Untuk membatasi perilaku konsumtif, seseorang bisa mencoba belajar masak sendiri. Nah, untuk membatasi imajinasiku yang terlampau liar, aku ingin belajar menulis.

Tentu, yang kuberi nama 'menulis' ini bukan hasil iseng saja. Dia berproses panjang melalui perenungan-perenungan. Karena aku ingin tulisanku bernilai guna untuk yang menyempatkan membaca.

Menulis untuk dibaca orang lain tidak sama dengan menulis untuk dibaca sendiri; diary. Banyak hal kupertimbangkan, apakah bermanfaat atau tidak; apakah menyakiti orang lain atau tidak; dan apakah-apakah lain yang akhirnya memutuskanku membagikan tulisanku.

Isi tulisan yang bermanfaat bagi orang lain sangat membahagiakanku. Karena itu tujuanku: berbagi. Aku belum bisa berbagi dalam wujud materi, sehingga aku berusaha berbagi dari tulisan-tulisan ini.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” (Pramoedya Ananta Toer)

Apakah aku ingin abadi sebab tulisan-tulisanku? Untuk apa?

Dahulu, aku pernah sepemikiran dengan Pram. Akibat itu, justru aku tak bisa menulis. Aku kehilangan kata-kata karena ingin 'abadi'. Rupanya telah terjadi penolakan oleh kata terhadap ambisiku.

Melalui proses perjalanan panjang, aku selalu ingin menulis. Itu tidak pernah berubah, hanya saja aku kehilangan selera untuk 'abadi'. Bukankah kita semua fana? Tuhan saja yang abadi.

Aku tidak masalah hilang dari masyarakat dan tak dicatat sejarah. Untuk apa semua itu bagiku? Aku dengan kefanaanku hanya ingin berbagi. Atau, mungkin aku yang tidak tahu apa-apa ini telah salah paham terhadap maksud Pram.

Mungkin maksudnya 'menulis adalah bekerja untuk keabadian' ialah semangat menulisnya jangan sampai hilang. Jangan sampai berubah fana, seperti keinginanku yang tak ingin abadi.

Satu kata saja bisa menimbulkan banyak tafsiran. Sederhananya, ada konotatif dan denotatif. Konotatif atau bukan tafsir sebenarnya dan denotatif atau tafsir sebenarnya. 

Misalnya, kata bunga bisa ditafsirkan konotatif sekaligus denotatif. Secara konotatif, bunga bisa saja dimaknai gadis, sesuatu yang indah, dan lain-lain. Sedangkan secara denotatif, bunga dimaknai sebagai bagian organ tumbuhan yang akan membentuk buah.

Abadi yang dimaksud Pram pun demikian. Kata itu tak sebatas satu penafsiran. Apalagi sebatas penafsiran dangkalku yang mengartikan abadi sebagai denotatif. Perbedaan sudut pandang kadang tak bisa dihindari dan itu sah-sah saja.

Memangnya aku akan menentang Pram dengan pernyataannya itu? Untuk apa kulakukan? Atau aku harus mengamini pernyataan itu? Tidak juga.

Karena perbedaan itu indah dan tidak selalu harus diperdebatkan. Karena memahami tulisan pasti menimbulkan banyak perbedaan sudut pandang, wajar-wajar saja. Faktanya, tulisan bukan seperti perhitungan yang menghasilkan kepastian.

Loh, kenapa malah menyenangi sesuatu yang tidak pasti? Tulisan tidak selalu bisa dicocokkan dengan 'sesuatu yang tidak pasti', karena tidak semua pas memakai ilmu cocoklogi. Tulisan itu unik, kadang kita harus berpikir keras untuk tahu apa yang dimaksud si penulis.

Kenapa tidak mempelajari perhitungan saja yang pasti? Bukan bermaksud menyudutkan, tapi untuk apa mempelajari sesuatu yang sudah pasti? Misalnya, besok hari Kamis, terus mau apa?

Atau mungkin cocoklogi-ku salah, ya? Maafkanlah. Ternyata aku salah paham lagi. Aku sadar, kita tidak akan pernah tahu 1 tambah 1 menghasilkan nilai 2 tanpa mempelajarinya.

Pendapatku penuh subjektivitas bahwa tingkat keabadian yang dikatakan oleh Pram juga mengandung tingkatan. Jika aku menulis dan abadi, apakah seabadi Pram? Belum tentu. Lah, aku ini siapa? Kan, tidak mungkin mengkhayal seperti itu?

Bisa dikatakan bahwa bentuk ketidaksetujuanku adalah langkah sadar diri agar tidak jatuh terlalu tinggi. Sayang sekali, jika aku berharap abadi, ternyata aku sefana ini. Beda kasta jauh sama Pram.

Pengetahuanku juga sedikit sekali. Hanya saja orangnya nekat, asal kupikir itu bermanfaat, kenapa tidak? Jika menyinggung seseorang, ya tidak apa-apa. Sebuah ketersinggungan mengindikasikan bahwa dia merasa salah, tapi gengsi mau mengakui.

Apalagi sampai antikritik dan sedikit-sedikit tersinggung. Hidup aja sendiri di hutan sono, gih! Bedakan, dong, mana yang kritik, mana yang hinaan. Kritik bersifat baik dan hinaan bersifat menjelekkan.

Kalau misalnya orang memberikan kritikan, itu tandanya dia peduli dengan kita. Tapi, kalau sudah hinaan, itu tidak ada efek positifnya sama sekali. Dan, menulis yang berisi kritikan itu artinya bentuk kepedulian terhadap perubahan-perubahan positif.

Keterbatasan lisan tidak mengurangi untuk berbagi dan peduli. Selalu ada cara menyampaikan aspirasi, yakni melalui media tulis. Menulis juga media berkomunikasi.

Oleh karenanya, tidak mudah mengomunikasikan isi pikiran kita kepada pembaca. Bagaimana caranya pembaca merasa dia 'mendengar' langsung si penulis, meskipun dalam bahasa tulis. Sebab, menulis untuk dibaca orang lain lebih riskan dibandingkan menulis diary.

Memberikan kenyamanan terhadap pembaca juga wajib diperhatikan. Tidak bisa asal-asalan bisa nulis, terus bisa seenaknya sendiri. Buat apa menulis kalau tidak ada yang baca? Pedih juga, sih!

Jadi, tidak sesimpel apa pun belajar menulis itu. Semua perlu perenungan yang dalam. Apalagi jika aku ingin abadi, egois sekali aku ini. Belum tentu tulisanku bermutu atau tidak, lalu aku ingin abadi.

Kalau Pram ingin abadi, wajar. Kalau aku ingin abadi, itu kurang ajar! Maka maafkanlah.