Hanya itu yang aku punya; kematian. ia sedang menunggu lewat tombol-tombol digital Tuhan. seperti genggam aku di sini, menekan doa ke dimensi lain

dari bahasa pemrograman – sebuah tubuh mengodifikasi kenangan masa lalu. hanya itu yang aku tunggu, hidup. aku tidak datang dari masa depan. tetapi aku simpan hidupku kembali

dari arsip film biografi - aku menonton diriku mengulang-ulang, aku memutar lahir dan kematian bersama-sama. 

Bumi Menangis

Kemarin, aku lihat bumi berlinang-linang di jalan raya. lagi-lagi, sebuah pagi adalah wanti-wanti 

aku panggil jason ranti untuk menyanyikan persoalan hidup, tetapi liriknya berkias frontal 

aku panggil afrizal malna membaca puisi, tetapi pengendara saling tabrak lari 

aku panggil kiai mustofa bisri, kultum pagi malah jadi haluan 

aku panggil kematian, orang-orang berhenti mendahulukan surga. apakah bumi sudah terisi neraka?

Jalan Schlumberger

Ada orang; sedang menertawakan hidup dari kumpulan kesedihannya yang mencetak jalan schlumberger. ia berhenti, tetapi kematian memanggil dirinya dari lima langkah ketika hendak bunuh diri 

ada orang; sedang mengoleksi kesedihannya di ujung jalan schlumberger. tetapi ia kembali, berjalan menapaki jejak-jejak kehidupan yang kehilangan langkahnya sendiri. 

Arsip Non-Liris Yang Terbuang

Bagaimana kalau sebuah hari bergoler malas membentuk spasial di matamu? apakah jari tangan meminjam kegiatan di tahun depan? tetapi bagaimana kalau gelas menyimpan kekosongan di kupingmu? apakah suara pecahan menginjak tujuan hidupmu? 

ini adalah puisi terbuang; menyimpannya pada arsip kegagalan. kamu hanya bergendak sedikit saja. di situ, bayi-bayi menyesali takdirnya sendiri. apakah puisi ini tersimpan dalam kumpulan nama-nama kematian? 

bibir-bibir terasa pecah ketika menyebut solilokui. aku bukan aktor kehidupan yang membicarakan keresahan sendiri lewat kerumunan massa. lingkungan di sini berguguran, seperti pohon tumbang; aku membicarakan masa depanmu. apakah kamu mengerti puisiku? tidak perlu begitu paham 

sementara kasur busa dirancang dari kotoran musang. tidurlah di situ, tidurlah. kamu hanya perlu mengetahui wewangian yang sesungguhnya.

Pulang Adalah Memesan Waktu

Ya, pulang adalah memesan waktu. aku menunggu di seberang jalan. ya, lampu taman itu. adalah keredupan cahaya insan selepas malam 

di sini aku memesan pulang dari kaki-kaki langit. tangga-tangga itu terdengar purba di telapak surga 

ya, aku melihat hijau tanpa aura warna lain. hijau yang tenang tak terjamah di wajahku. aku menambal keresahan di wajah orang utan

ya, di sini aku menemukan kebahagiaan yang tak lain kebebasan 

ya, bersenang-senang ya. keharmonian meminjam kata-kata melayang di ketinggian. jatuh ia tidak jatuh. kata-kata seperti kiasan dari rentang angan-angan 

ya, aku pulang. aku memesan waktu di keheningan. di situ, ya.

Klandasan 8 Malam

Jam 20:20 - aspal menggulung jalanan klandasan dari terpal-terpal penjual makanan 

kita menghirup hidup, tetapi jalan raya menjadi kematian bagi kendaraan masa kini

kosong atau (non-identity);
tiba-tiba kita melayang-layang di udara

menjelajah dan mencari masa depan seseorang – macet warnanya, merah rasanya.

Ini Sebuah Cerita

Ini sebuah cerita dimana anjing putih menggonggong jalanan schlumberger, batu-batu menendang haluannya sendiri, anak-anak membanting badan ultraman; pecah. di depan tong sampah, kemanusiaan menelantarkan tangan-tangan tak berdosa

aku takut dan semakin takut, orang-orang menertawakan kehidupan ketika rumput tak lagi dimakan sapi dan kambing. sementara pasir dan debu hinggap ke daun mangga; kusam 

ini sebuah cerita dari nurani yang suram. ia sedang duduk di sofa empuk, lalat-lalat dan kecoak tidak lagi bercium mesra, cicak-cicak tidak lagi mandi dengan air kopi, sapu membuang identitasnya ke parit belakang rumah. kotoran di mana-mana, kotoran di mana-mana 

semakin maju kita di sini, semakin hilang hati ini. semakin pesat kita di sini, semakin licin otak ini 

ini sebuah cerita, ketika manusia bingung arah pulang; pemakaman telah dulu digali mayat-mayat yang hilang

hilang – lengang dan samar; kotoran tidak lagi mengetahui debu dan pasir.

Menengok Kematian di Bawah Pohon

Di mana itu jalan-jala, kalau tuju enggan malu. meringsing aku - menunduk-ringkuk di bawah pohon. berkaca aku; dalam rimbun daun bagaimana kematian bisa dekat di bawah ini

aku telah sampai, kematian sudah menjadi keadaan lain. apakah musim demikian?

Virus (Disease)

"Wabah sedang bermain petak umpet dalam bahasa manusia" - namun, apakah aku sedang hidup? lima detik dari sana; telah menjadi permainan di bahu kirimu, aku tak mengenal insang di tubuh laut, udara yang kau hirup membayar 1.450 limbah residu karbit. putih; putih yang tak mengenal hitam membayar hormat dikeraguanmu. namun apakah aku sedang hidup? tidak, sepuluh detik dari sini; kandang babi membuat rumahnya sendiri

kita tidak benar-benar mencintai imajinasi kawanku. aku tidak mati oleh wabah; bersin di mulutku menjadi kejahatan di manusia lain

"pakai maskermu! jaga jarak dan cuci tangan!" tetapi apakah aku benar-benar mati kawan? tidak, tidak ada kematian. kaki dan tangan kita sudah menjadi makan siang di kandang babi.

Potret Separuh Keraguan

Aku terbangun dari sebuah kesalahan. samar; memejamkan bentuknya di mataku. tarik-ulur; kesunyian palsu

aku terbangun dari sebuah kesalahan. seperti menghirup hidup, lalu mengembus optimisme dari bahasa tubuh – non (identity)

aku terbangun dari sebuah kesalahan. tidak ada 2021, aku mengaku kalah – aku tidak datang dari masa depan.