Lagi; Satu buku sebelum tidur, lewat mimpi yang mengejar hidup. Aku tidak punya kata-kata di bawah sana, kesadaran meninabobokan diriku pada 1998

(Lahir dan pergi)

Kemudian aku terbangun, bersama 32 tahun kepala negara; turun. Entah bernyanyi memanggil kepergian, atau menyiasati tanggal-tanggal kepulangan

(Lahir dan pergi)

Di sini, seorang aku; menulis puisi dan membekap payudara ibu. Dari kota yang kehilangan papan. Dari kota yang kehilangan mapan — balik

Aku membadik, arah menangis; hardik

Aku kembali dari cengkeraman senjata. Hutan. Codet. Membelot dalam desing kesunyian

(Lahir dan pergi)

Aku mendesis
kepalan ini mengeremus
cobaan (itu dan nanti)

Aku meringis, kepalang diri menyudahi
kehidupan (itu dan nanti) 

Di singgahan kuburan; denda pati.

Ada keraguan
di ujung bantal 

Ia selalu bermimpi kelabakan

Aku mau susu lagi; hari ini
tetapi payudara ibuku
dirampas oleh tuan pembungkus kardus 

Orang-orang itu mempergauli ibuku.
Mimpi-mimpiku, di buku-buku puisiku

Hari ini aku menangis lagi,
tidak minum susu lagi,
tidak tidur lagi 

Hari ini aku berkemas lagi, memelas lagi,
lahir dan pergi kembali, itu dan nanti; jadi mati.

Penerawang Mahakam

Aku melihat sebuah negeri; berdiri — tangan-tangan buntung. Mulut tersumpal kekayaan. Suara porak-poranda; hilang tak terdengar di telinga

Aku mendengar sebuah negeri; berdiri — seniman mati kelaparan. Waktu yang menjerat, mengutip bahasa dari lubang anjing tanah 

Aku menjeput sebuah negeri; berdiri — lalu berbelasungkawa dan membakar kata-kata. Sungguh haru, meringis tenang 

Aku merasakan sebuah negeri; berdiri — ia gagap-gempita; ketika puisi dan penyair hanyalah serakan sampah yang tidak dipungut biaya.

Program Singkat 28 Kg

Memasang puing metal dalam tubuhku, seperti melewati aroma kematian masa depan

Kutinggalkan sejenak 28 kg tubuhku di jalan Banda, lalu kubiarkan diriku menjadi orang gila yang menerobos kehidupan 

Di hari itu, apa yang bergerak di kaki — tidak menjadi pagi lagi.

Badan Penasihat Pengangguran

Seorang mengetok kepala di sini, atau semacam palu yang membunuh penyintas optimisme para pencari kerja 

Sebuah demotivasi masa depan seperti menyadarkan umat manusia dari sorongan ambisi

Hidup untuk hari ini
keterpaksaan yang lazim
menabak bahasa-tubuh dari kalimat
aku kehilangan pengalaman

Kini mereka makin bergoler saja
sebuah demotivasi disalahgunakan
dengan bermalas-malasan
menghirup hidup

"Aku tidak bekerja, tidak berusaha
tetapi malam ini aku ingin nongkrong saja
mencari motivasi — lewat kelakar buaian manusia"

"Aku gelisah, pasrah
motivasi dan demotivasi
menjadi penyintas kutipan-kutipan di jalan raya" 

Spanduk terus tercetak; kalah dan mengalah

"Aku ingin mengalir saja
tidak berbuat apa-apa
hidup menandangi sarat dan syarat mengemis di jalan raya!"

Warna Warta 

Buta warna; hilang — menyerap pita mesin tik dari kata-kata yang muntah di kubangan televisi

Aku bersin di muka kepala negara; nyawa manusia beralih profesi menjadi tukang peti di kuburan tak bernama

Bumi menangis. Mayat-mayat seperti jagung rebus yang direndam dua minggu lalu.

Batas Kematianku di Pintu Biru

Halo, tolong aku(!)  di sini – ada yang meledak

Di luar kamarku; sebuah pisau tertancap peringatan

Kematian yang berjarak; seperti godaan setan yang menyalak

Ah! aku tidak takut mati. Pisau yang menusuk jantungku, mengirim darah berkali-kali

Apakah rasa surga seperti ini? 

Menerjang Gabir

Cerahmu menyimpang; Berau melancong, diselip klotok — yang terbias laju ombak

Nelayan payang bersiah ke sisi pantai; berangkat dengan sejambar konservasi, melibat jaring angkat, memilah botol bekas, serta-merta laut rembang

Kerang berkamuflase — menyilik corak dermaga, tangkai kayu mengubah pasir putih seperti sedia kala menyimpan misteri kedalaman lara

Pemandangan; inai-inai gemulai, lewat desir sore, aku menggamat kepiting pantai

Ya, pulauku kudengar kau sedang merinai..

Tabiat 

Aku bosan dengan senja alam, yang sering orang lain dambakan disaat ia berpura-pura menjadi bijaksana

Aku enggan berdiskusi bersama kopi, walaupun semua orang senang dengan pahitnya rasa di lidah

Aku mau yang berbeda, yang tidak pernah dibahas lewat pikiran-pikiran manusia

"Aku; lebih suka tengah malam — ditemani buku dan air putih. Hanya itu yang aku mau; sunyi, tenang, damai, yang menggambarkan kepribadianku."

Memerankan Malam

Aku melihat malam; tidak tidur. Di situ ada bintang, mengedari hari esok, kelamnya menjaga rembulan, lewat kidung mata pencaharian nelayan

Aku memotong malam
hitam; luruh menggores tanggal
dari bising kesunyian
dari hening kendaraan
yang mogok, yang bersandar
pada halamannya masing-masing

Aku mendengar malam,
dalam dada yang meringis
gelandangan mendengkur
di pondok merica menumpuk
memupuk resah menelungkup — menagih langkah kelelahan hidup

Aku merasakan malam,
menebar, menyebar haluan
menebah, memapah kesangkilan

Aku menyandera malam;
seperti udara menampung hujan, rintik yang ringkih, membasahi langit
ketika menangis

Aku mengabadikan malam,
mati pandang yang terlelap, masih hidup di alamatulhayat

Aku menyangsikan malam; kalam. Hingga pagi datang lembut — sebelum malam benar-benar terebut

Aku melihat malam. Aku memerankan malam. Aku menjadi malam. Aku adalah malam itu..