Tulisan adalah bahasa yang paling sempurna untuk menyatakan isi hati di kala lisan masih terus bungkam. Maka dari itu, sengaja aku menuliskannya di sini perihal cerita yang tak pernah bisa terlisankan.

Hidup memang dinamis. Kemarin begini, sekarang begitu. Tidak pernah ada prediksi akurat yang bisa meramalkan kehidupan. Meskipun peramal masih tetap eksis di jagat ini.

Hidup sejatinya selalu belajar. Makin banyak lembar buku yang terbuka, makin merasa bodoh. Makin banyak bertemu orang, makin tidak tahu apa-apa.

Seperti problema saat ini, di tengah pandemi Covid-19 ada kegaduhan Omnibus Law. Bisa jadi, seperti jatuh tertimpa tangga. Eh, tertimpa dan ditimpakan berbeda maknanya lho.

Demo di mana-mana, semua story WhatsApp penuh dengan pendapatnya masing-masing, dan keresahan meliputi hati (kami) yang tidak tahu apa-apa. Aku (kami) resah, sebab tak tahu-menahu tentang semua ini.

Ini terjadi begitu tiba-tiba tanpa aba-aba. Padahal, lomba lari saja harus ada aba-aba terlebih dulu. Satu, dua, tiga, yaaak!

Seharusnya, jika berdasarkan pelajaran materi di sekolah, apa-apa harus diabakan sebelumnya. Sebelum ujian akan ada pemberitahuan. Jika gagal ujian pun, akan diulang kembali dan ada pemberitahuannya pula.

Tapi, ini beda. Ujian hidup memang berbeda, tiada pemberitahuan sebelumnya. Manusia harus belajar untuk memahami kehidupan dengan persiapan yang sama sekali tak memadai. Mereka harus berjuang dengan kekuatan mental masing-masing.

Adu pendapat dan saling ingin benar sendiri. Bagai serpihan bunga Dandelion tertiup angin alias kabur kanginan.

Manusia meromantisasi tiap duka dengan cara berbeda. Termasuk dalam rangka Omnibus Law ini. Banyak yang demo dan berujung dapat (atau cari) gebetan. Apa-apaan ini, kenapa uwu sekali?

Begitulah kenyataannya, kita terlalu berduka. Hingga kehilangan prioritas yang sebenarnya. Cari jodoh susah, bisa jadi keadaan rumit Omnibus Law bisa dijadikan ajang cari jodoh. Sambil menyelam minum air, tapi jangan banyak-banyak, nanti kembung! Kalau sudah sakit susah mengobatinya, jadi lebih baik mencegah daripada mengobati. Aih, aku jadi ngelantur.

Sudah kubilang, aku tak tahu apa-apa. Sebenarnya, aku juga ingin pasang story di WhatsApp tentang berita faktual. Biar kelihatan keren gitu, tapi ternyata aku hanya bisa berkata dalam hati, "Aku tidak tahu apa-apa!"

Di tengah romantisasi cari jodoh, ada lebih banyak manusia meromantisasi kedukaan hidupnya saat ini. Yang sudah lebih dulu berduka sebelum Covid-19 dan rumitnya Omnibus Law. Bayangkan, seperti apa dukanya saat ini? Miris dan mengiris hati.

Barangkali, yang mewah bukan lagi emas, tapi makan sehari sekali itulah mewah. Barangkali, yang berharga bukan permata, tapi kuota untuk belajar daring anak-anaknya.

Sebagian manusia dipenuhi ketidaktahuan akan sesuatu yang sedang terjadi. Apa, mengapa, dan bagaimana bisa terjadi. Sebagian manusia tidak peduli itu. Yang mereka tahu hanya bisa makan hari ini atau tidak. Dan, sebagian manusia lagi tidak ingin tahu keadaan sesama spesiesnya.

Apakah manusia kehilangan kemanusiaannya?

Ah, tidak! Manusia masih tetaplah manusia. Masih makan, minum, buang air, tidur, dan sebagainya. Lalu, apakah ini yang dikatakan sebagai manusia? Kelinci peliharaan di rumah juga begitu.

Manusia dikatakan sebagai "manusia" sebab dia memiliki nurani dan logika. Berarti, jika salah satunya saja yang dimiliki belum bisa dikatakan sebagai manusia. Misalnya, memiliki nurani saja atau logika saja. Apalagi yang tidak memiliki keduanya. Ups.

Sekarang, banyak (yang disebut) manusia berjuang dengan hal-hal dasar dalam hidup, seperti untuk mengganjal perut. Dalam hal ini saja, pusingnya setengah mampus. Jangan harap untuk hal-hal lain bisa dipikirkan. Sudah tentu tiada ruang.

Tapi, tidak semua demikian. Ada juga yang ruangnya lapang selapang-lapangnya. Hanya saja mereka dipenuhi kepura-puraan. Pura-pura lapar, pura-pura merasa terhimpit, dan pura-pura miskin juga. Bagai pepatah kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.

Ah sudahlah, aku pusing. Aku ingin meromantisasi kedukaanku sendiri. Aku ingin mencari tahu, "Apakah aku manusia atau bukan?" Jangan-jangan, aku juga kura-kura.

Manusia tidak bisa melihat punggungnya sendiri. Manusia butuh cermin untuk membenahi riasan wajahnya. Oleh karena itu, manusia tidak pernah bisa menilai dirinya sendiri. Jangan-jangan, aku pun hanyalah berspesies kura-kura.

Manusia juga sering dipenuhi praduga. "Jangan-jangan ..."

Karena itu, pintar akademik saja tidak berlaku untuk menyusuri kehidupan. Kehidupan ini aneh bin ajaib. Penuh kejutan yang mengejutkan. Tidak seperti akademik yang terstruktur rapi.

Manusia akan terus dipenuhi pertanyaan seumur hidupnya. Kepala mereka akan dipenuhi dengan benang-benang halus yang makin lama makin kusut, bukan terurai.

Bahkan, mereka sendiri tidak pernah tahu kenapa-dilahirkan-sebagai-manusia.

Suatu hari nanti, akan tiba saatnya bagi manusia-manusia untuk mengetahui rahasia kecil dari kehidupan ini. Mungkin bukan sekarang, tapi nanti. Bukan tidak pasti, tapi mungkin saja terjadi.

Bukankah kehidupan ini penuh dengan kemungkinan-kemungkinan?