Malam itu, saat ibuku mengajak untuk pergi menemuinya, aku masih capek. Itu setelah aku berjuang untuk mengeluarkan diri dari sebuah ruang sempit dan dibawa ke tempat yang ramai. Aku harus berusaha sendiri sebab ibuku tidak mau mengeluarkan tenaga. Bahkan ia cenderung untuk menahanku tetap di dalam.

Selang 4 bulan setelah benih yang di tanam itu tumbuh, aku datang. Saat itu aku langsung sadar kedatanganku tidak disambut antusias. Ibuku sedih sepanjang hari. Untuk makan saja ia tak ingat, apalagi untuk membantuku memenuhi nutrisi yang aku butuhkan.

Dalam keadaan serba pas-pasan. Aku berjuang untuk mencari sumber nutrisi yang ada. Meskipun sisa-sisa makanan yang ada menipis sebab ibuku jarang memasukan makanan ke mulutnya. Aku tetap mengais sisa yang ada untuk memenuhi tubuhku. Bagaimana pun aku harus bisa melewati ini dengan baik.

Rasa bahagia aku dapat tatkala ibuku duduk di halaman belakang. Ia duduk di sebuah kursi rotan yang di beli kakekku. Memandang ke arah tembok yang membatasi halaman rumah ibuku dengan tetangga.

Di momen seperti itu ibuku nampak seperti orang yang tidak memiliki masalah. Ia nampak senang, garis senyum di wajahnya muncul. Aku pun terbawa olehnya, di ruang sempit itu aku tersenyum, perasaan menatap masa depan hadir di benakku.

Lelaki anjing! Ia bahkan lebih anjing dari anjing-anjing yang berkeliaran di jalanan. Dari mulutnya keluar bualan-bualan yang mengaburkan orang. Dari balik celananya berdiri seonggok daging yang tiba-tiba mengeras. Dari otaknya keluar nafsu-nafsu berahi. Ia bukan pahlawan tanpa tanda jasa. Ia lelaki yang memang tidak memiliki jasa apapun, kecuali jasa pengantar benih.

Suatu hari aku tersentak saat guncangan hebat terjadi. Ibuku ambruk setelah ia minum di kamar. Aku pun seketika merasakan pahit yang luar biasa. Ibuku mencoba untuk pergi, namun ia tidak berhasil melakukannya.

Beberapa kali ia mencoba untuk pergi. beberapa kali juga ia mencoba untuk menyuruhku pergi dari ruang sempit itu. Dan beberapa kali juga ibuku tidak berhasil melakukan niatnya. Aku masih bertahan sampai waktunya aku keluar.

Aku menunggu saat ibuku duduk di kursi itu. Kursi yang akan membawa aku dalam suatu ketenangan. Saat di mana aku bisa leluasa untuk bergerak. Saat ibuku tidak merasakan kehadiranku di dalamnya.

Meskipun orang-orang jijik terhadapnya. Aku tidak merasakan hal demikian. Meskipun tak satupun kata keluar dari mulutnya sejak kita bertemu. Tapi ia adalah sosok yang senantiasa mendengar apa yang kukatakan dengan penuh semangat dan rona ingin tahu yang tinggi. Aku dan dia seperti seorang kekasih, kata Bi Imas, yang selalu menyajikan es kelapa atau sirup saat aku berkunjung.

Semakin hari aku semakin memenuhi ruangan tersebut. Batang dan ranting mulai aku rasakan tumbuh dan menyusunku. Perlahan bentuknya semakin jelas. Aku semakin bersemangat untuk terus hidup.

Satu hal yang membuatku tidak semangat melanjutkan hidup adalah kenyataan bahwa aku akan hadir di dunia dengan seorang orang tua tunggal. Sebab, aku khawatir ketunggalan itu akan berdampak buruk terhadap diriku. Meskipun orang yang menanam benih sebelum aku datang itu masih ada. Tapi aku pesimis bahwa dia akan ikut terlibat dalam kehidupanku.

Lelaki anjing itu harus bertanggung jawab. Ia harus merasakan menjadi bahan gunjingan tetangga. Istrinya, anaknya, orang tuanya dan mertuanya harus tahu seperti apa lelaki itu sebenarnya. Yang setiap pagi pergi ke sekolah bukan untuk mengajar ilmu. Tapi menabur benih di tiap tanah yang subur.

Jika ibuku sedang memikirkan lelaki itu ia akan sangat geram. Aku merasakannya di dalam. Dinding ruangan ini seolah mengerut yang semakin menghimpit. Sumpah serapah keluar dari mulutnya. Mata penuh amarah dan dendam menyelimutinya.

Jika begitu biasanya berakhir dengan kutukan yang aku terima. Ia mengutukku dan berkata aku hanya seperti pohon yang tidak seharusnya ada. Tanah tempat benih itu di tanam harusnya adalah tanah tandus, gersang, tidak memiliki unsur hara yang tidak memungkinkan setiap tumbuhan hidup di situ, kecuali kaktus dan kurma.

Benturan seketika aku rasakan. Saat tangan ibuku memukul kulit yang kini mulai menggelembung. Perlahan air mulai keluar dariku. Bercampur bersama caian yang menjagaku dari benturan, menjagaku agar memiliki ruang gerak, menjaga suhu agar tetap ideal, juga mendeteksi jika terdapat kelainan genetik.

Aku begitu nyaman bersamanya. Desas-desus tentang dia adalah hasil akibat pesugihan nenek moyangnya degan iblis tidak menggangguku. Aku melihatnya sams sepertiku, seperti orang lain, seorang manusia yang hidup, tumbuh dan tetap bernafas. Tatapannya sejak pertama kali aku melihatnya tidak berubah. Tetap tenang dalam kesendirian.

Seperti yang aku katakan, aku keluar dari ruangan sempit itu dengan usaha sendiri. Ibuku tidak mengeluarkan sedikit pun tenaga untuk membantu. Tenaga yang aku dapat selama berada di ruang itu habis dalam sekejap. Tak ada lagi sisa tenaga setelah aku berhasil keluar. Bahkan untuk sekedar suara tangisan sebagai penanda aku keluar pun tak ada. Aku terlalu capek untuk itu. Aku hadir seorang diri, tanpa bantuan siapa pun.

Ibuku membiarkan aku tergeletak begitu saja. Seperti dirinya yang tak peduli, aku pun demikian. Aku diam dengan cairan berwarna merah menyelimituku.

Tiba-tiba sepasang tangan membawaku malayang. Kehangatan menjalar di seluruh tubuhku. Tanpa ada sehelai kain yang menutupi. Ibuku membawakuu pergi keluar. Aku merasakan panas yang lain, panas yang langsung mendarat di kulitku.

Suara teriakan ibuku terdengar. Berisik sekali. Orang-orang pun mulai berkumpul. Mereka berkerumun sambil berbicara satu dan lainnya. “Lelaki anjing yang tak tahu diri keluar, kau!” Aku mendengar ibuku berteriak. Setelahnya ibuku berbicara sangat cepat, penuh amarah, nada bicaranya tinggi, aku tidak bisa mendengar jelas setelahnya.

Orang-orang harus tau siapa yang menanam benih di tanahku ini. Mereka harus melihat bahwa orang yang selama ini berbudi luhur, berpengetahuan luas, dan disegani sebagai sosok yang mencerdaskan ternyata tidak lebih baik dari seekor anjing. Ia harus menerima gunjingan tetangga. Keluarganya harus menanggung malu seperti yang ibu dan ayahku rasakan. Lelaki yang tatapannya sudah aku lihat sejak umur 5 tahun harus menerima balasan yang setimpal atas perasaannya. Perasan marah dan cemburu yang aku lihat sejak ia tahu ada benih yang di tanam di tanahku.

Aku terbangun di malam hari, setelah ibuku berteriak di rumah si penanam benih. Meskipun menjadi aib bagi keluarga, ibu, nenek dan kakeku tetap menjagaku. Kehangatan yang berebda aku terima dari tangan ketiganya.

Ibuku begitu menyanyangi kehadiranku. Buktinya ia ingin mengajakku untuk bertemu ayahku. Saat itu ibuku meminta maaf sebab ia belum bisa membawaku ke pangkuan ayah.

Aku senang saat ibu mengajakku menemuinya. Malam itu aku melihat ibuku menggantungkan tali yang di ikatkan ke kayu yang menafan langit-langit rumah. Aku tak sabar ingin bertemu dengan ayahku.

Pertama ibuku mengangkatku dan memasukan kepalaku ke lubang tali yang dibuatnya. Awalnya terasa sakit saat tali tersebut mulai mengencang di bagian leher. Tapi aku tak peduli, sebab sebentar lagi aku akan menemui ayahku. Selanjutnya, ibuku menyusul dengan cara yang sama di sebelahku. Kami berdua akhirnya bisa melayang. Kami bertemu kembali dan segera menemui ayahku. Aku senang sekali.