. Semua itu menjawab jelas perasaan Nania. Ia menyayangi terlalu dalam anak itu.

***

Padahal ia hanya pulang. Dan pasti akan kembali lagi ke sini. Tapi kenyataannya, ia kembali ke sini tidak lagi di samping Nania, bersama Nania. Tiada pula hari-hari kacau Nania yang diciptakan anak itu. Tiada pula komentar pertama untuk Nania. Tiada pula ribut kecil Nania bersama anak itu. 

Nania menangis tertahan di kamarnya. Ia masih kesal terhadap dirinya yang mudah menjadi bisu. Padahal hanya berjarak sejengkal, namun lidah dan langkah serempak kelu. Nania hanya bisa menatap punggungnya. Balutan kemeja kebesaran serasa menghangatkan tubuh anak itu yang semakin tinggi.

"Iya, nanti aku tinggi mengalahkan Nania!"

Terngiang-ngiang ucapan anak itu dulu, saat Nania bercerita ia tidak menyangka bertemu kawan kecil lamanya yang sudah berubah hingga sulit dikenali, terutama tingginya yang melebihi Nania.

Nania tidak sabar menunggu saat di mana anak itu tumbuh besar. Saat di mana Nania menjadi lebih pendek, lebih kuntet, lebih bantet, dan pasti anak itu mengejeknya puas.

Nania masih terisak. Apa yang tadi ia lakukan? Bukankah ia rindu pada sang komentatornya itu? Lantas, ketika tuhan menyibakkan jalan anak itu datang kepadanya, Nania hanya bisa diam, tak sanggup, tidak memedulikannya. Apa sulitnya menyapa, "Hai"?

Apa karena rindu yang sudah membuncah hingga mematikan semuanya?

Pada saat inilah rasanya Nania ingin meminta waktu kembali mundur lagi. Pada saat inilah kata "penyesalan selalu datang diakhir" itu seribu persen benar buat Nania.

Nania menghela napas, menghapus pipinya yang basah. Ia lelah, pasrah. Tidak tahu lagi kapan waktu yang tepat bertemu anak itu berpihak lagi padanya.

***

Nania Rinjani Putri Lestari. Mahasiswi tingkat akhir jurusan ekonomi yang memilih keputusan hidupnya untuk mengabdi di bidang pendidikan; mengajar di sekolah dasar. Dan ia mengajar di level kelas tertinggi, kelas VI. Sudah hampir memasuki tahun ketiga ia menjadi seorang guru sd.

Memang salah sambung kuliah jurusan ekonomi tapi bekerja di bidang pendidikan. Belum resmi lulus sarjana pula. Tapi karena kesempatan emas yang menghampiri Nania, maka gadis itu mengambilnya dengan berbagai alasan yang sudah dipertimbangkan matang-matang.

Dan keputusan itu telah sampailah ia bertemu dengan seorang anak laki-laki paling menyebalkan, rusuh, tukang komentar, namun seorang anak laki-laki paling pengertian yang pernah Nania kenal.

Dari anak itu Nania belajar untuk lebih terbuka. Ya, Nania memang agak tertutup, sulit untuk dekat dengan orang lain dan pecinta kesunyian. Tapi bersama anak itu Nania merasa bebas. Bebas tertawa, bebas berpendapat, bebas berkomentar, bebas menangis, bebas menjadi diri sendiri.

Dari anak itu Nania juga belajar untuk selalu tulus dalam setiap hal yang dilakukan. Menjadi seorang yang hidup penuh dengan ketulusan-ketulusan.

Nania tidak mengerti mengapa ia begitu peduli terhadap anak itu. Apapun yang dilakukannya tak pernah luput dari perhatian Nania. Apapun yang terjadi padanya, Nania berusaha tetap ada untuknya. Yang jelas, Nania memahami anak itu lebih dari siapapun, maksudnya, Nania beruntung menjadi orang yang mengetahui sifat lain anak itu yang bahkan tidak ditunjukkannya kepada siapapun.

Berawal dari tatapan matanya. Entah mengapa, Nania merasa, dari sorot matanya menggambarkan jelas betapa luasnya samudera hati anak itu. Dia seorang anak yang baik hati. Dan selama proses mengenalnya, Nania benar.

***

Mencintaimu seumur hidupku
Selamanya setia menanti
Walau di hati saja seluruh hidupku
Selamanya kau tetap milikku

Hanya satu yang tak mungkin kembali
Hanya satu yang tak pernah terjadi
Segalanya tak akan di hatiku
Selamanya


Mencintaimu.
Satu yang tak mungkin kembali -- perasaan Nania yang menyayangi begitu dalam untuk anak itu, tidak hilang, tidak pula Nania berniat mengembalikannya setelah ia berikan secara utuh pada anak itu.

Mencintaimu.
Hanya satu yang tak pernah terjadi.
Perpisahan.
Nania berharap, tak akan ada kata perpisahan untuknya bersama anak itu. Dan tidak akan ada lagi kehilangan yang melumpuhkan Nania.

Apakah Nania salah memiliki perasaan itu? Nania paham akan waktu yang belum tepat untuknya. Anak itu hanya seorang anak kecil yang akan tumbuh menjadi seorang laki-laki berhati lapang, berjiwa besar.

Apakah Nania salah menyayanginya?
Meski Nania tahu ia sudah terjebak, Nania tetap melanjutkan. Ia tidak ingin menyerahkannya pada waktu, jika pun ia harus menanggung beban rindu seperti kata Dilan. Jika pun ia harus sesak tiap kali mendapati kenangan anak itu di seluruh sudut yang ia datangi.

Kita lihat, seberapa kuat Nania mampu bertahan dengan kekeraskepalaannya. Seberapa mampu sanggup Nania tetap bergeming di tempatnya berdiri. Tuhan tahu apa yang Nania mau, pun butuhkan. Nania akan berhenti jika tuhan yang berkata untuk berhenti. Selama hati Nania masih yakin, maka tak ada yang bisa meruntuhkan pertahanannya.

Ya, Nania memang keras kepala. Dan Nania juga tahu betapa dirinya amat bodoh.

***

"Wlek... Aku tinggal!" Dia tertawa sambil membawa kabur sepeda Nania. Gadis itu tengah kualahan dengan bawaan di kedua tangannya.

"Ngeselin ih!" teriak Nania. Tapi gadis itu juga ikut tertawa.

Nania berjalan menuju tempat tujuan sambil berusaha menjaga posisi tubuh agar barang di tangannya tidak jatuh.

Dari kejauhan, tampak anak itu mengayuh sepeda Nania, menghampirinya lagi.

"Sini aku bantu!" Dia mengambil sebagian barang dari tangan Nania.

"Kamu bisa? Kamu kan bawa sepeda"

"aku bisa kok!" jawabnya enteng.

Anak itu. Seberapa pun seringnya dia pergi meninggalkan Nania, Nania tahu, anak itu tidak benar-benar pergi. Dia akan kembali datang padanya.

Semoga itu untuk sampai kapan pun.